Mimpi kita hari ini, kata Hasan Al-Banna, adalah kenyataan hari esok. Sebagaimana mimpi hari lalu adalah kenyataan hari ini. Tentu jika dan hanya jika, hari-hari antara kedua masa itu (kemarin dan hari ini) terisi dengan ikhtiar, doa, dan tawakkal untuk mengejar lesatan sang cita.
- Ust Salim A Fillah dalam Menggali ke Puncak Hati
Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts
Apr 8, 2017
Feb 8, 2017
Kembali Pada Titik Semula Tanpa Rasa
Ada yang diam-diam mengagumimu,
Menjagamu lewat doanya,
Menaruh rasa padamu,
Berharap bersama nantinya.
Namun ia merenungi,
Sepertinya ada yang salah di hati,
Dia bertanya dalam diri,
“Dimana ilmu menjaga hati yang dulu di pelajari?”
“Dimana ilmu menjaga hati yang dulu di pelajari?”
“Dimana ilmu itu?”
“Kenapa mudah menaruh hati, padahal sudah tau itu adalah rasa tak pasti?”.
Kembali ia merenung,
Berusaha menolak rindu,
Mengubah rasa yang sempat ada,
Menjadi tawar sebab bukanlah haknya.
Sebenarnya,
Ia kadang merasa malu,
Sebab sempat pula berkeinginan jauh,
Berandai-andai,
Andai dia menjadi milikku,
Andai aku bersamanya saat ini,
Andai kelak aku bersama dengannya,
Andai. Andai..
Dan berakhir lalai..
Dengan rasa malunya,
Ia tunduk dalam doa.
Bukan meminta didekatkan pada yang di cinta.
Ia meminta agar hati yang sempat lalai,
Kembali terjaga.
Tertatih ia merindukan,
Tertatih pula mengiba pada-Nya untuk dikuatkan.
Ia berjuang,
Detik berubah menjadi menit,
Menit menjadi jam,
Jam menjadi hari,
Hari menjadi minggu.
Bulan. Dan tahun.
Hingga pada akhirnya,
Perasaan yang terjadi,
Sebab tak tunduknya pandangan mata,
Itu benar-benar kembali,
Pada titik semula.
Tanpa rasa.
***
Menjagamu lewat doanya,
Menaruh rasa padamu,
Berharap bersama nantinya.
Namun ia merenungi,
Sepertinya ada yang salah di hati,
Dia bertanya dalam diri,
“Dimana ilmu menjaga hati yang dulu di pelajari?”
“Dimana ilmu menjaga hati yang dulu di pelajari?”
“Dimana ilmu itu?”
“Kenapa mudah menaruh hati, padahal sudah tau itu adalah rasa tak pasti?”.
Kembali ia merenung,
Berusaha menolak rindu,
Mengubah rasa yang sempat ada,
Menjadi tawar sebab bukanlah haknya.
Sebenarnya,
Ia kadang merasa malu,
Sebab sempat pula berkeinginan jauh,
Berandai-andai,
Andai dia menjadi milikku,
Andai aku bersamanya saat ini,
Andai kelak aku bersama dengannya,
Andai. Andai..
Dan berakhir lalai..
Dengan rasa malunya,
Ia tunduk dalam doa.
Bukan meminta didekatkan pada yang di cinta.
Ia meminta agar hati yang sempat lalai,
Kembali terjaga.
Tertatih ia merindukan,
Tertatih pula mengiba pada-Nya untuk dikuatkan.
Ia berjuang,
Detik berubah menjadi menit,
Menit menjadi jam,
Jam menjadi hari,
Hari menjadi minggu.
Bulan. Dan tahun.
Hingga pada akhirnya,
Perasaan yang terjadi,
Sebab tak tunduknya pandangan mata,
Itu benar-benar kembali,
Pada titik semula.
Tanpa rasa.
***
Di atas itu bukan tulisan saya, awalnya dapat dari OA Line, tapi ndak ditulis penulisnya juga. Begitu browsing, ada beberapa versi.. Jadi galau mau nulis versi yang mana.
Ala kulli hal, tulisannya cukup menggelitik. Dan yang menjadi perenungan adalah di kalimat keempat terakhir:
"Sebab tak tunduknya pandangan mata"
Zaman serba online begini, menundukkan pandangan mata ternyata bisa berarti banyak. Menundukkan mata tak hanya bisa ditafsirkan karena tak bisa menjaga mata di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.
Ada yang jatuh hati, karena melihat chatnya yang adem. Ada yang kagum karena tulisannya yang sarat manfaat dan menyenangkan mata yang membaca. Ada juga yang menaruh rasa karena melihat fisiknya, wajahnya, yang bebas terumbar di media sosialnya, atau bahkan sekedar di gambar profil medsosnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,
يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ
“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)” [HR Abu Daud]
Maka, berhenti untuk tidak melanjutkan stalking, berhenti untuk tidak melihat lebih jauh; mungkin jadi PR bersama di hari-hari ini. Sebab menjaga pandangan di dunia nyata, semua mungkin bisa. Refleks menunduk, refleks menghindar. Refleks saling mengingatkan. Tapi menjaga pandangan di depan gadget kita, dimana ini merupakan amal pribadi, dimana hanya Allah dan malaikatNya yang mengetahui, akan membutuhkan energi lebih besar, ya, energi untuk melawan hawa nafsu.
Allahummaghfirlanaa, semoga Allah mengampuni kita dan senantiasa memberi hidayah pada kita.
Feb 5, 2017
Tembok
Alhamdulillah, sudah 9 tahun ternyata. Pertama kali mencoba menghias kamar, menggunakan kertas yang ditempel di tempat yang mudah ditangkap mata. Sempat nempel di bagian atas dinding juga dengan harapan, setiap mau tidur bisa melihat nasehat atau kalimat penyemangat itu.
Ketika masuk asrama, wilayah penempelan kertas jadi makin sempit. Hanya di depan lemari, meja belajar, dan area sekitar kasur.
Tapi sejak masuk kuliah, kertas itu perlahan berganti jadi plastik bening ini. Lebih praktis. Lebih mudah diperbarui. Ya, layaknya iman yang naik dan turun, semangat beramal juga begitu, harus selalu diupgrade.
Semoga sisi tembok kecil satu ini bisa jadi pengingat para pengunjung kamar. Dan semoga ada setitik kemanfaatan. Sedikit menambah pundi kebaikan pemiliknya yang tak seberapa. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah untuk menjaga keikhlasan. Aamiin.
Btw tiba-tiba jadi kepikiran, nanti kalau sudah punya anak, asik juga kali ya kalau seluruh tembok rumah dilapisi plastik bening begini. Biar temboknya bisa tetep mulus ketika si anak asyik berkreasi dengan coretan semangatnya. Hehehe noted. And please don't misunderstanding, this ia not a code -_- kadang orang suka salah paham gitu kalau udah mulai ngomongin rumahtangga atau anak. Dikiranya udah proses atau lg baper nikah. Padahal mah, nyantai aja euy. Yg namanya nyiapin, mulai mikirin, kan bukan cuma hak mereka mereka yang udah pasti tanggal akadnya aja kan?
Jan 21, 2017
Di Waktu yang Allah Tetapkan..
Oleh: Asma Azizah
Surakarta, 20 Januari 2017
Kita akan ujian di waktu terbaik yang Allah tetapkan untuk
kita.
Kata-kata yang tidak solutif, tapi setidaknya, mengucapkan
kalimat itu berulang-ulang bisa menenangkan resah diri.
Ya, aku berada di injury
time dimana aku harus segera melaksanakan seminar hasil skripsi.
Beberapa waktu lalu, teman-teman sudah mulai memberi tahu
tanggal ujian skripsi. Sementara aku ketar ketir di kamar menyelesaikan
pembahasanku.
Rasanya aku seperti berlari kencang sekali untuk mengejar
segala ketertinggalan.
Pernah tiba masanya, aku mual sekali.
Rasanya penelitianku seperti benang kusut entah dimana
ujungnya.
Rasanya tungkaiku tak cukup kuat, tubuhku tak cukup tegar
untuk berlari mengejar semua.
Rasanya semua terlalu jauh untuk dikejar.
Aku pernah merasa sangat putus asa,
Aku pernah merasa sangat benci melihat target-target ujian
skripsi yang kubuat.
Hingga saking bencinya, kuhapus bersih-bersih semua target
itu.
Pasrah.
Dan lagi-lagi mengulang kalimat,
Allah akan memberiku waktu ujian yang terbaik untukku.
Aku menghela napas panjang, untuk coba berlari lagi.
Pembahasan akhirnya kukejar dari pagi – siang. Kemudian
segera kukirim ke dosen.
Tidak berapa lama, dosbing utama minta untuk segera
menghadap dengan membawa berkas persyaratan ujian lengkap untuk ditanda tangan.
Tiba-tiba aku sudah dapat tanggal
Sudah dapat tanda tangan
Dan satu hari setelahnya,
Alhamdulillah semua berkas lengkap
Hanya saja, tiba-tiba pula tanggal ujianku harus berganti
Detik ini pun, tanggal itu belum kunjung fix.
Ada sejuta khawatir.
Dari mulai tanggal, naskah skripsi, publikasi, dan bayangan
akan suasana ujian nantinya.
Ada takut. cemas. Dan kecewa dengan diriku sendiri.
Namun lagi-lagi aku harus menenangkan hati, dan kali ini ikut
menenangkan rekan-rekan juga.
Mereka yang tiba-tiba harus berganti tanggal, yang tiba-tiba
ada kendala di naskah, dan lainnyaa
Kuyakinkan mereka:
Allah akan memberi kita tanggal ujian di waktu terbaik yang
Ia tetapkan.
Pena telah diangkat, tinta telah kering.
Semua tinggal bagaimana kita menjemput karuniaNya dengan
semaksimal mungkin.
Semua tinggal soal menjemput bahagia dengan memaksimalkan
ketaatan.
Wallahu a’lam bish showab
Jan 15, 2017
kamu dimana
Kalau aksi bela ummat kamu ngga ikut, aksi bela masyarakat kamu ngga turun, trus kamu ada dimana?
Jul 7, 2016
Menjadi Mata Air
Menjadi mata air.
Pesan ayah dari Bacharudin Jusuf Habibie yang tertanam kuat
dalam benak Habibie kecil.
Habibie tidak lahir dari keluarga biasa.
Habibie lahir dari ayah yang sangat cerdas. Ayah yang
mengajarinya banyak hal. Ayah yang membuatnya bermimpi untuk membuat pesawat.
Ayah yang menanamkan padanya untuk bisa jadi mata air, jadi orang yang
bermanfaat. Ayah yang taat agama, dan ketaatan itu tercermin dari cara
meninggalnya dalam sholat, yang insya Allah husnul khotimah.
Habibie dibesarkan dari ibu yang sangat kuat. Ibu yang jadi
garda terdepan memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.
Menonton film rudy Habibie semalam, membuat khayalku
melayang jauh. Ke jerman sana. ke dokter. Mengingatkanku pada teman satu
SMA yang sangat cerdas. Sinisnya sama. pintarnya luar biasa. Gerak-geriknya.
Berkarya dalam diam. Tak pernah ribut dan banyak mengobrol. Tahu-tahu namanya
sudah mewangi. Mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
Karena film hanya menceritakan indahnya. Bagian sedihnya
tentu tak lebih banyak dari indahnya.
Sosok Habibie yang sekarang ini, siapa yang tahu apa saja
yang telah terjadi di masa mudanya dulu? Siapa yang mengerti air mata, peluh,
dan semua usaha yang sudah dilakukan?
Saya hanya butuh tidur 4 jam. Makin cepat dapat tempat, makin
cepat saya belajar.
Kecintaannya pada ilmu. Keseriusannya dalam belajar. Rasanya
membuatku tertampat-tampar. Apalagi mengingat tahun-tahun kuliah kedokteranku yang belajar sangat ala kadarnya..
Menjadi mata air.
Mata air hanya lahir di tanah yang bergolak.
Mata air yang jernih akan mengendapkan keburukan di sekitar.
Orang baik akan dikelilingi orang baik.
Jadi orang bermanfaat. Jadi orang bermanfaat.
Pemimpin itu, banyak curhat ke “langit”.
Banyak doa. Banyak doa.
Kalau kamu ga taat, percuma aja semua ini asma :''
Apr 18, 2016
coba!
Kecewa takkan membuat esok pagimu jadi tak bernyawa. Coba, coba, dan coba. Keseimbangan adalah tentang mencoba: menakar dan menerka. Tidak apa. Sesekali kamu memang mesti menangis. Karena tidak semua gerimis berujung pelangi yang manis.
Feb 19, 2016
MEMORI
Bismillaah..
Perjalanan rihlah menuju wonogiri kali ini ditemani nasyid
yang membuatku teringat akan banyak hal. Dan entah, mungkin karena suasana
safar, di dalam bis sedang ngga nyambi apa-apa juga selain dengerin nasyid,
akhirnya setiap nasyid jadi punya memori sendiri..
Ketika dengar lagu-lagu Maher Zein, banyak sekali terkenang
tentang CMBBS.
Tentang indah yang pertama kali memperkenalkan lagu I love
you so. Yang dulunya kukira itu nasyid untuk pasangan, tp ternyata itu untuk
Zat Yang Maha Cinta, Allah Subhanahu wa ta’ala.
Tentang rufaida yang begitu excited dan berkaca-kaca melihat
video Number one for me.
Tentang kamar 105 yang suka sekali memutar maher zein di
kamar. Tentang kamar kami yang masing-masing punya tujuan berbeda. Aku ke
jepang, bepe ke farmasi, indah ke akuntansi, saroh ke desainer, sesil ke FK.
Kamar yang di depan pintunya dengan pedenya menulis nama lengkap dan calon
gelar yang kami inginkan. Kamar yang sering bikin nasi goreng bareng pakai
magic com, yang wangi margarinnya memenuhi satu asrama. Kamar ini juga yang
dipakai aku, esti, khaulah, ina, murni, untuk belajar pasca UN. Ketika satu
asrama sepi ditinggal sebagian besar penghuninya, kamar inilah yang digunakan
untuk belajar sampai larut, diskusi masa depan, dan becanda sampai sakit perut.
Atau tentang lagu the
chosen one yang mengingatkanku tentang kamar kedua di CM dulu. Kamar 105
masqod. Bersama sesil, oriehanna, anis, ukhti ipeh, ukhti raden, dan ukhti
____. Kamar yang ngasih surprise ultah di saat besoknya uas. kamar yang suka
banget dibawain makanan sama mama orie bubur manado. Kamar yang di dalamnya aku
melihat perjuangan belajar, tidur paling malam, bangun paling pagi kakak-kakak
kelasku.
Mendengar tiap nasyid, dan menemukan tiap memori di
dalamnya. Aku haru sekaligus sedih. Rabb, izinkan aku, izinkan kami memiliki
memori indah di tiap halaman kalamMu. Izinkan kami langsung bergetar tiap ada
ayat suciMu dibacakan. Seperti bergetarnya aku mendengar nasyid yang aku
memiliki kenangan tentangnya.
Rabb, aku ingin memiliki kenangan di tiap halaman, di tiap
surahnya, di tiap ayatnya. Perkenankan kami, Rabb :”)
- 7 Feb 2016, di perjalanan rihlah arroyan -
May 17, 2015
Lapis Lapis Keberkahan
“Rabbi innii lima
anzalta ilayya min khairin faqiir. Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi
rizqi, Pengatur urusan, dan Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang
Kauturunkan di antara kebaikan amat memerlukan.”
Karena desakan hajat yang
memenuhi jiwa, sebab keinginan-keinginan yang menghantui angan, kita lalu
menghadap penuh harap pada Allah dengan doa-doa. Sesungguhnya meminta apa pun,
selama ianya kebaikan, tak terlarang di sisi Yang Maha Pemurah lagi maha
Penyayang. Bahkan, kita dianjurkan banyak meminta. Sebab, yang tak pernah
memohon apa pun pada Allah, justru jatuh pada kesombongan.
“Kita dianjurkan untuk meminta
kepada Allah,” demikian Dr. ‘Umar Al-Muqbil menggarisbawahi tadabbur atas doa
Musa setelah menolong dua gadis Madyan itu, “baik hal kecil maupun hal besar.”
Dalam kisah ini, sesungguhnya Musa yang kelaparan hendak meminta makanan. Cukup
baginya seandainya dia meminta jamuan kepada orang yang telah diberinya jasa.
Cukup baginya, sekiranya dia mengambil imbalan atas kebaikannya.
Tetapi Musa mengajarkan kita 3
hal penting dalam doanya. Pertama, bahwa hanya Allah yang layak disimpuhi
kedermawanan-Nya, ditadah karunia-Nya, dan diharapi balasan-Nya. Mengharap
kepala makhluq, hanyalah kekecewaan. Meminta kepada makhluq, hanyalah kehinaan.
Bertimpuh pada makhluq, hanyalah kenistaan.
Apa pun hajat kita, kecil maupun
besar, ringan maupun berat, remeh maupun penting; hanya Allah tempat mengharap,
mengadu, dan memohon pertolongan.
Pelajaran kedua dari Musa adalah
adab. Bertata krama pada Allah, pun juga di dalam doa adalah hal yang
seyogiayanya kita utamakan. Para ulama menyepakati tersyariatkannya berdoa
kepada Allah dengan susunan kalimat perintah, sebagaimana banyak tersebut dalam
Al-Qur’an maupun Sunnah. Ia benar dan terbolehkan. Tetapi contoh dari beberapa
Nabi dalam Al-Qur’an menunjukkan ada yang lebih tinggi dari soal boleh atau tak
boleh. Ialah soal patut tak patut. Ialah soal indah tak indah. Ialah soal adab.
Maka demikian pulalah Musa ‘Alaihissalam. Dia tidak mengatakan, “Ya
Allah, berikan.. Ya Allah, turunkan.. Ya Allah, sediakan..”. Dia merundukkan
diri dan berlirih hati,”Duhai Rabbi; Penciptaku; Penguasaku, Penjamin rizqiku,
Pemeliharaku, Pengatur urusanku, sungguh aku, terhadap apa yang Kauturunkan di
antara kebaikan, amat memerlukan”.
Yang ketiga, bahwa Allah dengan
ilmu-Nya yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang baik
bagi diri ini daripada pribadi kita sendiri. Musa menunjukkan bahwa berdoa
bukanlah memberitahu Allah apa hajat-hajat kita, sebab Dia Maha Tahu. Beroda
adalah bincang mesra dengan Rabb yang Maha Kuasa, agar Dia ridhai semua yang
Dia limpahkan, Dia ambil, ataupun yang Dia simpan untuk kita.’’
Maka, Musa tidak mengatakan, “Ya
Allah, berikan padaku makanan”. Dia pasrahkan karunia yang dimintanya pad ailmu
Allah Yang Maha Bijaksana. Dia percayakan anugerah yang dimohonnya pada
pengetahuan Allah Yang Maha Dermawan. Dia pun mengatakn, “Rabbi, sungguh aku,
terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan, amat memerlukan”.
dikutip dari Lapis-lapis Keberkahan, Salim A. Fillah halaman 33-35
Apr 4, 2015
yang paling butuh
sejatinya kamu adalah yang paling faqir
ilmunya. yg kemungkinan paling banyak salahnya sebab kau yg paling banyak
bersua. sejatinya kamulah yang membutuhkan mereka. staff dan adik2. sebab kamu
hanya butiran debu. kamulah yg sedang ditraining untuk memimpin mereka
Feb 24, 2015
Begitulah
Betapa sering kita hidup di dua kondisi yang sangat berlawanan. Di satu sisi kita sering tidak siap dengan keputusan-keputusan Allah yang mengejutkan. Tetapi pada saat yang sama, kita juga malah merasa aman dari rencana dan makar Allah yang mengejutkan. Dengan kata lain, kita takut tetapi kita tidak menyiapkan diri. Kita khawatir tentang kesudahan nanti, tetapi kita tidak mau menabung kebajikan. Kita sangat ngeri, tetapi kita tidak membekali diri. Begitulah.
(Ahmad Zairofi AM dalam Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya)
Feb 9, 2015
SUKA ATAU TIDAK, KESALAHAN AKAN TERBAYAR
Kebanyakan
kita, tak suka bicara soal kesalahan. Tidak selalu karena kita lebih memilih
kebaikan. Kadang, memang itu alasannya. Tapi tidak selamanya. Kebanyakan kita
tak suka bicara kesalahan, sebab ada ambiguitas di sana. Kita benci kesalahan,
tapi toh kita tetap melakukannya juga. Dalam bentuk yang beraneka rupa.
Kadang
kesalahan itu kita jalani dengan sadar. Sesekali batin kita berperang. Tapi
kita lantas menyerah kepada keadaan. Seakan kesalahan adalah kekuatan asing
dari luar diri kita. padahal kita sendiri pelakunya. Seakan kesalahan itu
sendiri lebih perkasa dari karunia kehendak yang diberikan Allah di dalam jiwa
kita. Kita diam, pasrah, dan berputar dari lingkaran kesalahan yang satu ke
lingkaran kesalahan yang lain. Begitupun kita masih mencoba menghibur diri.
Dengan pembenar-pembenar semu. Bahwa ini semua soal pilihan hidup.
Kesalahan
telah ada dari dahulu, sejak kali pertama manusia diciptakan. Tetapi cara
pandang kita tentang kesalahan, mengalami begitu banyak perubahan. Ada
bertingkat-tingkat fase dimana manusia melakukan revolusi pemaknaan terhadap
kesalahan.
Begitu Adam
sadar dirinya salah, seketika ia membayar kesalahan itu. Bertaubat, memohon
ampun, dan yang lebih penting, ia menyadari bahwa dirinya salah. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah
menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (Al-Baqarah:37)
Tetapi hari ini, kesalahan bukan
sekadar “kecelakaan” atau ketidaksengajaan. Saat orang dengan lugu dan tanpa
ilmu menerobos tabu. Hari ini kesalahan telah berevolusi menjadi cita-cita.
Kesalahan adalah puncak “ikhtiar”. Kesalahan adalah seni, kreativitas, budaya,
dan semua uji teknologi. Kesalahan adalah kesengajaan yang dibanggakan.
Orang-orang yang tidak peduli
dengan kesalahan yang dengan berani melanggar aturan, mereka bukan orang hebat.
Ada ketidakberdayaan tersembunyi di sana. Akan tiba suatu hari, bahwa semua
kita tak lebih hanya orang-orang lemah. Terlalu banyak kekuatan lain yang tak
bisa kita lawan. Seperti sakit, keriput wajah yang menua, tulang belulang yang
rapuh, daya ingat yang kosong, dan tentu saja kematian yang menghentikan.
Layaknya kaca yang bening,
kesalahan bagi kehidupan adalah bintik-bintik debu, atau tetes-tetes noda, atau
bahkan gumpalan-gumpalan kotoran. Maka kesalahan selalu saja mengotori
kebeningan, menodai kejernihan, dalam dimensinya yang luas. Karenanya,
kesalahan harus dibersihkan seperti dijelaskan Rasulullah, “Sesungguhnya
seorang manusia, jika ia melakukan dosa maka di hatinya akan tercoreng warna
hitam, dan jika ia meninggalkan perbuatan dosa itu serta bertaubat darinya,
maka hatinya kembali bersih. Jika kembali melakukan dosa itu, maka hitamnya
akan ditambah hingga menutupi seluruh hatinya, itulah tutupan yang disebutkan
Allah dalam firman-Nya, sama sekali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
(HR Tirmidzi).
Pada sebentuk kesalahan, selalu
ada yang terkurangi dari hak diri
sendiri atau orang lain. Atau terdzalimi, atau terugikan. Kesalahan, sejatinya,
adalah cacat yang mengurangi bobot dari sisi tertentu kehidupan kita. Maka
kesalahan selalu meninggalkan hutang. Setidaknya hutang kesalahan itu sendiri
di mata Allah SWT.
Hutang kesalahan itu harus
dibayar. Begitulah peraturannya. Bahkan di komunitas orang-orang yang tak
meyakini Tuhan sekalipun, mereka percaya prinsip itu. Orang-orang primitif
dahulu karenanya, punya cara sendiri bagaimana menebus kesalahan itu. Najis dan
kotoran dalam ajaran Yahudi dahulu, harus dibersihkan sekaligus dengan
tempatnya. Bila mengenai kain harus dipotong kainnya. Bila mengenai kulit harus
dicungkil kulitnya. Dosa-dosa tertulis di pintu masing-masing. Tidak ada
rasionalisme di sana. Yang ada bahwa segala yang kotor harus dibersihkan. Meski
itu harus mengorbankan nyawa mereka. Tapi itu setidaknya lebih elegan secara
kemanusian, dari orang-orang sekarang. Yang tak sudi membayar kesalahan.
Tak ada kedigdayaan absolut pada
diri kita. Kita hanya makhluk Allah, ciptaan-Nya. Di atas bumi-Nya kita
berpijak. Kita lahir dan ada karena kehendak-Nya. Bahkan kita sendiri tak bisa
memilih untuk ada atau tidak ada, untuk menjadi lelaki atau perempuan sejak
semula. Lalu, dengan tertatih kita belajar tentang wujud, tentang ganjaran, dan
akhirnya kepada Allah pula kita kembali. Maka, mungkinkah kita bisa lari dari
membayar kesalahan?
Sejatinya kita akan membayar
kesalahan itu, kelak, suka atau tidak suka. Tetapi membayar kesalahan selagi di
sini, di dunia ini, adalah pilihan bagi orang-orang dewasa. Mereka lebih
memilih menjadi pemberani, membayar hutang kesalahan itu di sini. Sementara
para pengecut dan orang-orang yang berjiwa kekanak-kanakan, selalu punya
segudang alasan untuk menunda membayar kesalahan.
Di sini, di dunia inilah
sesungguhnya tempat yang paling memungkinkan kita membayar kesalahan. Jangan
menunggu kehidupan di akhirat kelak, ketika segalanya sudah tidak memungkinkan
lagi. Ketika sangat sulit bagi kita membayar kesalahan itu, kecuali dengan cara
yang tidak akan kita sukai. Sebab di sana kita harus membayarnya dengan
terpaksa, dengan cara yang tidak enak. Dengan azab dan siksa, kecuali Allah
mengampuninya.
Mereka yang menganggap kesalahan
adalah kebebasan berperilaku hari ini, sementara yang nanti adalah nanti,
sesungguhnya orang-orang lemah. Mereka haya menunda penyesalan, dan menumpuknya
menjadi malapetaka di kemudian. Sebab matahari belum berhenti, selalu ada hari
baru, usia baru, dan itu artinya hidup kita semakin jauh banyak yang berlalu.
Mereka telah kalah dengan cara yang tidak terhormat.
Kita mungkin tak suka bicara
soal kesalahan. Sebab ada pertarungan di sana. Nurani kita yang jujur
menginginkan jalan kebaikan. Tetapi hawa nafsu kita yang angkuh menginginkan
jalan keburukan. Di ambang batas antara kejujuran dan keangkuhan itulah dosa
dan kesalahan bertarung. Melawan suara hati yang polos dan sejalan dengan
fitrah.
Maka, di sini, di dunia ini,
bayarlah kesalahan-kesalahan kita. Selagi masih ada nafas. Selagi mata belum
terlelap. Sebab toh suka atau tidak suka, kesalahan pada akhirnya akan terbayar
juga. Kelak, di hari segala amal ditimbang dan diberi pembalasan
seadil-adilnya.
(Ahmad Zairofi AM dalam Lelaki
Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya)
Jan 22, 2015
hidup
“Apakah hidup memang sesulit ini?” tanya In Hae, bocah
cantik dalam Good Doctor.
Pertanyan In Hae itu bagai diputar keras-keras dan terdengar berkali-kali di telingaku
setiap kali aku merasa tak mampu hadapi rentetan masalah ini.
Hidup tak sulit, tapi memang beginilah adanya. Sikapmu yang
jadi penentu, akan seperti apa kau di hari esok. Akan jadi dokter yang
bagaimana? Akan jadi hafizhah yang seperti apa?
Memang seperti itulah hidup. Dan memang begini jatah
hidupmu, yang sudah tentu harus kau syukuri. Ingat kan perjuangan dakwahnya
Nabi dan para sahabat? Yang ditimpa bertubi-tubi cobaan hatta mereka merasa ga
sanggup, dan Nabi berkata: istirahat nanti, ketika kaki menapak Jannah.
Pahamilah ma! Segala-galanya ini, untuk membayar itu. Cobaan
ini, perih ini, derita ini, ayo konversikan itu jadi rasa manis kehidupan.
Seperti Nabi yang kakinya bengkak ketika shalat, namun tak dirasa lagi sebab
cinta pada Allah.
Mungkin Allah rindu dengan tangismu, dengan sendumu, dengan
tawakkalmu padaNya. Maka Allah cabut nikmat libur cepat-cepat. Ada hadiah yang
menantimu sayang, jangan putus asa dengan rahmat Allah okey ;)
Sep 15, 2014
pada akhirnya..
Dari ustad Hilman Rosyad
Jika derita dan nestapa akan menjadi masa lalu pada
akhirnya? mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa? Sedang ketegaran akan
lesbih indah dikenang nantinya
Jika kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa
tidak dinikmati saja? Sedang keluhan dan isak tangis tak akan mengubah apa-apa
Jika luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa? Sedang ketabahan, kesabaran dan
keikhlasan adalah lebih utama
Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa
mesti ingin dimiliki sendiri saja?Sedang kedermawanan justeru akan melipat
gandakannya.
Jika kepandaian akan menjadi masa lalu pd akhirnya, mengapa
mesti membusung dada? Angkuh & bahkan berbuat kerusakan di dunia?Sedang
dengan kepandaiannya manusia diminta mengelola dunia dan segala isinya agar
adil sejahtera bagi umatNya.
Jika bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa
mesti sendiri saja dirasa? Sedang berbagi bahagia akan membuatnya lebih
bermakna.
Jika hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa
mesti diisi dengan kesia-siaan belaka?Sedang begitu banyak kebaikan bisa
dicipta dan diperbuat
Jika pesan ini akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa
mesti engkau nikmati sendiri saja?Sedang membagikannya pada sesama akan jauh lebih
berpahala
Suatu hari, saat semua telah menjadi masa lalu aku ingin
duduk di hamparan taman-taman surgawi. Bersamamu sahabat, bersama
orang-orang yg kita cintai, sambil saling bercerita dan bercengkrama mengenai
apa yg telah kita lakukan di masa lalu yg indah hingga kita mendapatkan
anugerah-keabadianNYA.
-forward dari kaksyay
Jan 30, 2014
lagi-lagi ikhlas
Beberapa hal baru baru bisa dipahami setelah bertahun2 terjadi. Keikhlasan menerima kehendak yg jd kunci agar
pemahamannya bs muncul.. -june 10, 2013 via facebook
pemahamannya bs muncul.. -june 10, 2013 via facebook
sabar?
karena kesabaran tak mengenal batas, maka bersabarlah sampai mimpimu ada di tanganmu -march 23,2013 via facebook
iyalah, kalau ada batasnya mah bukan sabar namanya *smile*
Kamu tidak menunggu
Kamu tidak menunggu waktu luang, tetapi meluangkan waktu untuk mimpimu! -asma nadia
iseng buka-buka fb nemu ini, share jaman 2013 awal :')
Dec 22, 2013
TIMAPRES13
Ingin sedikit berbagi mengenai
talkshow inspiratif imapres (ikatan mahasiswa berprestasi) sebelas maret yang
diadakan Sabtu, 21 Desember 2013 di gedung B FPUNS. Acara yang disusun oleh
mawapresUNS2013 (9orang mawapres) ini menghadirkan 4 orang mawapres tamu
(dibahas selanjutnya). Dan masyaAllah, dari talkshow yang hanya berlangsung 2
jam, banyak sekali inspirasi yang didapat. Talkshow dipandu oleh Mawapres UNS
dari FISIP, Mas Eri. Berikut adalah keempat mawapres yang jadi tamu di talkshow
ini:
1 dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, Ph.D
-
Mawapres Nasional 1 1996,
pertama kali UNS meraih nasional 1, dan hingga 2013 belum ada lagi yang meraih
nasional 1.
-
Dokter yang juga dosen,
bendahara lazis, pengurus pmi, ketua RT, dan lainnya. “saya bisa melakukan
banyak hal karena saya seorang dokter. sesibuk apapun aktivitas kita, jangan
pernah lupakan core competence kita. Saya jadi bendahara lazis, karena saya
seorang dokter. atau ketika jadi pasrah manten, maka saya akan selipkan pesan
kesehatan, karena saya seorang dokter.”
-
Kata-kata yang
menginspirasi beliau ketika maju mawapres nasional adalah kata-kata rektor
ketika itu (alm), “masa iya sih UNS gabisa jadi juara?!”. Ketika itu dokter
tonang merasa minder dengan univ macam UGM, UI, ITB, Unpad, Unud yang
pembicaraan mahasiswa2nya adalah seputar acara di luar negeri. Sementara
beliau? Tapi Alhamdulillah beliau membuktikan bahwa 1996 itu mawapresUNS
berhasil jadi mawapres nasional 1. “kadang kita merasa terkungkung oleh tembok
besar/tinggi yaitu sebuah ketidakmampuan, padahal kalau kita mundur selangkah
dan mencoba untuk melakukannya, maka tembok besar tadi seolah-olah tak
ada (bukan sebuah halangan lagi)”.
-
Dulu ingin masuk ke
Hubungan Internasional, tapi malah dapat PMDK di Pend Dokter FKUNS. Tahun
pertama nilai beliau (katanya) jelek. Sampai mau coba ujian untuk masuk ke HI
Unpad/UI, tapi akhirnya gajadi karena ibunya bilang: “masuk PMDK itu barokah,
kalau kamu keluar, berarti kamu melawan barokah”. Akhirnya beliau mikir lagi
dan mulai sadar bahwa Ini adalah jalan
saya. :’)
-
Terinspirasi dari
guru Po di Kungfu Panda yang intinya ‘kadang kita merasa ini bukan jalan saya.
Padahal sebenarnya ini adalah jalan saya’. Intinya sama seperti apa yang Allah
sampaikan di 2:216 à
‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui’
2 Mbak Birrul Qodriyah
-
Mawapres utama UGM 2013
-
Mahasiswi Ilmu Keperawatan
2010
-
Satu-satunya di keluarga
yang menjadi ‘mahasiswa’. Saat baru masuk tak punya bayangan bagaimana itu
mahasiswa, dan iseng menulis di agenda: Mawapres 1 UGM. Dan akhirnya Allah
kabulkan di 2013 ini :’)
-
Mawapres Nasional
Terinspiratif. Sebelum kompetisi mawapres nasional, diundang di acara dikti dan
kisahnya banyak menginpirasi masyarakat.
-
Penerima beasiswa BidikMisi
dan (satu lagi saya lupa, maaf..), mbak Birrul berpikir: ‘bagaimana cara saya
bersyukur dengan beasiswa-beasiswa yang sudah saya dapat?’ :’’
-
Kata-kata ayah yang sangat
menginspirasinya: “Profesionallah dengan profesimu”. Kemudian berpikir keras,
bagaimana profesionalnya seorang mahasiswa? Setelah bertanya ke kakak tingkat,
akhirnya mendapat jawaban bahwa mahasiswa dikatakan professional dengan
mengikuti PIMNAS dan Mawapres. Mbak Birrul pun mengikuti banyak kompetisi yang
mengantarkannya jadi mawapres.
3. Mas Agus Widodo
-
Mawapres utama UNNES 2013
-
Mahasiswa Sastra Inggris
2010
-
Mawapres Nasional 3 2013
-
“Jadi mawapres itu
keuntungannya jadi dekat dengan Dikti; jadinya kalau mau ikut event
internasional pasti diutamakan”.
4. Mas Rachmad Adi Riyanto
-
Mawapres utama UNS 2013
-
Mahasiswa Ilmu Teknologi
Pangan 2010
-
Dari dulu sudah pengin jadi
mawapres, maka beliau melakukan banyak hal dari smt 1 biar bisa jadi mawapres.
Mendekati seleksi mawapres, sering kepo medsos teman2 calon mawapres lainnya.
-
Di proposal hidupnya dulu
ditulis: jadi mawapres fakultas dan 3 besar mawapres univ. makanya pas ternyata
beliau jadi mawapres utama, malah cengo d:
-
Tugas mahasiswa itu 5B +
1S: belajar, berkarya, berprestasi, bermanfaat, bermartabat, dan berSyukur :’)
Setelah bincang-bincang, keempat
tamu ini lalu memberikan pesan-pesan untuk para pesertanya:
1. dr. Tonang
-
orang sukses itu seperti
orang yang berlari. Kesuksesan bukan diukur dari seberapa cepat larinya, atau
seberapa jauh jarak yang ditempuh, TAPI seberapa banyak yang ia lakukan ketika berlari itu. Jadi, bukan seberapa lama
kita hidup namun berapa banyak bekal yang sudah kita kumpulkan. Apakah kita
akan jadi orang yang hidup lama dengan bekal sedikit? Atau hidup sedikit dengan
bekal banyak? Tentu tak penting seberapa lama kita hidup, tapi sebanyak apa
bekal yang bisa kita kumpulkan? Ingatlah firman Allah di AlMulk:2 à’ Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.’ :’’
-
Pilihlah 1 kegiatan,
tekuni, dan berprestasilah disana. Dan kamu akan melejit!
2. Mbak Birrul
-
Mawapres itu bukan prestasi
tertinggi, tapi merupakan sebuah pengakuan puncak bagi kumpulan2 prestasi
seorang mahasiswa.
-
Jadilah mahasiswa bukan
yang bermasalah/ mempermasalahkan masalah, tapi jadilah bagian dari solusi
masalah.
3. Mas Agus
-
Jadikan 1 hal atau beberapa
hal sebagai motivasi terbesar kalian!
4. Mas Rachmad
-
Mawapres itu bukan mahasiswa
paling pintar atau paling baik. Tapi dengan jadi mawapres, kita akan
termotivasi untuk menjadi teladan yang baik.
Di akhir talkshow, ada pertanyaan
tentang bagaimana para mawapres ini memanaj waktu mereka, berikut jawabannya
1. Mas Rachmad
-
Sebelum saya jawab, saya
ralat sedikit yaa. Bukan manajemen waktu, karena waktu itu selalu berjalan,
kita mana bisa nyuruh ‘eh waktu, berhenti sebentar dong’ tapi yang benar adalah
bagaimana manajemen diri kita pada waktu (:
-
Kalau saudara diberi hadiah
sekian juta oleh bank, maka pasti akan dimanfaatkan dengan baik kan? Nah ketika
kita menganggap waktu adalah hadiah yang sangat berharga, maka manfaatkanlah!
-
Tipsnya yaitu kenali
kesibukan diri. Usahakan agar kita tidak punya banyak waktu luang, karena
katanya anak muda dan waktu luang identik dengan maksiat ya? Maka sibukkan diri
kita dengan hal yang positif sehingga tidak ada waktu luang untuk bermaksiat.
2.
Mbak Birrul
-
Waktu itu seperti
teman-teman naik taksi, harus punya tujuan yang jelas. Kalau naik taksi, ga
punya tujuan, kita akan diantar kemana? Pasti akan muter-muter dan kembali ke
tempat awal. Begitu juga waktu, kalau dibiarkan, ya akan terus jalan, sementara
jatah hidup kita di dunia terus berkurang. Mau disia-siakan? Maka kita harus
punya tujuan hidup yang jelas. Saya belajar mengatur waktu ketika saya ikut
banyak organisasi. Tapi di setiap organisasi saya punya tujuannya. Misal ketika
semester 1 ikut 5 organisasi, ikut BEM tujuannya supaya bisa jadi public
speaker, ikut organisasi ilmiah tujuannya menghasilkan sekian karya. Ada goal
yang jelas di tiap organisasi yang saya ikuti.
-
Kenali kapasitas diri.
Manusia 1 dengan yang lainnya tidak bisa disamakan, karena kapasitas dirinya
berbeda-beda.
-
Buat daftar apa yang harus
saya lakukan hari ini. Setelah itu akan terlihat, kegiatan mana saja yang harus
diprioritaskan dan tentukan juga alternatifnya.
-
Pastikan tiap detik itu
berharga. Prinsip hidup saya: do the best and Allah will give success. Ketika
kita melakukan yang terbaik, maka serahkan semua pada Allah, biar Allah saja
yang tentukan hasilnya apa kita pantas jadi yang terbaik, apa kita pantas
sukses. Lakukan yang terbaik saja! :’)
3.
dr. Tonang
-
mulailah dan berakhirlah
dengan core competence. Semua kegiatan saya berangkat dr dokter dan kembali ke
dokter. sehingga semua aktivitas saya tidak terasa berat.
-
Lakukan semua karena ibadah
padaNya, insyaAllah ga akan berat :’’)
Selain talkshow
dengan 4 orang mawapres kece-kece tadi, hari itu juga ada peresmian IMAPRES
SEBELAS MARET (Ikatan Mahasiswa Berprestasi Sebelas Maret). Apasih tujuan
imapres ini? Tujuannya untuk mengenalkan mawapres pada mahasiswa. Kalau
mahasiswa kenal dengan mawapres, kelebihan jadi mawapres, mahasiswa akan
berpacu untuk jadi mawapres, dan otomatis mahasiswa ini akan mengumpulkan
prestasi. Dengan perolehan prestasi yang banyak, diharapkan nama UNS jadi
dikenal oleh masyarakat luas. Selama ini orang kan suka salah kira. Dikiranya UNS
itu Universitas Negeri Solo, atau apalah. Banyak juga yang gatau UNS itu
dimana. Makanya tugas kita sebagai mahasiswa yaitu mengenalkan UNS pada
masyarakat, pada teman-teman di universitas lain supaya mereka tahu kalau UNS
itu Universitas Sebelas Maret yang ada di Surakarta. goal utamanya imapres
sebenarnya ini. Agar mahasiswa UNS lebih terpacu untuk berprestasi. Kalau ngga
kita yg ngenalin, siapa lagi? Smangaaaaat ^^9
Sekian yang
saya dapat dari acara timapres13 kemarin, maturnuwun (:
Nov 17, 2013
tentang cinta
Bismillah
biar cinta jadi lembaran menarik yang layak dibaca..
jauhkan yg dicinta dari api, dekatkan ia pada cinta Illahi
lelaki pecinta Allah, memuliakan wanita adalah menjaga jarak dan melindungi izzah. tak mengajak wanita salag langkah, sungguh kehormatan itu lebih daripada darah
wanita pecinta Allah, pintar menempatkan diri agar tak jadi fitnah. menghormati pria adalah tidak mengumpankan manis harapan, membuat pria gelisah.
pandangan mata, tutur lisan, dan gerak badan adalah senar-senar asmara yang berbahaya bagi pria apalagi wanita
bicaralah cinta pada perjuangan dakwah menegakkan kehidupan islami | tak banggakah kita mencinta yang Rasul cinta?
katakanlah cinta pada pergerakan islam yang harus terus dibela | tak senangkah kita membela apa yang Rasul bela dalam hidupnya?
yang muda boleh bercinta, namun tidak dengan cara kaum penyembah berhala. yang menjadikan cinta sebagai tandingan sesembahan selain Dia
bila belum sanggup mengikat cinta, bersabar adalah pilihan yang utama. bersabar untuk masa depan, masa yang lebih lama
Allah sayang kepada hamba-hambaNya yang berserah dan menjaga diri. terlebih lagi kaum muda yang memperhatikan harga diri
-dikutip dari Udah, Putusin Aja @FelixSiauw
jangan lihat siapa yang menulis, tapi lihat isinya. semoga bisa jadi bahan evaluasi kita (:
Oct 12, 2013
dulu. dan sekarang
GAMAIS ITB. Keluarga mahasiswa
islam ITB. | yaAllah.. Rabb.. bantu aku
melepaskan mimpi-mimpi ini. Tolong aku mengikhlaskan semua impian ini. Yang
sudah terpatri, bagai dipaku di kepala. yaAllah berikan pengganti mimpi
itu di solo. Keluarga yang jauh lebih baik bagiku. Mungkin gamais baik, tapi
mungkin ada yang lebih baik baiku. Rabb tolong.. :’( | kamu bahkan menyerah sebelum
bertarung. Ah mimpi apa itu ma. | Aku tidak menyerah ): | alasan saja | Aku.. Ah bodohnya diri ini sungguh.
Pembual besar. Membualkan mimpi-mimpi setinggi langit. | Ma. Harusnya ingat betapa
beraninya kamu dulu mengambil keputusan ini. Jikalau senyuman umi abi yang kau
harap, maka harusnya itulah yang menjadi spirit perjuangan di fk. | Mestakung? Hah rasanya untuk
masuk kimia, semesta tak mendukungku.| Jika ridha Allah jadi tujuan,
rasa sakit takkan dirasakan.
***
Itu pergolakan batin yang terjadi
ketika awal mencicipi dunia fk. Masih awal sekali. Masih penuh ego dan ketidak
ikhlasan. Astaghfirullahal’adzim, betapa tidak bersyukurnya diri ini.
Sekarang, setelah 2 bulan disini,
setelah mengikuti training esq, ikut banyak kajian, kenal dengan banyak sosok
luar biasa; Allah bagai menjawab keluh kesah di atas. Sungguh, kuliah di fkuns dan
nyantri di pesmi Arroyyan adalah yang terbaik.
Allah memberikan keluarga,
pengganti gamais yang kemarin terlihat terbaik bagiku, dengan banyak keluarga
baru disini. Keluarga Arroyyan, semoga kelak kami dapat jadi satu keluarga jua
di Jannah ArRoyyanMu kelak YaAllah :’) Keluarga Alacritas, keluarga pendidikan
dokter, keluarga di fakultas kedoteran, keluarga mahasiswa islam. Alhamdulillah
YaAllah.. maka benar kata imam syafii, merantaulah, maka kau akan dapatkan
pengganti keluarga yang ditinggalkan :’)
Mengenai mestakung di atas,
sepertinya harus diralat. Salah besar jika semesta tidak mendukung. Siapa
bilang di jurusan ini tak bisa berdekat-dekat dengan kimia dan jadi scientist?
Bisa kok insyaAllah. Dan asma merasa Allah sudah tunjukkan jalannya. Kuliah
disini, bertemu lulusan jepang seperti dr Tonang, dr Afi, dr.Indah yang luar
biasa. Dan bisa jadi salah satu asuhan dr. Afi di Biomedical Study Club adalah
satu hal yang sangat disyukuri. Oh.. begini maksudnya Allah. Mungkin harus
memantaskan diri dulu sebelum belajar di jepang, salah satunya dengan menjadi
muridnya dokter2 hebat ini.
Sungguh, aku tunduk pada Allah.
Pada segala ketentuanNya. Terima kasih Rabb atas segala kemurahanMu :’)
Subscribe to:
Posts (Atom)

