Showing posts with label kuliah. Show all posts
Showing posts with label kuliah. Show all posts

Jun 10, 2017

First Jurding

Selasa itu aku berniat maju jurnal reading dengan dokter spesialis anak.

Sebelumnya sudah beberapa kali ingin maju, tapi entah kenapa selalu sulit. Entah beliaunya keburu pulang, entah kami yang kurang gercep, entah karena ada acara dan sebagainya.

Maka pagi itu, ketika akan maju, kuputuskan memperpanjang dhuha. Melafalkan doa yaa muqollibal quluub dan sholawat sambil membayangkan wajahnya.

Sebakdanya, hati lebih tenang alhamdulillah.

Ketika akhirnya bertemu beliau jam 8 kurang, kami (aku dan 1 temanku), tidak berani untuk langsung bertanya: "dok kami bisa maju kapan?" Karena masih ada residen dan koas lain yg menghadap beliau.

Kami hanya memojok dan berusaha mengikuti beliau. Sambil tak hentinya dzikir minta dilapangkan.

Benarlah. Akhirnya kami ikuti laporan residen, ikut beliau visit, ikut melihat beliau ttd di status pasien. 

Setelah selesai, setengah berlari, aku memberanikan diri menghentikan langkah beliau dan bertanya. Dan Masya Allah dengan senyumnya beliau singkat menjawab: sekarang aja yuk, di atas.

Maka kemudian langkah-langkah sebakda itu serasa lebih ringan. Alhamdulillah.

Alhamdulillah akhirnya kami bisa maju juga. Padahal, kemarin kami berdua post jaga, yang artinya, energi kami post jaga tak seprima biasanya. Alhamdulillah Allah telah menguatkan, melapangkan, dan memudahkan semuanya..

Ditulis oleh Asma Azizah
RSDM, 7 Juni 2017

Mar 30, 2017

Cerita Kompre FK UNS Batch 1 2017

Bismillah..
Sedikit ingin berbagi kisah tentang perjuangan kompre. Semoga bermanfaat dan berharap ada syukur yang selalu hadir tiap membacanya.

Ujian Komprehensif atau yang biasa disapa kompre adalah ujian yang harus dilalui semua mahasiswa kedokteran UNS sebagai syarat masuk pendidikan profesi (koas). Isi ujiannya kurang lebih mencakup semua materi yang sudah dipelajari selama preklinik 7 semester. Ada ujian teori dengan sistem CBT (computer based test) dan ujian praktek alias OSCE.

Bukan hanya ujiannya saja yang penuh pressure, tapi persiapan menghadapi ujian itu, jujur saja, menghadirkan banyak air mata.

Tidak percaya diri, merasa tidak sanggup menghadapi tekanan, merasa minder melihat teman-teman yang terlihat lebih oke persiapannya. Dan banyak hal lain. Pada kasus pribadi, setiap saya mempersiapkan ujian ini, setiap itu pula terngiang tentang ketulusan dan keikhlasan niat untuk menjadi dokter.

Persiapan ujian sudah dilakukan dari januari. Kami mulai membentuk kelompok dan membuat jadwal belajar. Hari ini blok ini, besok blok itu, di sela-sela diisi dengan tentiran osce kompre oleh mas mbak koas. Pas buat jadwal rasanya ringan banget, prakteknya? Eng I eng.. karena mayoritas dari kelompok kami belum selesai skripsi dan naskah publikasi sebagai syarat SKLS (surat keterangan lulus skripsi, digunakan sebagai syarat SKL yg nantinya dipakai untuk daftar kompre), maka jadilah jadwal itu tidak bisa dipenuhi dengan baik. Ada saja yang izin setiap harinya. Bahkan seringkali kami tidak jadi belajar bareng karena kendala urus skripsi dan naspub dan sebagainya. Akhirnya mendekati kompre CBT (tahun ini komprenya CBT dulu), akhirnya malah pada belajar sendiri karena harus super ngebut ngejar semua blok.

Hari H CBT (9 Maret 2017)
Alhamdulillah sy dapat jatah CBT kloter terakhir yaitu jam 13.30 – 16.30. Yah setidaknya masih ada waktu untuk ikhtiar dari pagi – siangnya. Setengah jam sebelum ujian, sy sampai di lokasi ujian. Ternyata, ujian CBT hari itu molor karena kendala server. Kami baru masuk ruangan sekitar jam 14.40 an. Dan jujur saja, karena ini pertama kalinya cbt, rasanya agak palpitasi. Tunggu, sepertinya bukan karena cbt nya, sebenarnya palpitasi karena ketar ketir dengan soalnya, khawatir nanti tidur apa engga di tengah2 ujian (konyol sih tapi sy beneran mengkhawatirkan ini). Tapi Alhamdulillah akhirnya ujian bisa dilalui walaupun dengan banyak soal yang dikasih flag (tanda) karena dilewat atau karena ragu.

Begitu CBT selesai, seharusnya saya langsung berlari buat persiapan OSCE KOMPRE (yang alhamdulillahnya saya dpt jatah ujian hari jumat alias hari terakhir). Tapi nyatanya, saya butuh 3 hari untuk mengumpulkan semangat dan meluruskan niat untuk mempersiapkan osce. Yap, sempat berpikir untuk tidak osce dulu. Alasannya klasik: belum persiapan (waktu itu buku UBA-udah belajar aja- masih mulus banget padahal udah h-seminggu), kalaupun lulus belum siap buat koas (rencana mau kabur dulu nyiapin mental), dan alasan-alasan lainnya. Tapi akhirnya, yasudahlah, bismillah saja. Anggap aja osce kompre adalah bagian dari pendidikan, bukan hanya pendidikan akademik tapi juga pendidikan mental yang Allah ingin kita merasakannya. Dan anggap saja persiapan ini adalah bagian dari tholabul ilmi yang semoga, dihitungNya sebagai jihad.

Singkat cerita, selama 5 hari persiapan osce saya pindahan sementara ke haura, kosbin fk yang isinya juga teman-teman yang akan osce kompre hari jumat. Sempat juga kami meluangkan seharian untuk kumpul sama teman2 1 shift jumat untuk belajar bareng. Dan lucunya, osce terakhir selalu menghadirkan cenayang. Hehe. Semacam mencoba membaca pola dan mengira-ngira kasus apa yang akan keluar walaupun kami tahu, tidak boleh bergantung dengan perkiraan, tetap harus belajar semua. Dan.. akhirnya datang juga hari itu

OSCE KOMPRE (17 Maret 2017)
Ini urut sesuai dengan stase yg sy masuki

1. Stase Special Sensory (Mata-Kulit-THT)
Pas baca soal, tiba-tiba ngeblank. Blank dengan nama penyakit. Tiba-tiba semua penyakit rasanya hilang dari kepala. Tapi, Bismillah..

Anamnesis pelan-pelan, pemeriksaan dengan deskripsi UKK (ujud kelainan kulit) yang seadanya, simulasi palpasi, usulan pemeriksaan penunjang (tzank test), edukasi. Dan karena ga diminta resep akhirnya cuma edukasi biasa aja.

Entah karena stase pertama dan mungkin karena emang kurang belajar, sy nervous banget. Nyebut UKK sampai salah-salah dan nyaris pas nyebut diagnosis juga kebolak-balik. Ragu-ragu antara herpes zoster atau varicella. Tapi ala kulli haal Alhamdulillah selesai. Pengujinya sempat nanya beberapa pertanyaan, dan alhamdulillahnya pas ada pertanyaan yg gabisa, dan jujur bilang “maaf dokter saya lupa namanya”, alhamdulillahnya beliau ga langsung menjatuhkan mental. Bahkan di akhir beliau ngasih saran untuk bicara dengan bahasa pasien, dsb dengan kalimat yang sangat membangun. Jazaakumullah khairan dokter. Sikap dokter benar-benar membantu saya menghadapi stase selanjutnya.

2. Stase obsgyn
Selesai kasus kulit, langsung masuk obsgyn tanpa ada istirahat (istirahat semenit pas duduk sama baca soal ding hehe).

Kasusnya pasien hamil datang dengan keluhan nyeri panggul / perut (lupa).  ANC pelan2 dan berusaha setenang mungkin. Lanjut Pmx fisik leopold. Leopold 1, dengan dodolnya aku bertanya ke penguji: “leopold 1 nya bagaimana dokter?”, alhamdulillahnya dokternya ngasih tau walau sambil senyum2. “abis ini nebak sendiri ya”. Yasudah habis itu bener2 diraba sendiri, alhamdulillahnya keraba. Pas mau auskultasi DJJ (denyut jantung janin), “kamu mau pake apa itungnya?” nahloh. “dihitung 5 detik pertama, 5 detik ketiga dan kelima dokter” “nah iya, kamu ngitung 5 detiknya pake apa? Kan kamu gapake jam tangan” NAHLOH! Sesaat diem, trus nyari jam dinding siapa tau bisa ngitung pake itu. Ternyata, jam dindingnya pas di atas kepala saya, jadilah akhirnya senyum senyum lagi (padahal aslinya pengen nanya ke dokternya: DJJ nya berapa dok? Tapi ga berani karena dokternya nyuruh itung sendiri). Akhirnya.. “yaudah dek, coba kamu dengerin, trs kamu tebak deh, kalau tebakanmu bener nanti saya kasih nilai maksimal” waduh. Akhirnya nembak 120 dan salah. Hehe yasudahlah.

Abis itu mau lanjut VT tapi galau. Di VT ngga yah? Akhirnya beraniin nanya dan kata dokternya gausah. Yaudah, balik lagi ke meja, ngitung HPL (hari pasti lahir) trus lanjut edukasi. Intinya nyerinya karena hamil aterm dan kepala janinnya juga udah masuk pintu panggul, cuma belum ada tanda2 persalinan kaya his/kontraksi, lendir darah atau ketuban pecah. Pasien diminta istrihat dsb dsb.

Dan, di stase ini sisa waktu banyak banget. Alhamdulillah probandus/pasien dan dokter penguji humble banget. Sampai bisa ngobrol, dokternya juga ketawa2, sampai ngomongin kerjaan, nyantai banget masya Allah..

3. Stase bedah-uro
Lanjut stase ini agak shock karena dapet kasus mammae. Padahal prediksi awal dapetnya bedah/hecting/jahit aja. Oke. Anamnesis pelan-pelan, tapi gabisa pelan karena curiga kanker jadi yang ditanya banyaaaaaak banget termasuk riwayat kanker keluarga, mentruasi pertama kapan, riwayat melahirkan menyusui.

Pas mau vital sign, tidak seperti 2 stase sebelumnya, stase ini.. bener2 ngukur tensi pasiennya dan yang bikin harus banyak sabar adalah, sedetik abis ngelepas stetoskop dari ngukur tensi, dokternya ngasih tau tensi berapa. Hahaha terimakasih dokter :)

Lanjut pemeriksaan mammae. Mengais ingatan SL dan osce mammae beberapa tahun lalu. Dan ini bener-bener harus nemu sendiri benjolannya. Kalau pas osce mammae jaman dulu udah ada patokan tuh, bagian ini benjolannya berapa, ukuran segede apa, letaknya dimana (letak anatomis) dst. Jadi ngerabanya udah yakin pasti ketemu, dan pas laporan juga lancar. Nah pas osce kompre ini, lupa semua hafalan itu huhuhu. Pokoknya dipalpasi aja sampai ketemu. Pas ketemu yaudah diomongin aja sebisanya. Akhirnya ya entahlah sepertinya deskripsi letak anatomis dan ukuran yang disampaikan sangat ngaco sampai bikin kening penguji berkerut.

Lanjut nulis rujukan. Dan bel berbunyi. Hwoa panik. Rujukan belum selesai. Akhirnya seadanya banget nulisnya sampe disingkat2 trus sambil nulis rujukan sambil cuap-cuap pemeriksaan penunjang. Pokoknya di dalem ruangan sampe mentok, sampe ada perintah untuk orang setelah kita masuk, baru keluar.

Pas keluar, masuk ke stase istirahat. Disitu baru inget kalau belum nyebut diagnosis banding. Nice. Alhamdulillah.

4. Stase kardio-respi
Selesai istirahat masuk stase kardiorespi dengan kasus lelaki 68 thn sesak. Dari baca soal kayanya ini PPOK. Tapi entah kenapa pas lagi anamnesis, ragu-ragu. Ini kasus kardio atau respi. Huwaaa. Sebenernya udah ngira ini kardio. Soalnya pas nyuruh probandus buat buka baju dan periksa posterior, probandusnya agak canggung gitu hehehe tapi karena ragu.. akhirnya aku Cuma diem dan bilang ke penguji: “maaf dokter. Saya bingung ini saya harus pemeriksaan jantung atau paru”. Akhirnya dokternya minta pemeriksaan 22nya. Pas dada posterior belum selesai diperiksa, dokternya minta anterior aja. Pas anterior periksa, aku bingung lagi. Ini aku harus respi atau kardio? Yaudah akhirnya itu pemfis seadanya banget.

Pas duduk ke meja pasien, langsung penguji bacain semua hasil pemeriksaan fisik. Dan itu, aku beneran ga bisa nangkep. Di telingaku terdengar penguji bacain semuanya dengan sangat cepat. Dan semua kalimat itu rasanya berputar-putar di kepala. Pas sadar, aku buru2 nulis di kertas beberapa hal yang penguji sampaikan. Selesai penguji baca, aku diem. Pas ditanya diagnosisnya, aku kacau jawabnya. Pas ditanya, yang mana aja yang abnormal, aku juga cuma bilang yang bagian akhir2 kaya batas jantung (yang sempet kecatet itu, sisanya nguap). Dan waktu habis. Penguji sempet ngejar dengan pertanyaan kaya ddx sama terapi, tapi kujawab dengan kacau juga dan akhirnya aku keluar dari ruangan itu dengan melas banget dan minta maaf entah udah kaya apa mukaku.

5. Stase neuro-muskulo-psikiatri
Move on ke stase selanjutnya, kali ini juga tanpa istirahat. Masuk, Alhamdulillah anamnesis lancar. Pemeriksaan KU VS simulasi. Pemeriksaan fisik, walaupun ROM kacau balau, karena entah kenapa tetiba semua ingatan tentang nama2 gerakan ROM kaya hilang dari kepala, tapi Alhamdulillah pas penguji bacain rangkuman pemfis, speednya lebih pelan dan bisa nangkep maksudnya. Pemeriksaan penunjang (rontgen) alhamdulillah lancar. Diagnosis Closed fracture regio antebrachii dextra 1/3 distal. Dan pasien diusulkan untuk bidai.

Pas mau masang bidai, dan ngeliatin meja alat, bingung kok kainnya Cuma satu, adasih banyak tali dan bisa dipake buat ngiket juga, tapi.. tapi biasanya pake kain. Akhirnya aku ragu2 mau ngebidai.
“kenapa dek?”
“saya bingung dokter mau ngebebat atau ngebidai”
“dari hasil pemfisnya gimana tadi?”
“fraktur dok”
“maka yang harus kamu lakukan sebagai pertolongan awal?”
“bidai dok”
Dokternya ngangguk.

Trus aku masih celingukan gitu bingung
“nyari apa dik? Ada yang tidak ada?”
“itu dok, buat ngiketnya..”
“pakai tali saja”

Langsung habis dibilang gitu, gercep ngebidai. Dan pas ngiket grogi banget. Aku masih pake cara ngiket seakan2 itu kain bukan tali. Hasilnya kurang kenceng gitu huhu.

Trus pas udah selesai, dokternya mancing lagi: ngga mau dikasih apa-apa buat ngebantu pasien nopang tangannya?

Akhirnya masang mitela, dan Alhamdulillah probandusnya sangat gercep sekali, ngebantuin gitu jadi masang mitelanya cepet.

Terakhir, nulis surat rujukan kalau ngga salah, lupa2 inget.. selesai dari sini, masuk ke stase istirahat dulu baru abis itu stase GIE.

6.  Stase gastro-infeksi-endokrin
Stase ini dapat kasus masang infus. Karena perintah di soal Cuma pasang infus, aku dengan pedenya begitu masuk langsung nanya: “dok, ini langsung dipasang?
dibaca soalnya” ucap penguji singkat.

Nahloh. Aku baca lagi soalnya, bolak balik baca dari atas ke bawah. Perintah di soal Cuma bilang pasang infus.

Yaudah lah ya akhirnya aku informed consent ke pasien. Perkenalan singkat, trus minta pasien ttd. Habis itu cus masang.

Persiapan alat hampir aja kelewatan. Alhamdulillah inget masang plester sebelum cuci tangan, dan pas mau gunting plester:
plesternya digunting nanti aja”
WHAT.
tapi dok, kalau digunting nanti lengket” belum keucap itu kata lengket dokternya langsung bilang, “nanti aja plesternya. Kamu mau nyebar infeksi ke pasien?
Oke.

Pas nyiapin infus set sama masang flabot, cairannya gamau ngalir. Panik. Akhirnya infus set yang seharusnya diisi setengah, aku full in. baru abis itu cairan mau ngalir. Tapi pas mau lanjut..
itu harusnya diisi berapa banyak?”
“setengah dokter..”
“balikin lagi”
APA.
balikin lagi sesuai yang seharusnya
Akhirnya flabot yang tadinya udah kugantung, kuturunin lagi. Cairan yang diinfus set kukosongin. Trus balikin lagi ke gantungan, baru diisi setengahnya.

Lanjut masang abocath di tangan, Alhamdulillah langsung keluar darah, dokternya sempet melihat dari dekat. Trus abis itu pas mau masang plester mikir keras. Tanganku berhandscoon, megang infus juga biar ga bocor, tapi harus gunting plester. Akhirnya susah payah berusaha gunting dan…
tuhkan bisa kan
Surprised dibilang kaya gitu, apalagi muka penguji jadi lembut gitu :’)
iya dokter..
Mission complete Alhamdulillah.
Balik lagi ke meja pasien trus ditanya beberapa hal sama penguji. Pasien dehidrasi ringan/sedang/berat. Kenapa bisa dikatakan begitu, dst.
Alhamdulillah, ngga sehoror yang kubayangkan.

7.  Stase basic life support
Alhamdulillah stase terakhir. Kasus seorang pasien tenggelam di danau.

Urutan pertolongan kacau balau. Udah berusaha manggil pertolongan, udah nepuk2 si pasien. Tapi trus lupa dipindahin ke tempat datar. Langsung cus CAB aja. Pas mau RJP baru bilang: seharusnya tadi pasien saya pindahkan dulu ke tempat datar. Daan, RJP dimulai.

Hitungan RJP ku kacau balau entahlah. Biasanya aku selalu ngitung manual atau 1-10-1 1-10-2 1-10-3. Tapi entah kenapa pas ujian aku Cuma ngitung 1-10 bolak balik. Ajaibnya, setelah 1 siklus, pasien ternyata respons nadinya. Padahal sempet suudzon sama penguji gara-gara pas ujian BLS dulu, aku dikerjain sampe 3 siklus.

Lanjut ke kasih bantuan napas, berkali2 dikasih, dan ngga ada juga responnya. Mulai panik. Kalau Cuma sekali dua kali ngasih bantuan napas okelah. Tapi itu sampai 10 kali ada kali. Sampai berkali2 ngeliat jam buat mastiin detiknya. Tp tetep aja ga muncul2 L. Akhirnya penguji angkat bicara juga: coba ngasih bantuan napasnya yang bener, nanti pasti muncul napas spontan.

Disitu mulai curiga. Akhirnya aku coba perbaiki posisi, semuanya dibenerin. Tapi ga muncul juga akhirnya aku nyerah dan nanya: maaf dokter, saya salah dimana ya?

Dokternya malah nyuruh aku nyebutin sendiri. Oke, aku mengakui aku chin liftnya ngga dari awal, alias di tengah2 baru chinlift. Trus aku mengakui posisiku memberi napas buatan juga mungkin salah.

Dan kemudian: tanganmu itu nutup mulut pasien dek.

Aku diem, lah, perasaan ni tangan daritadi nutup hidungnya, bukan mulutnya.

maaf dokter, dari tadi saya nutup hidungnya kok”

“kamu dikasih tahu jangan ngelak dek, saya ngeliat dari atas sini”

Jleb. Diserang gitu aku langsung nunduk. Mau nangis. Akhirnya dengan posisi masih berlutut (krn abis ngasih bantuan), ditambah takut dan malu untuk berdiri; akhirnya aku mendengarkan nasehat dokternya dengan berpangku lutut dan menunduk. Entah berapa lama. Sampai dokternya selesai trus baru aku beraniin duduk ke kursi anamnesis pasien. Dan setelahnya cuma hening di ruangan sampai bel berbunyi.

Stase ini bener-bener bikin down. Alhamdulillahnya stase akhir. Pas selesai dari sini, teman2 lain masih ada yang masuk stase, karena sudah selesai, aku masuk ke stase istirahat. Dan di dalam ruangan rasanya down banget. Langsung buka jas lab. Trus sholawatan sama murojaah. Mau nangis tapi bingung. Akhirnya malah liat-liat ke luar jendela. Dan, disitu jadi bisa merenung dan bersyukur. Alhamdulillah, Maha Besar Allah yang telah memampukan hambanya yang lalai ini untuk menyelesaikan osce. Setidaknya, ini jadi pelajaran berharga kalau mau osce lagi.


***

Pelajaran yang bisa dipetik dari sini

1.       Jangan pernah mengandalkan prediksi apapun.
Contoh, kita prediksi bakal keluar hecting, tapi ternyata keluarnya ca mammae.
Berusahalah belajar semuanya.

2.       Ikuti baik2 peraturan
Contohnya aturan bawa jam tangan. Saya sempat mengabaikan aturan ini karena selain ga punya, di osce sebelumnya juga jarang banget make jam tangan. Akhirnya kaya nyepelein aturan gitu. Dan, yap saya kesusahan sendiri pas ngitung DJJ

3.       Hadapi saja
Hadapi saja ujiannya, dan terus berbaik sangka dengan Allah. Allah Maha Kaya. Allah takkan pernah menyia-nyiakan hambanya..


Yap sekian yang bisa saya sampaikan, semoga bisa bermanfaat, dan memacu untuk semangat belajar mempersiapkan :D

Jan 21, 2017

Kita Tak Pernah Sendiri

Oleh: Asma Azizah


Surakarta, 10 Januari 2017

Hari ini aku bangun dengan  banyak kekhawatiran. Khawatir dengan kenyataan bahwa aku harus melakukan seminar hasil skripsi sebelum tanggal 31 Januari 2017. Bila meleset, tak main-main, ancamannya bayar uang kuliah lagi yang tidak sedikit.

Apalagi mengingat penelitianku yang tiba-tiba jadi seperti benang kusut. Menjadikan mimpiku berpekan-pekan tentang isi penelitian.

Buntu rasanya.

Ditambah dengan hari ini, kawan-kawan baikku mengadakan seminar hasil. Makin khawatir.

Tapi masya Allah.. Allah menghiburku yang sedang penuh kekhawatiran ini dengan banyak cara yang tak pernah kusangka.

Pertama, selepas "menonton" seminar hasil kawan baikku, pembimbing memanggilku dan menanyakan progress. Menjembatani aku untuk bertanya dengan dokter pakar bidang skripsiku.

Alhamdulillah, pencerahan. Walau sebakdanya, aku dirudung rasa sedih, lemas, dan kecewa pada diriku sendiri. Semua teman sudah siap belajar kompre, sementara aku masih disini, tertinggal disini.

Tiba-tiba kawan baikku yang lain mengingatkanku: bersyukur asma, punya dosen pembimbing yang luar biasa care. Yang mau terjun bantu langsung penelitianmu.

Aku tersentak. Ya, bersyukur. Setidaknya, disyukuri dulu nikmat Allah yang ini. Syukurku hadir, walau ada berat disana.

Siang itu, tiba-tiba ada beberapa kawan kelompokku yang mengirim pesan line: semangat asma. Allah akan memudahkan semuanya insya Allah.
Atau, semangat asma, ngga boleh down lama2

Aku tersenyum haru. Padahal jarang sekali kirim pesan line dengan mereka.

Hari beranjak sore, aku mulai berkutat lagi dengan penelitianku. Stagnan lagi, lemas lagi. Tiba-tiba, kawan baikku yang lain datang ke kosku. Dengan senyum ceria memberikan sebungkus biskuit coklat: semangat asma.. katanya.

Malam ini, aku menginap di kos teman baikku. Dan aku terkejut, melihat namaku terpampang jelas di prakata sebagai ucapan terima kasih 😭😭😭.

Padahal selama ini, aku yang sering merepotkannya, aku yang sering bertanya ini dan itu. Aku yang penuh khilaf :".

Tapi, lagi-lagi, Allah memang yang paling tahu bagaimana menghibur hambaNya.

Lewat semangat dari teman2, lewat lembar prakata skripsi ini.

Ya, sejatinya kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada keluarga, teman-teman. Atau paling tidak, kalau tidak dibersamai secara fisik, percayalah akan selalu ada doa2 mereka yang menemani. Dan percayalah, kita tak pernah benar-benar sendiri, ada Allah, ada malaikat2Nya yang lebih dekat dari vena jugularis kita.

Fa bi ayyi aalaa i Robbikumaa tukadzdzibaan?

Ya Allah jadikan kami hamba yang senantiasa bersyukur..                        

Aug 7, 2016

5 tahun lagi

Siapakah dirimu 10 tahun ke depan?” Hening.

Pertanyaan berlanjut.

Siapakah dirimu lima tahun ke depan?” masih hening. Kali ini pembicara menoleh ke kumpulan pemuda berjas biru telur asin.

”wah kalau pertanyaan ini paling engga mas mbak panitianya harus ada yang bisa jawab”

Ini kesempatan emas, disaksikan puluhan mata dan ada kemungkinan diaamiinkan malaikat :’) maka sebelum hening berlanjut; akhirnya terangkat juga tangan, dan keluar sebuah suara malu2 : In syaa Allah 5 tahun ke depan jadi mahasiswa S3 di Tokyo University.

Alhamdulillah, malam ini diingatkan kembali tentang pentingnya memiliki mimpi yang detail. Agar jelas ‘kendaraan’ yang harus dipakai, agar terhindar dari ketidakfokusan dan kesia-siaan waktu.

Lebih jauh lagi, pertanyaan pembicara ternyata mengingatkan pada pertanyaan yang dilontarkan saat seleksi wawancara baktinusa: di umur 40 tahun nanti, kamu membayangkan sosokmu seperti apa?



Tulisan terinspirasi dari acara Seminar Motivasi Karangtaruna Desa Pringanom (tempat kkn), kebetulan pembicaranya adalah penerima baktinusa, jadi langsung keinget sama pertanyaan baktinusa deh :') | dan waktu pertanyaan itu dilontarkan, i couldn't describe the answer clearly. Belum begitu jelas ketika itu, di 40 tahun kelak akan seperti apa sosokku :'' | tapi sekarang, bismillah.. in syaa Allah semangat lagi membangun tangga mimpi.


Btw lagi, sebenarnya waktu kemarin bilang Tokyo Univ itu, ngasal banget. Bahkan ngga tau itu kaya gimana dan ada apa engga jurusannya. Selama ini cuma ngertinya, NagoyaU, OsakaU, TohokuU aja. Terakhir di proposal hidup baktinusa nulisnya Tottori University. Dan malam itu, mendadak semua univ terlupa. Yang keinget cuma jepang dan jepang. Dan karena ga ada Japan U, akhirnya nembak aja Tokyo University. hehehe peace.

Ohiya, foto ini juga bukan aku yang ngambil kok. Ini foto nemu di fb :D | dan entah yangn di foto sungai apa dan gedung apa :') | makasih ya anon fb :))


May 15, 2016

Hawa nafsu

Satu perbedaan manusia dengan malaikat: manusia dikaruniai hawa nafsu.

Cara menjaga dan menahan itulah yang jadi ujiannya manusia.

"Maaf saya baru dari jogja". Menahan untuk tidak membalas "cie yang baru pulang"

Menahan untuk tidak ikut ledek2 membahagiakan yang padahal, sangat manusiawi untuk diikuti.

ya Allah jaga aku. Ya Allah lindungi aku. Ya Allah bantu aku menahan hawa nafsu Ini.

Hayuk belajar menahan hawa nafsu, dimulai dari nafsu makan 😅

May 8, 2016

Neuroplastisitas

Neuroplastisitas. Yaitu kemampuan otak untuk berubah secara struktural dan fungsional yg dikarenakan stimulus.

Secara struktural, otak yg memiliki neuroplastisitas baik akan memiliki jumlah dendrit yang lebih banyak. Jadi meski volume sama, tapi serabutnya lebih banyak, maka bisa disimpulkan orang tersebut lebih cerdas.

Menurut penelitian, neuroplastisitas ini akan menurun, alias serabut dendritnya akan berkurang dan otak akan atrofi (mengecil) pd usia mendekati lansia, atau lansia, karena otak mulai jarang dipakai berpikir keras. Ini yg membedakan olahragawan dengan akademisi atau seorang ilmuwan, bs disebut professor dlm org awam. Nah ternyata, olahragawan lbh cpt mengalami demensia pada mereka yg jarang mngaktifkan fungsi2 otaknya. Sdgkan ilmuwan akan cenderung lebih tahan terhadap demensia.

Dr sumber yg saya dpt (dari dosen; mgkin bs dicek kbenarannya lg), neuroplastisitas akan menurun kemampuannya mulai usia 30. Jd ada 2 pilihan, stagnan or decreases.  Jadi di usia2 ini, byk manfaatkan untk tugas2 yg banyak, dg kemampuan individu msg2 tentunya. Jgn terlalu byk beban, shg byk stressor. Jgn takut bodoh karena waktu belajar berkurang gr2 dakwah.

Karena kalo kita lbh menguatkan fungsi otak kita dan kapabilitas otak kita dg disibukkan dakwah, maka jika org biasa btuh bljr 4 jam, mungkin kita cm btuh 2 jam. Ya, karena kita memanfaatkan neuroplastisitas itu. Byk mikir, byk tugas, banyak amanah, byk kepepet.

Akhirnya kemampuan otak kita bertambah, struktur otak pun akan lebih padat. Inilah tugas kita. Berat, tp byk melatih kita. Membuat lebih kuat kedepan. Jd jgn takut byk tugas dan byk kerjaan.

Oleh: Yoga Mulia Pratama, S.Ked (Korfak AAI FK 2014)

Apr 25, 2016

PASANGAN

Ada begitu banyak kata untuk satu maksud yang sama.
Dokter dengan anamnesisnya.
Polisi dengan interogasinya.
Anamnesis dan interogasi punya makna yang sama. Sama-sama ingin menggali. Sama-sama dibutuhkan untuk perkembangan kasus kedepannya.
Hanya saja, tiap kata sudah ada yang memilikinya. Sudah berpasangan.
Kita tak bisa memasangkan anamnesis dengan polisi, begitu juga interogasi dengan dokter. Seberapa sama dan dekat maknanya, kalau memang bukan pasangannya, mau diapakan?

Begitu juga dirimu dan dirinya. Seberapa dekatpun, seberapa mengenalpun, kalau memang bukan dirinya yang Ia pasangkan untukmu, bagaimana?

Kalau kata Ustadz Salim A. Fillah di salah satu ceramahnya..
Jangan kau kira cinta akan lahir dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Tidak.
Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa.
Dan selama kecocokan jiwa itu tiada, cinta takkan pernah lahir dalam hitungan tahun bahkan milenia.
Sebab apa?
Al arwahu junudu mujannadah
Ruh-ruh itu seperti pasukan yang ada dalam kesatuan-kesatuan
Kalau mereka saling mengenal, maka mereka mudah untuk sepakat.
Kalau mereka tidak saling mengenal, maka mereka gampang untuk berselisih.
Pasukan itu mengenal satu sama lain pakai apa? pakai sandi. Pakai kode.
Kalaupun tidak bertemu, hatta terhalang bukit. Tapi kalo kodenya nyambung, maka mereka akan sepakat. Yang sama adalah, rumus jodoh itu kalau kemudian sama-sama hati mereka tunduk pada Allah, mengenal Allah subhanahu wa Ta’ala. Mengabdikan diri untuk Allah.
Agama itu cara memandang hidup. Cara memandang mati. Cara memandang hidup sesudah mati. Cara memandang pencipta hidup dan mati. Cara memandang pasangan, lingkungan, dan kesemua makhluk Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kesamaan dalam itu, kesejiwaan adalah jaminan kebaikan bagi pernikahan.



-          Sebakdanya kuliah Visum et Repertum dr. Nonod, 1:34 pm, 25 April 2016

Mar 29, 2016

Tentang pelajaran hidup bernama baktinusa (2)

Tidak harus bersama baktinusa.
Aku tahu Allah memiliki rencanaNya yang terbaik dan terindah.
Aku tahu, mungkin akan lebih mudah bagiku bila tidak diterima di baktinusa.

Tapi Allah, entah mengapa, masih hangat di bayangku, masih terngiang di telingaku, pertanyaan salah seorang pewawancara: kalau nanti ditantang untuk nulis buku, bisa ya?

Seperti ada petir.
Insya Allah. Jawabku ragu.

Udah tau mau nulis tentang apa? tanya beliau lagi.

Belum.. eh tapi saya ingat di proposal hidup itu, saya pingin bikin tulisan tentang gimana caranya biar mahasiswa juga punya semangat untuk ngafal dan menjaga hafalan.

Nah itu. Jadi siap ya kalau ditantang untuk nulis buku? Tanya beliau dengan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.

In syaa Allah. Dengan bimbingan Allah dan pembinaan dari baktinusa. Jawabku akhirnya mencoba mantap. Jawaban yang entah mengapa menerbitkan senyum optimisku.

Padahal,  ada sekian banyak pertanyaan yang jawabannya menggantung. Ada banyak kejujuran dan alasan yang belum sempat terungkap.

Ada satu pertanyaan yg sampai saat ini juga masih terngiang: di umur 40 tahun nanti, kamu ingin dikenal sebagai apa?

Aku lupa pastinya kujawab seperti apa, yang jelas, jawabanku tidak sefasih tulisan yang tergambar di otakku.

Aku ingin dikenal sebagai ibunya ummat, ibunya anak-anak. Seperti ustadzah yoyoh yusroh yang memperjuangkan tanah palestina. Aku ingin dikenal sebagai seorang dokter jiwa yang bisa mengobati mental keluarga broken home. Aku ingin jadi ibu yang kuat seperti ummi. Aku ingin dekat dengan anak-anak jalanan, dengan ibu-ibu single parent, dan aku ingin mereka dekat dengan Qur’an karena adanya klinik recovery jiwa yang kami buat.


Entah bagaimana tim pewawancara mendengar dan menafsirkan jawabanku, yang pasti aku memang harus belajar banyak untuk menyampaikan sesuatu lewat lisan..

Tentang pelajaran hidup bernama baktinusa (1)

Bismillaahirrahmaanirraahiim
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Teringat saat pertama kali melihat namaku masuk ke 24 calon penerima manfaat bakti nusa UNS. Waktu itu aku sedang ada di puncak lelah, seharian di NH dari sholat gerhana sampai khataman malamnya. Beberapa orang yang kutemui hari itu menanyakan pengumuman BA yang akhirnya kujawab dengan senyum: aku saja tak tahu kalau hari ini pengumumannya. Maka ketika malamnya Manajer BA UNS, Mas Krisna, pm via WA, aku yang malah bingung. Setengah tak percaya, tapi.. Alhamdulillaah wa syukurillah.. berita itu kemudian hilang ditelan kesibukan.

Sebakdanya acara khataman 3 hari itu, aku kembali memikirkan bakti nusa. Aku membuka file yang kukirim. Membaca tiap detail form pendaftaran, esai, sampai proposal hidup. Kemudian tertegun. Allahu Robbi, apa yang mereka lihat dariku? Cv hidupku biasa, tidak berlimpah prestasi apalagi jabatan organisasi. Esaiku juga sangat sederhana, lebih mirip curhatan kalau boleh kubilang. Dan proposal hidup yang kuyakin, teman-teman lain lebih baik dan wellprepared dalam membuatnya.

Tapi Allah melalui baktinusa memberiku kesempatan untuk belajar di satu agenda yang bernama Seleksi 2 Bakti Nusa. Bismillah.. mari kita belajar..

Cerita selanjutnya adalah tentang perjuangan mengerjakan penugasan bakti nusa. Dari mulai pusing saat diminta ganti foto profile picture semua akun media sosial. Bukan apa-apa, tapi karena aku mencoba memegang prinsip untuk tidak pajang foto sama sekali. Akhirnya dicari foto paling gelap dan paling samar senyumnya. Susah. Karena fotoku tak banyak.

Belum lagi tentang esai yang menuntut untuk membuka mata dengan realita pasar tradisional. Tentang esai ini, aku memang menunda membuatnya. Kupikir, video butuh waktu lebih lama. Hingga akhirnya sampai pada waktu-waktu kritis. Alhamdulillah H-1 deadline, Allah beri petunjuk melalui buku Api Sejarah yang dibacakan saat lingkaran teras surga berlangsung. Akhirnya bisa memulai esai juga dengan inspirasi dari Api Sejarah.

Lain esai lain video. Dari awal aku berprinsip aku tidak ingin banyak suara dan banyak potret diriku. Walau dikeberjalannya susah sekali mempertahankan prinsip ini. Sempat take video beberapa kali, berusaha minta tolong  kesana kemari. Sampai akhirnya.. Alhamdulillah video itu jadi dengan editing sendiri. Dan sesuai dengan keinginanku. Biar, biar saja tulisan itu yang menceritakan diriku. Aku tak menyesal sudah berbeda dan mungkin, agak nyeleneh dengan penugasan yang diminta. (maafkan aku baktinusa, beginilah aku..)

Akhirnya sampai juga ke detik-detik menjelang FGD dan wawancara. Waktunya bertepatan dengan agenda camping Qur’an di NH dimana aku jadi panitia dan juga musyrifahnya. Rasanya lelah badan dan pikiran. Memikirkan semua hal. Ummi abi, skripsi yang tak kunjung keluar pengumuman validasinya, IQ yang jumatnya raker dilanjut CQ. Benar-benar terasa dikuras. Belum lagi menghadapi perasaan minder yang luar biasa. Hari H itu, aku sempat ragu, di detik-detik terakhir itu aku masih berpikir apa ngga usah berangkat aja ya…. tapi biidznillah, kuputuskan berangkat. Dan aku memilih berjalan kaki. Agar semua rasa bisa menguap. Agar hormone endorphinku keluar dan merilekskan semua keruh yang ada.


Singkat cerita, FGD dan wawancara telah selesai. Walaupun FGDku tak mulus, maksudku, seperti biasa, bila aku tidak wellprepared untuk diskusi, aku takkan bisa menyampaikan sesuatu dengan fasih. Dan walaupun wawancaraku begitu adanya.. tapi rasanya lega, alhamdulillah. sekarang waktunya tawakkal..

Mar 16, 2016

Mimpi-mimpi

Kemarin pas kuliah farmakologi, prof. Muchsin kasih 1 analogi yang keren banget. Kata beliau:
Tubuh kita ini dahsyat banget. Kalau misalkan kita pengen lari kesana, jaras saraf yang dilewati impuls untuk memacu otot kita itu udah sampe kesana. Ke tujuan kita. tapi badan kita aja yang harus kerja keras. Musculus harus bekerja keras buat memindahkan badan kesana.

Dan kemudian aku tersentak. Analogi itu kaya analogi mimpi. Kalau kita udah berani mimpi, sebenernya kita udah sampai kesana. Hanya saja waktu dan raga butuh waktu untuk benar-benar menggapainya. Exercise yang dilakukan demi menggapai tujuan itu, dan semangat baja pantang nyerah. Coba aja, kalau kita berenti di tengah jalan, apa bisa badan kita sampai disana? Engga.

Jadi, jangan pernah berhenti mengejar bermimpi. Dan parahnya, jangan pernah takut bermimpi. Kalau takut netapin tujuan, maka kita sudah membunuh impuls kita yang seharusnya sudah sampai pada mimpi itu.

Sekian.


- Kereta Krakatau menuju jatinegara. 23 september 2015. H-1 idul adha

Aug 1, 2015

Jangan ada baper di antara kita

Pekan ini lagi dapat tugas langit untuk syiar MTQ Nasional di twitter dan facebookland.  Sebuah tugas mudah bila dilakukan oleh orang yang mengikuti acara MTQ, atau paling tidak, membersamai teman-teman delegasi UNS di MTQ Nasional. Sayangnya, saya tidak masuk salam 2 kategori di atas.
Saya tidak ikut MTQ sebagai delegasi UNS, saya juga tidak membersamai teman-teman delegasi. Saya hanya seorang anggota UKM Ilmu Qur’an yang sangat biasa, yang ingin syiar MTQ ini tersebar ke seantero dunia maya.

Akhirnya, minta tolonglah saya pada beberapa orang pendamping atau bahasa kerennya official yang membersamai teman-teman delegasi UNS. Minta tolong mereka untuk bisa update segala hal terkait MTQ melalui facebook dan twitter. Tapi nyatanya tak semudah itu minta tolong pada mereka. Sebab mereka juga membantu mengurus berbagai keperluan delegasi.

“anti ane masukkan ke grup WA kafilah MTQ UNS aja ya,” titah sang ketum akhirnya.

Jeg. Dalam hati menolak. Tapi akhirnya yang tertulis di layar tab cuma 1 kata pasrah: iya.

Berita demi berita akhirnya saya terima melalui grup whatsapp tersebut, untuk kemudian diolah lagi dan diteruskan ke fanpage dan twitter.

Awalnya baper, bawa perasaan. Ada iri terbit di hati. Rasanya ingin sekali jadi delegasi juga mewakili UNS. atau paling tidak menemani teman-teman. Rasanya ingin ada disana. Dan menerima berita-berita di grup itu, seolah membangkitkan kembali kenanganku tentang macam-macam lomba yang rajin kuikuti jaman SMA dulu. Sungguh sensitif sekali kala itu. Dasar perempuan~

Tapi, kita harus profesional. Mungkin kita tak ingin ditempatkan disana. Tapi ini amanah, dan ini adalah keharusan yang ngga boleh ditolak karna gagal mengelola perasaan.


Jadi, jangan sampai ada baper di antara kita ya. iya kita, aku dan kamu. Kamu, amanah itu. Sebab bila terus terus baper, amanahnya stagnant, harus dengan apa aku bertanggung jawab kelak?

Memilih Mimpi

Melihat cerita bahagia mbak ratna mengenai perjuangannya mendapatkan beasiswa monbusho, aku seperti melihat potret diriku, 2 tahun yang lalu. Ketika aku sangat bersemangat untuk meraih beasiswa di Jepang. Bedanya, mbak ratna lulus dan aku tidak.

Kemudian membaca cv beliau, ada sedikit iri terbit disana. Rasanya ingin menangis dan menyesal. Sebabnya? Dulu sudah sangat dekat sekali jalanku untuk punya publikasi, tapi aku tak kuat, dan memilih untuk berjuang di jalan lain.

Semua orang bisa bahagia, asal standar bahagianya jangan pakai standar bahagia orang lain – many people (termasuk kak syayma, kakak kece badai 1 kos).

Melihat kembali mbak ratna, dengan tumpukan publikasi dan presentasi, aku tahu ia telah bekerja sangat keras untuk itu. Karena pernah 1 meja kerja dengan beliau (walau hanya beberapa menit), pernah mengerjakan sedikit hal-hal yang beliau juga kerjakan. Pernah nonton kebahagiaan mbak ratna dan teman-teman 1 timnya yang sumringah atas keberhasilan kerja mereka. Yang pasti, aku belum kuat kalau harus berkutat dengan penelitian, sekuat mbak ratna. Dan karena itu, sungguh aku sama sekali ngga pantas untuk iri.

Akhirnya, semua kembali pada pilihan. Mau jadi seperti apa kita, mau mendapat apa, semua ditentukan oleh kita sendiri. So? Set your dream as high as you can, then work for it! Kalau tidak memilih mimpi, kapan kita bisa mulai bekerja di koridor (mimpi) yang benar? Kalau tak pernah punya mimpi, bagaimana mungkin akan ada kalimat ‘aku telah meraih impianku’ dalam hidupmu? J


btw, congratulation mbak ratna atas beasiswanya.. semoga berkah J

Apr 21, 2015

ON FIRE

Karena jihad berarti mengorbankan segala takutmu, dan berusaha sebisa mungkin untuk menghadapi satu demi satu, dengan  kepala tegak.
Aku bukan tak takut,
Rasanya aku ingin berhenti dan pergi saja dari semua ini.
Semua darah
Semua tindakan yang membuatku mual
Tapi, begitulah jihad.
Semua perjuangan tak ada yang tak melelahkan
Sebab semua perang pasti punya sakitnya

And here I am.
Menikmati segala mual dan lelahku di dunia ini.
Entah Allah punya kejutan apa untukku,
Yang pasti, aku tak boleh menyerah dan berhenti berjuang.
Aku takkan menyerah mempelajarimu duhai anatomi, fisiologi, dan semuanya.

I will never give up.
Ilmu ini kecil bila Allah menghendakiku menguasainya.
Bismillah..
Allahu Rabbi, bersamai aku, ridhoi setiap langkahku, dan kuatkan aku menghadapi semua ini. Sebab bila tak Kau kuatkan, aku akan tertiup bagai debu-debu yang tak terlihat.


-         -  Finding new spirit, setelah mual2 menghadapi kulpeng purperium 21 april 2015 9:21pm. On fire menghadapi UB URO, bismillah :’)

Mar 2, 2015

sepele

Makasih yaa sudah jadi malaikatku hari ini..
Biasa aja keles, kamu juga selalu jadi malaikatku :’’

Indahnya persahabatan dalam balutan keimanan.
Dimana segalanya dikorbankan bukan demi kepentingannya.
Sepele, hanya bantu mengantar saat mepet masuk.
Tapi ternyata, yang sepele-sepele ini bila dipelihara, akan melahirkan ikatan yang mengharukan.

Ah sungguh, kita tak tahu kan jalan mana yang akan mendekatkan kita pada JannahNya. Sungguh pula kita tak sadar bahwa ternyata, doa-doa sahabat kita lah yang dikabulkan lebih dulu, dan berefek pada mudahnya segala urusan kita.

Uhibbukum fillah :’)

Jan 22, 2015

hidup

“Apakah hidup memang sesulit ini?” tanya In Hae, bocah cantik dalam Good Doctor.

Pertanyan In Hae itu bagai diputar keras-keras  dan terdengar berkali-kali di telingaku setiap kali aku merasa tak mampu hadapi rentetan masalah ini.

Hidup tak sulit, tapi memang beginilah adanya. Sikapmu yang jadi penentu, akan seperti apa kau di hari esok. Akan jadi dokter yang bagaimana? Akan jadi hafizhah yang seperti apa?

Memang seperti itulah hidup. Dan memang begini jatah hidupmu, yang sudah tentu harus kau syukuri. Ingat kan perjuangan dakwahnya Nabi dan para sahabat? Yang ditimpa bertubi-tubi cobaan hatta mereka merasa ga sanggup, dan Nabi berkata: istirahat nanti, ketika kaki menapak Jannah.

Pahamilah ma! Segala-galanya ini, untuk membayar itu. Cobaan ini, perih ini, derita ini, ayo konversikan itu jadi rasa manis kehidupan. Seperti Nabi yang kakinya bengkak ketika shalat, namun tak dirasa lagi sebab cinta pada Allah.


Mungkin Allah rindu dengan tangismu, dengan sendumu, dengan tawakkalmu padaNya. Maka Allah cabut nikmat libur cepat-cepat. Ada hadiah yang menantimu sayang, jangan putus asa dengan rahmat Allah okey ;)

Jan 1, 2015

sp neuro (:

Sedih.
Bagai diguyur air es begitu melihat nim 043 mejeng di daftar remedial blok saraf.
Rasanya ngga ingin balik ke solo secepat ini, sedangkan beberapa jam yang lalu kakiku belum sempat menginjakkan kaki di rumah.
Rasanya aku ngga mau ikut remedial.
Dan rasanya iri betul melihat dirinya di atas angina karena lolos dari remed 4 blok.
Duh mimpi apa si langganan remed ini bisa libur cepat2?
Astaghfirullahal’adziim.. innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun.. laa hawla walaa quwwata illa billah..

Mungkin memang harus begini caranya. Begini caranya Allah memperingatkanmu akan leha-leha yang kau lakukan ba’da UB saraf.
Mungkin ini caranya Allah untuk menghentikkan leha-lehamu di liburan ini.
Bangun ma!
Mimpi apa sih kamu bisa leha-leha pas liburan gini?
Murojaah ma! Banyak betul yang harus kau murojaah!
BANGUN!
Terima caranya Allah ini dengan ikhlas.
Dan jangan cengeng!
Ga ada ceritanya kena remed doang nangis.
Allahummaghfirlii yaaAllah..

Berpisah dengan bekasi, dengan liburan aja rasanya berat banget yaRabb..
Gimana kalau Allah perintahkan jasad dan ruh ini berpisah?
Sudah siapkah?
Datangnya ndadak, lebih ndadak daripada pengumuman remidi neuro.
Dan kamu ga bisa bantah ma!
Kematian akan datang.
Tidak menunggu kesiapanmu dan orang2 terdekatmu.
Ia akan memisahkan ruh dan jasadmu.
Tak peduli kau sedang bertaat atau bermaksiat kala itu.
Duhai Rabb, bila kehidupan di dunia ini hanyalah tempat singgah, hanyalah sebentar sebagaimana jeda antara adzan dan sholat, maka jadikan kami hamba2 visioner, yang selalu bervisi akhirat di atas segala perkara dunia ini. Jadikan peluh belajar, tangis kesulitan sebagai jalan jihad menuju JannahMu..

Ya Allah jadikan dunia di tanganku dan bukan di hatiku :’’

Nov 14, 2014

14.00 teng

Siang hari di 13 november 2014, Solo diguyur hujan deras dengan angin kencang, well, cuaca yang cukup nyaman untuk tidur berselimut sampai sore. Sebelum hujan turun, kami anak semester 3 baru saja melalui 2 responsi: fisiologi dan mikrobiologi. Responsi yang jawabannya mbingungin dan pas pulang ke kos rasanya tuh gamau balik kampus lagi. Ditambah cuaca yang kaya gitu, males.

Tapi alhamdulillah, tiwi dengan brio nya masih mau jemput ke kos dan akhirnya kita meluncur ke kampus. Jam sudah menunjukkan 14.05. dr Afi yang hari itu ngasih kuliah ternyata udah mulai on time dari 14.00. karena berangkatnya sudah telat, sudah pasti sampai ke kelas juga telat. Ah tapi paling anak-anak juga pada telat. Ah berapa banyak sih yang dateng kuliah, suasananya bikin tidur gini og.. dan ah ah lainnya.

Pas masuk ke ruang kuliah, voila! Ruang kuliah hampir penuh, Cuma tersisa kursi-kursi di deretan belakang. Aku duduk. Dan merasa malu.

Malu karena aku datang dengan pakaian kering sementara teman-teman lain banyak yang rambut dan pakaiannya kuyup kena hujan.

Tambah malu ketika mendengar suara dr. Afi, suara serak dengan gelagat tidak enak badan. Masya Allah, orang yang sakit, yang kesibukannya jauh lebih padat, yang rumahnya lebih jauh dari kosku aja masih bisa datang on time. Kamu gimana, ma? :’

Malu, sudah berprasangka yang macam-macam.

Malu, ketika melihat seorang sejawat yang sepatunya basah. Hasil menerjang hujan hanya dengan berbekal payung.


Malu, sudah Allah kasih segala kesempurnaan tapi lebih banyak malasnya daripada berjuang dan bersyukur..

Sep 24, 2014

nano nano anat

Bagi mereka apa yg telah mereka usahakan. Dan bagimu apa yang kamu usahakan.

Ayat ke 141 di surat kedua Al-Qur’an itu langsung terngiang-ngiang pasca pretest anat pagi tadi.

Rasanya aku harus siap menerima namaku terpajang di inhall anatomi.
Belajarku memang masih sedikit. Sudah belajarnya sedikit, yang teringat pun hanya sedikit, bisa terbayangkah berapa soal yang dapat kukerjakan?

Anatomi bukan hanya soal menghafal.
Tapi bagaimana otakmu menalar semuanya.


Ya Allah, kapankah tiba saatnya aku bisa menebak jawaban dari penalaran terhadap ratusan nama anatomi?

Sep 18, 2014

Totalitas

Tet.
Bel dari kantor SL membuyarkan penjelasan dr. Heru, dokter spesialis jantung yg kali ini menjadi instruktur untuk skills lab EKG.

Bel tadi menandakan ruang skills lab akan ditutup.

"Yah kita udah 'diusir'," kata seseorang. Entah pernyataan gembira atau sedih krn harus mengakhiri skills lab ekg yg agak njlimet itu.

"Gini, kita beresin alatnya dulu, hqbis itu kita lanjut belajar baca di gazebo. Gimana?" Tanya dr. Heru. Belajar baca disini maksudnya belajar baca hasil ekg..

Mulanya penawaran itu hanya kami anggap basa-basi. Tapi ternyata, dr. Heru turun bersama kami menuju lantai 1 dan langsung antusias nyari tempat buat ngelanjutin penjelasannya yg sempet putus gara2 bel.

Dan.. kita akhirnya lesehan di depan SP4. Di antara gerombolan mahasiswa lain yang rapat, yg ngerjain ini itu, ada 1 kelompok mahasiswa yg anteng dengerin penjelasan dokter. Dan entah udah ditatap heran sama berapa pasang mata ngeliat kt tentiran sama dokter, padahal kita masih SL.

SL hari itu yg seharusnya selesai 15.25, jadi molor sampai 16.11 akibat totalitas seorang dokter spesialis jantung yg pengin mahasiswanya bisa baca ekg :"

Makasih banyak dok :")
Semoga masih banyak bertebaran dr. Heru lainnya di luar sana :")


_16sept2014_takjub

Sep 10, 2014

jihad

Bisu.
Pesimis.
Rabb, sanggupkan aku menyelesaikan jihad ini.
Jihad melawan semua ketakutanku.
Ketakutan bicara.
Ketakutan melihat tindakan medis.
Darah.
Luka.
Kelemahan hafalanku.
Ya Allah, kalau aku tidak dikuatkan aku takkan sanggup hadapi ini.


9914 - ba'da cercaan tutor