Showing posts with label favorite book. Show all posts
Showing posts with label favorite book. Show all posts

Jul 14, 2017

Mahkota Perempuan

Oleh: dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp.OG

Bila ditanya organ apa yang paling unik dan ajaib di tubuh seorang perempuan, aku yakin jawabannya adalah rahim. Untukku yang hidup di dunia obstetri dan ginekologi selama 5 tahun terakhir, rahim bukan hanya sekedar unik dan ajaib. Bayangkan, rahim yang dalam keadaan normal ukurannya tak lebih dari kepalan tangan orang dewasa, bisa membesar hampir seribu kali lipat untuk memberi ruang seorang bayi seberat rata-rata 3 kg, plasenta (ari-ari) seberat 500 gram, dan air ketuban sebanyak 1 liter. Itu kalau hamilnya tunggal, kalau multipel atau bayinya besar atau cairan ketuban berlebih, tentu rahim mesti melar lebih besar lagi.

Perkembangan teknologi reproduksi sekarang sudah bisa mengambil alih fungsi beberapa organ yang terganggu dan menyebabkan seseorang susah atau tidak bisa hamil dan memiliki keturunan. Bayi tabung misalnya, yang beken juga dengan istilah fertilisasi in vitro, merupakan serangkaian proses rumit teknologi reproduksi berbantu yang mempertemukan sel telur dan sel sperma pasangan di luar tubuh, dan kemudian mengembalikan hasil pembuahannya ke rahim perempuan untuk tumbuh. Namun hingga saat ini, belum ada teknologi yang bisa menggantikan rahim sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya seorang calon manusia. Jangankan membuat alat dengan fungsi yang sama, proses fisiologis bagaimana terjadinya fertilisasi (pembuahan sel telur oleh sperma), implantasi (menempelnya calon janin ke rahim), dan tumbuh kembang janin dalam rahim saja masih merupakan teka-teki bagi umat manusia.
Tak heran bila kemudian perempuan menjadikan rahim sebagai salah satu mahkota kewanitaannya (selain rambut tentunya).

Namun demikian, tidak semua perempuan dianugerahi rahim fungsional sepanjang hidupnya. Ada yang memang dari "sono" nya ditakdirkan Sang Pencipta untuk tak pernah memiliki rahim, ada juga yang terpaksa kehilangan rahim di tengah perjalanan hidupnya. Selama 5 tahun terakhir ini, entah sudah berapa perempuan yang ku"pancung" rahimnya. Ternyata, operasi pengangkatan rahim, yang lazim dikenal sebagai histerektomi, adalah jenis tindakan operasi yang paling banyak dilakukan di Amerika Serikat, mungkin juga di tempat lain.

Hari itu aku bertugas di Poliklinik Endokrinologi Ginekologi. Seorang perempuan muda dan cantik mengenakan jilbab trendi ditemani dengan seorang pria (yang kemudian aku ketahui sebagai suaminya) masuk membawa amplop coklat besar berisi beberapa lembar hasil pemeriksaan penunjang. Pasangan itu datang berobat karena sudah 2 tahun menikah, tapi sang istri tak juga kunjung hamil. Semua hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sang istri menderita suatu kondisi yang dikenal sebagai Mayer Rokitansky Kuster Hauser syndrome. Secara sederhana, terdapat gangguan pada proses pembentukan organ reproduksinya sehingga rahim, saluran telur, dan vagina bagian atasnya tidak terbentuk, namun indung telur terbentuk dengan sempurna.

Dengan menunjukkan empati yang dalam, aku mendampingi konsultan yang bertugas saat itu menjelaskan pada mereka berdua kondisi yang diderita sang istri dengan bahasa yang mudah dipahami. Menerangkan pada mereka bahwa sang istri tidak mungkin hamil, karena tidak ada rahim yang bisa menampung bayi mereka. Teknologi bayi tabung pun tidak dapat membantu, karena tetap harus ada rahim. Surrogacy, atau meminjam rahim perempuan lain untuk mengandung bayi mereka, tidak dilegalkan di Indonesia.

Sang istri menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan kami. Sang suami, dengan tampang terbelalak menyelutuk "Kok bisa gitu sih Dok...Dokter liat kan bodinya 'bohay' gitu, masak mandul siiihh...??". Gedubrak, apa hubungannya sih ya, sungutku dalam hati. Dan sang suami masih tak putus harapan untuk memiliki keturunan dari istrinya itu. "Dokter, kalau misalnya saya punya istri lagi, dan rahim istri saya yang lain itu yang dipinjam untuk mengandung anak saya dari istri yang ini, dibolehkan tidak secara hukum?" tanyanya dengan antusias. Ya ampun, ribet banget sih ya, pikirku sambil melirik ke arah sang istri yang mukanya makin pucat mendengar si suami berniat mencari istri lagi...

Tapi tidak semua perempuan berpendapat bahwa memiliki rahim adalah anugrah. Pagi itu aku mendapat kiriman seorang nyonya berusia 35 tahun dengan riwayat perdarahan haid yang sangat banyak dan nyeri haid hebat. Sudah 10 tahun menikah, tapi belum pernah berhasil hamil. Pasien itu sudah berulang kali mendapat transfusi karena perdarahan haidnya yang luar biasa banyak. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, kami menyimpulkan nyonya itu menderita adenomiosis, suatu kondisi di mana jaringan rahim yang meluruh saat haid berada pada tempat yang tidak seharusnya, dalam kasus ini pada dinding otot rahim. Dokter di rumah sakit sebelumnya telah mencoba melakukan operasi untuk mengangkat adenomiosis itu. Namun ternyata terdapat perlengketan luar biasa antara rahim dengan organ-organ di dalam panggul lainnya, sehingga beliau tidak berani melanjutkan operasi karena khawatir mencederai organ lain. Dokter tersebut kemudian merujuknya ke rumah sakit kami.

Saat mendiskusikan alternatif terapi untuk kondisi adenomiosisnya, sang nyonya tidak mengindahkan penjelasanku mengenai alternatif terapi medikamentosa atau pembedahan konservatif yang hanya mengambil adenomiosisnya saja. Dia bersikeras supaya rahimnya segera diangkat, semuanya!! Sambil mengernyit aku bertanya, apakah dia tidak berpikir untuk ingin hamil di kemudian hari. Dengan berapi-api dia menukas "Dokter, saya sudah tidak tahan menanggung nyeri hebat saat haid selama bertahun-tahun. Belum lagi darah haid yang banyak sekali, membuat saya harus berkali-kali ditransfusi. Jangankan berpikir untuk punya anak, untuk hidup normal dan senang saja saya susah..!! Pokoknya saya mau rahim saya diambil semua, jadi saya tidak harus menderita terus seumur hidup..!!" Sementara sang suami membisu di sampingnya tak berani berkomentar.

Setelah penjelasan panjang lebar mengenai segala risiko dan konsekuensi operasi pengangkatan rahim, akhirnya sepasang suami istri itu menandatangani surat persetujuan tindakan pengangkatan rahim total. Operasi berjalan lancar, dan dalam tiga hari sang nyonya sudah dapat pulang ke rumah. Minggu depannya saat dia kontrol ke Poliklinik, dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang padaku karena telah mengambil rahim yang menurutnya telah menjadi sumber bencana...

Keberadaan rahim memang memberikan janji akan kehidupan bagi seorang calon manusia. Namun di sisi lain, keberadaan rahim bisa menjadi ancaman kematian bagi seorang perempuan. Seperti petang itu saat aku dan tim jaga IGD sedang melakukan ronde pasien, terdengar teriakan menggelegar dari ruang akut "Ha Pe Peeeeeee...!!!!".

HPP, hemorragic post partum, atau perdarahan pasca persalinan adalah pembunuh nomor satu perempuan Indonesia yang meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Penyebab tersering perdarahan pasca persalinan adalah kontraksi rahim yang tidak adekuat (atonia) setelah bayi lahir, menyebabkan aliran darah ke rahim tidak dapat dihentikan dan dalam hitungan menit seorang perempuan bisa kehabisan darah.

Teriakan "HPP" adalah alarm utama bagi kami residen obgin. Tanpa dikomando, tim jaga langsung berlari ke ruang akut membawa semua peralatan resusitasi dan obat-obatan yang diperlukan. Pasien yang baru datang itu adalah seorang nyonya berusia 23 tahun, yang sejam lalu baru melahirkan seorang bayi laki-laki pertamanya melalui persalinan normal di bidan dekat rumahnya. Proses persalinan berjalan cukup lama, namun akhirnya lahir juga bayi dengan berat 3800 gram itu. Setelah plasentanya lahir, bidan yang membantu persalinannya panik karena darah tidak kunjung berhenti mengalir dari jalan lahirnya.

Residen jaga akut segera berkicau melaporkan kondisi pasien itu, "kesadaran somnolen, airway bebas, nafas 16x per menit, nadi 130x per menit lemah, tekanan darah 70/40, kontraksi uterus (rahim) jelek, perdarahan aktif merembes...". Serentak perawat dan bidan jaga memasang sungkup oksigen dan 2 akses vena untuk resusitasi cairan, simultan dengan mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium dan permintaan komponen darah ke PMI. "Syok hipovolemik karena HPP" seruku, "eksplorasi kemungkinan penyebab perdarahan lain selain atonia dan siapkan kamar operasi..!!". Sementara kolegaku yang lain sibuk melakukan kompresi bimanual untuk menekan rahim agar berkontraksi dan memasukkan obat-obatan yang diharapkan mampu memperbaiki kontraksi rahim.

Beberapa menit kemudian kami menyimpulkan bahwa memang penyebab HPP perempuan tersebut adalah atonia, dan tidak terdapat perbaikan kontraksi setelah dilakukan kompresi maupun pemberian obat-obatan. Tidak ada jalan lain, dengan kondisi hemodinamik yang tidak stabil dan perdarahan aktif terus mengalir, kami harus melangkah ke kamar operasi. Risiko operasi sangat tinggi, pasien bisa meninggal di atas meja operasi dengan kondisi buruk seperti saat ini. Namun bila tidak dilakukan, maka hasil akhirnya sudah bisa ditebak.

Didampingi kolegaku dari Anestesi, kami berbicara dengan suami dan beberapa anggota keluarga dekat pasien itu. Kami jelaskan kondisinya saat ini sangat kritis, dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah menghentikan perdarahan yang terjadi. Cara optimal menghentikan perdarahan saat ini adalah melakukan operasi untuk mengangkat rahimnya yang menjadi sumber perdarahan dan mengikat seluruh pembuluh darah yang menuju rahim agar darah tidak bocor keluar terus-menerus.

Ruangan tempat kami berbicara seketika hening setelah penjelasanku berakhir. Sang suami menatapku dengan tatapan kosong. Anggota keluarga yang lain mulai terisak-isak. Sementara juniorku di luar ruangan sudah tak sabar menanti keputusan, apakah sang suami mengijinkan atau tidak. Kami tidak bisa memulai operasi tanpa ijin sang suami, padahal setiap detik berlalu dengan sekian tetes darah terbuang percuma.

Jarum jam seakan bergerak sangat lambat sampai akhirnya terbuka juga mulut pria malang itu, "lakukan yang terbaik Dokter...Saya mohon, selamatkan istri saya...Jangan biarkan bayi kami kehilangan ibunya..." ujarnya terbata dengan mata berkaca-kaca. Aku tertegun sejenak, "insha Allah pak, doakan...Hanya Allah yang berhak menentukan nasib hamba-Nya."

Setelah itu waktu seakan berlari. Kami berhasil mengontrol perdarahan setelah mengangkat rahim dan mengikat beberapa pembuluh darah. Komponen darah dari PMI datang tepat pada waktunya untuk mengganti darah yang sudah keluar sebelumnya. Perempuan itu akhirnya stabil dalam perawatan di ICU pasca operasi. Aku teringat kata-kata bijak salah seorang guruku "lebih baik hidup tanpa uterus, daripada mati membawa uterus...".

Namun kisah kehilangan rahim perempuan yang satu ini menurutku adalah yang paling tragis. Sore itu kami baru saja "operan" jaga, perpindahan dari tim jaga satu ke tim jaga lainnya. Pasien saat itu membanjir bagai air bah, sehingga suasana IGD tak ubahnya pasar malam. Sepasang suami istri setengah baya tampak keluar dari pintu lift yang terbuka diikuti dengan seorang petugas yang mendorong brankar dengan seorang gadis belia tergolek lemah di atasnya.

Karena tampak begitu lemah, kami segera memprioritaskan gadis itu untuk ditangani terlebih dahulu. Setelah melakukan pemeriksaan awal dan melakukan stabilisasi, kami menyimpulkan bahwa gadis itu menderita infeksi berat yang menyebabkan respon sistemik buruk dan terdapat ancaman kegagalan kardiovaskular karenanya, syok sepsis istilah kami. Untuk memastikan dari mana sumber infeksinya, kami menggali informasi lebih dalam lagi kondisi pasien itu. Gadis itu baru berusia 15 tahun, duduk di kelas 3 SMP. Sekitar 2 minggu yang lalu, kedua orang tuanya memergoki bahwa anak keduanya itu ternyata hamil akibat hubungan "kebablasan" dengan pacarnya. Setelah ketahuan hamil, si pacar menghilang tak ketahuan rimbanya. Kedua orang tuanya panik, terlebih si anak kemudian mogok sekolah karena malu dan khawatir kondisinya diketahui teman-temannya.

Entah dengan pertimbangan apa dan informasi dari siapa, si ayah akhirnya memutuskan untuk membawanya ke sebuah klinik di daerah utara Jakarta untuk mengakhiri kehamilan anaknya. Tidak jelas prosedur macam apa yang dilakukan di sana untuk mengeluarkan calon manusia tersebut. Si ayah juga mengaku tidak bertemu langsung dengan "dokter" yang menggugurkan kandungan anaknya tersebut. Singkat cerita, kami mencurigai sumber infeksi gadis ini berasal dari rahimnya, besar kemungkinan telah dilakukan aborsi tidak aman dengan prosedur tidak steril. Karena kondisi hemodinamiknya yang tidak stabil, akhirnya pasien itu dikirim ke ICU untuk perawatan dengan observasi ketat dan antibiotika generasi terbaru.

Dalam evaluasi 12 jam kemudian sampai pagi harinya, kami mendapatkan bahwa respon tubuh gadis itu terhadap terapi yang diberikan tidak begitu baik. Berbagai parameter infeksi semakin memburuk, pertanda bahwa sumber infeksi tidak juga terkendali. Kami berdiskusi dengan teman sejawat Bedah Digestif, dan sama-sama sepakat bahwa mungkin terjadi cedera organ lain seperti usus akibat tindakan aborsi tak aman tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan tindakan operasi, membuka perut gadis itu dan melihat apa yang terjadi di dalam. Konsekuensinya, semua organ yang menyebabkan infeksi harus diangkat dan dibuang karena ternyata antibiotik tidak berdaya mengontrol infeksi yang terjadi. Bila tidak dilakukan kontrol sumber infeksi yang adekuat, maka kegagalan semua organ yang vital dalam menunjang kehidupan menjadi taruhannya. Di sisi lain, melakukan operasi besar dalam kondisi yang buruk seperti ini adalah tindakan yang sangat berisiko.

Saat menjelaskan kondisi gadis tersebut kepada kedua orang tuanya, si Ibu menangis terisak-isak dan si Ayah menunduk dengan raut yang menunjukkan penyesalan yang sangat dalam. Tindakan melakukan pengguguran kehamilan saja merupakan tindakan melanggar hukum di Indonesia, apalagi dalam kasus ini terjadi komplikasi mengancam nyawa. Bila memang terjadi cedera usus, kami akan harus memotong dan membuang bagian usus tersebut. Bila ternyata sumber infeksi adalah si rahim, maka kami harus membuang rahimnya. Pilihan yang sulit, terlebih melakukannya pada seorang anak berusia 15 tahun yang bahkan belum mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.

Akhirnya setelah diskusi yang panjang, kedua orang tuanya menyetujui rencana kami. Dengan persiapan ekstra, kami melakukan operasi segera sebelum kondisi gadis itu semakin memburuk. Benar saja, saat perutnya dibuka, kondisi rahimnya sangat mengenaskan. Rahimnya membesar seperti hamil 16 minggu dengan warna kehitaman dan mengeluarkan bau yang membuat perut mual. Untungnya seluruh organ lainnya utuh, tak terdapat cedera organ. Setelah berkonsultasi sana-sini, kami memutuskan untuk mengangkat rahim gadis itu dengan pertimbangan menyelamatkan nyawanya. Itu adalah rekor untukku dalam hal usia termuda yang kuangkat rahimnya.

Gadis itu kemudian membaik dalam perawatan selanjutnya dan tampaknya belum juga paham konsekuensinya ketika dijelaskan bahwa dirinya sudah tak memiliki rahim lagi. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah perilaku tak bertanggung jawab tanpa pikir panjang seperti itu. Namun demikian, dia masih beruntung tidak menjadi bagian dari 50.000 orang yang mati setiap tahunnya akibat "unsafe abortion" di seluruh dunia.

Kurasa, itulah mengapa aku begitu mencintai bidang ini. Aku berkesempatan untuk melihat "kisah" lain di balik cerita kehidupan tiap pasienku. Aku banyak mendapat pelajaran kehidupan dari pasien-pasienkuku, belajar bersyukur dengan yang kupunya, dan belajar menghargai segala sesuatu yang kudapat sekecil apa pun itu...

(Watford, April 2012)


[Seperti dimuat dalam Buku Bunga Rampai Kedokteran Islam]

Apr 8, 2017

Mimpi kita hari ini, kata Hasan Al-Banna, adalah kenyataan hari esok. Sebagaimana mimpi hari lalu adalah kenyataan hari ini. Tentu jika dan hanya jika, hari-hari antara kedua masa itu (kemarin dan hari ini) terisi dengan ikhtiar, doa, dan tawakkal untuk mengejar lesatan sang cita.

- Ust Salim A Fillah dalam Menggali ke Puncak Hati

Jan 11, 2017

c i n t a

Mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus.
Alirannya adalah kerja yang terus menerus.



Salim A Fillah

Apr 18, 2016

coba!

Kecewa takkan membuat esok pagimu jadi tak bernyawa. Coba, coba, dan coba. Keseimbangan adalah tentang mencoba: menakar dan menerka. Tidak apa. Sesekali kamu memang mesti menangis. Karena tidak semua gerimis berujung pelangi yang manis. 



Azhar Nurun Ala dalam Ja(t)uh halaman 125

May 17, 2015

Lapis Lapis Keberkahan

Rabbi innii lima anzalta ilayya min khairin faqiir. Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rizqi, Pengatur urusan, dan Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat memerlukan.”
Karena desakan hajat yang memenuhi jiwa, sebab keinginan-keinginan yang menghantui angan, kita lalu menghadap penuh harap pada Allah dengan doa-doa. Sesungguhnya meminta apa pun, selama ianya kebaikan, tak terlarang di sisi Yang Maha Pemurah lagi maha Penyayang. Bahkan, kita dianjurkan banyak meminta. Sebab, yang tak pernah memohon apa pun pada Allah, justru jatuh pada kesombongan.
“Kita dianjurkan untuk meminta kepada Allah,” demikian Dr. ‘Umar Al-Muqbil menggarisbawahi tadabbur atas doa Musa setelah menolong dua gadis Madyan itu, “baik hal kecil maupun hal besar.” Dalam kisah ini, sesungguhnya Musa yang kelaparan hendak meminta makanan. Cukup baginya seandainya dia meminta jamuan kepada orang yang telah diberinya jasa. Cukup baginya, sekiranya dia mengambil imbalan atas kebaikannya.
Tetapi Musa mengajarkan kita 3 hal penting dalam doanya. Pertama, bahwa hanya Allah yang layak disimpuhi kedermawanan-Nya, ditadah karunia-Nya, dan diharapi balasan-Nya. Mengharap kepala makhluq, hanyalah kekecewaan. Meminta kepada makhluq, hanyalah kehinaan. Bertimpuh pada makhluq, hanyalah kenistaan.
Apa pun hajat kita, kecil maupun besar, ringan maupun berat, remeh maupun penting; hanya Allah tempat mengharap, mengadu, dan memohon pertolongan.
Pelajaran kedua dari Musa adalah adab. Bertata krama pada Allah, pun juga di dalam doa adalah hal yang seyogiayanya kita utamakan. Para ulama menyepakati tersyariatkannya berdoa kepada Allah dengan susunan kalimat perintah, sebagaimana banyak tersebut dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Ia benar dan terbolehkan. Tetapi contoh dari beberapa Nabi dalam Al-Qur’an menunjukkan ada yang lebih tinggi dari soal boleh atau tak boleh. Ialah soal patut tak patut. Ialah soal indah tak indah. Ialah soal adab.
Maka demikian pulalah Musa ‘Alaihissalam. Dia tidak mengatakan, “Ya Allah, berikan.. Ya Allah, turunkan.. Ya Allah, sediakan..”. Dia merundukkan diri dan berlirih hati,”Duhai Rabbi; Penciptaku; Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur urusanku, sungguh aku, terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan, amat memerlukan”.
Yang ketiga, bahwa Allah dengan ilmu-Nya yang sempurna lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang baik bagi diri ini daripada pribadi kita sendiri. Musa menunjukkan bahwa berdoa bukanlah memberitahu Allah apa hajat-hajat kita, sebab Dia Maha Tahu. Beroda adalah bincang mesra dengan Rabb yang Maha Kuasa, agar Dia ridhai semua yang Dia limpahkan, Dia ambil, ataupun yang Dia simpan untuk kita.’’

Maka, Musa tidak mengatakan, “Ya Allah, berikan padaku makanan”. Dia pasrahkan karunia yang dimintanya pad ailmu Allah Yang Maha Bijaksana. Dia percayakan anugerah yang dimohonnya pada pengetahuan Allah Yang Maha Dermawan. Dia pun mengatakn, “Rabbi, sungguh aku, terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan, amat memerlukan”. 


dikutip dari Lapis-lapis Keberkahan, Salim A. Fillah halaman 33-35

Feb 9, 2015

SUKA ATAU TIDAK, KESALAHAN AKAN TERBAYAR


Kebanyakan kita, tak suka bicara soal kesalahan. Tidak selalu karena kita lebih memilih kebaikan. Kadang, memang itu alasannya. Tapi tidak selamanya. Kebanyakan kita tak suka bicara kesalahan, sebab ada ambiguitas di sana. Kita benci kesalahan, tapi toh kita tetap melakukannya juga. Dalam bentuk yang beraneka rupa.
Kadang kesalahan itu kita jalani dengan sadar. Sesekali batin kita berperang. Tapi kita lantas menyerah kepada keadaan. Seakan kesalahan adalah kekuatan asing dari luar diri kita. padahal kita sendiri pelakunya. Seakan kesalahan itu sendiri lebih perkasa dari karunia kehendak yang diberikan Allah di dalam jiwa kita. Kita diam, pasrah, dan berputar dari lingkaran kesalahan yang satu ke lingkaran kesalahan yang lain. Begitupun kita masih mencoba menghibur diri. Dengan pembenar-pembenar semu. Bahwa ini semua soal pilihan hidup.
Kesalahan telah ada dari dahulu, sejak kali pertama manusia diciptakan. Tetapi cara pandang kita tentang kesalahan, mengalami begitu banyak perubahan. Ada bertingkat-tingkat fase dimana manusia melakukan revolusi pemaknaan terhadap kesalahan.
Begitu Adam sadar dirinya salah, seketika ia membayar kesalahan itu. Bertaubat, memohon ampun, dan yang lebih penting, ia menyadari bahwa dirinya salah. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah:37)
Tetapi hari ini, kesalahan bukan sekadar “kecelakaan” atau ketidaksengajaan. Saat orang dengan lugu dan tanpa ilmu menerobos tabu. Hari ini kesalahan telah berevolusi menjadi cita-cita. Kesalahan adalah puncak “ikhtiar”. Kesalahan adalah seni, kreativitas, budaya, dan semua uji teknologi. Kesalahan adalah kesengajaan yang dibanggakan.
Orang-orang yang tidak peduli dengan kesalahan yang dengan berani melanggar aturan, mereka bukan orang hebat. Ada ketidakberdayaan tersembunyi di sana. Akan tiba suatu hari, bahwa semua kita tak lebih hanya orang-orang lemah. Terlalu banyak kekuatan lain yang tak bisa kita lawan. Seperti sakit, keriput wajah yang menua, tulang belulang yang rapuh, daya ingat yang kosong, dan tentu saja kematian yang menghentikan.
Layaknya kaca yang bening, kesalahan bagi kehidupan adalah bintik-bintik debu, atau tetes-tetes noda, atau bahkan gumpalan-gumpalan kotoran. Maka kesalahan selalu saja mengotori kebeningan, menodai kejernihan, dalam dimensinya yang luas. Karenanya, kesalahan harus dibersihkan seperti dijelaskan Rasulullah, “Sesungguhnya seorang manusia, jika ia melakukan dosa maka di hatinya akan tercoreng warna hitam, dan jika ia meninggalkan perbuatan dosa itu serta bertaubat darinya, maka hatinya kembali bersih. Jika kembali melakukan dosa itu, maka hitamnya akan ditambah hingga menutupi seluruh hatinya, itulah tutupan yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, sama sekali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tirmidzi).
Pada sebentuk kesalahan, selalu ada yang terkurangi dari  hak diri sendiri atau orang lain. Atau terdzalimi, atau terugikan. Kesalahan, sejatinya, adalah cacat yang mengurangi bobot dari sisi tertentu kehidupan kita. Maka kesalahan selalu meninggalkan hutang. Setidaknya hutang kesalahan itu sendiri di mata Allah SWT.
Hutang kesalahan itu harus dibayar. Begitulah peraturannya. Bahkan di komunitas orang-orang yang tak meyakini Tuhan sekalipun, mereka percaya prinsip itu. Orang-orang primitif dahulu karenanya, punya cara sendiri bagaimana menebus kesalahan itu. Najis dan kotoran dalam ajaran Yahudi dahulu, harus dibersihkan sekaligus dengan tempatnya. Bila mengenai kain harus dipotong kainnya. Bila mengenai kulit harus dicungkil kulitnya. Dosa-dosa tertulis di pintu masing-masing. Tidak ada rasionalisme di sana. Yang ada bahwa segala yang kotor harus dibersihkan. Meski itu harus mengorbankan nyawa mereka. Tapi itu setidaknya lebih elegan secara kemanusian, dari orang-orang sekarang. Yang tak sudi membayar kesalahan.
Tak ada kedigdayaan absolut pada diri kita. Kita hanya makhluk Allah, ciptaan-Nya. Di atas bumi-Nya kita berpijak. Kita lahir dan ada karena kehendak-Nya. Bahkan kita sendiri tak bisa memilih untuk ada atau tidak ada, untuk menjadi lelaki atau perempuan sejak semula. Lalu, dengan tertatih kita belajar tentang wujud, tentang ganjaran, dan akhirnya kepada Allah pula kita kembali. Maka, mungkinkah kita bisa lari dari membayar kesalahan?
Sejatinya kita akan membayar kesalahan itu, kelak, suka atau tidak suka. Tetapi membayar kesalahan selagi di sini, di dunia ini, adalah pilihan bagi orang-orang dewasa. Mereka lebih memilih menjadi pemberani, membayar hutang kesalahan itu di sini. Sementara para pengecut dan orang-orang yang berjiwa kekanak-kanakan, selalu punya segudang alasan untuk menunda membayar kesalahan.
Di sini, di dunia inilah sesungguhnya tempat yang paling memungkinkan kita membayar kesalahan. Jangan menunggu kehidupan di akhirat kelak, ketika segalanya sudah tidak memungkinkan lagi. Ketika sangat sulit bagi kita membayar kesalahan itu, kecuali dengan cara yang tidak akan kita sukai. Sebab di sana kita harus membayarnya dengan terpaksa, dengan cara yang tidak enak. Dengan azab dan siksa, kecuali Allah mengampuninya.
Mereka yang menganggap kesalahan adalah kebebasan berperilaku hari ini, sementara yang nanti adalah nanti, sesungguhnya orang-orang lemah. Mereka haya menunda penyesalan, dan menumpuknya menjadi malapetaka di kemudian. Sebab matahari belum berhenti, selalu ada hari baru, usia baru, dan itu artinya hidup kita semakin jauh banyak yang berlalu. Mereka telah kalah dengan cara yang tidak terhormat.
Kita mungkin tak suka bicara soal kesalahan. Sebab ada pertarungan di sana. Nurani kita yang jujur menginginkan jalan kebaikan. Tetapi hawa nafsu kita yang angkuh menginginkan jalan keburukan. Di ambang batas antara kejujuran dan keangkuhan itulah dosa dan kesalahan bertarung. Melawan suara hati yang polos dan sejalan dengan fitrah.
Maka, di sini, di dunia ini, bayarlah kesalahan-kesalahan kita. Selagi masih ada nafas. Selagi mata belum terlelap. Sebab toh suka atau tidak suka, kesalahan pada akhirnya akan terbayar juga. Kelak, di hari segala amal ditimbang dan diberi pembalasan seadil-adilnya.
(Ahmad Zairofi AM dalam Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya)

Nov 17, 2010

NEGERI 5 MENARA

NEGERI 5 MENARA

Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuady. Sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata sang penulis ketika sekolah di sebuah Ponpes Modern Gontor. Novel yang dengan sukses memberi saya semangat. Alurnya maju-mundur. Bahasanya ringan. Dan ada beberapa kalimat yang benar-benar memotivasi seorang Asma Azizah ini.
1. Hidup sekali hiduplah yang berarti. Kalimat dari Kiai Rais, pimpinan gontor.
2. Ajtahidu fauqa mustawal akhar. Berjuang di atas rata-rata usaha orang lain. Kalau ingin mendapat hasil yang lebih dari orang lain, maka berusaha lebih dari orang lain. Hm, masuk akal.
3. Going to the extra miles.
4. MAN SHABARA ZHAFIRA. Siapa yang bersabar ia akan memetik hasilnya.
5. MAN THALABAL ULA SAHIRAL LAYALI. Siapa yang ingin kemuliaan, akan bekerja sampai jauh malam.
6. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun itu. Karena sungguh, Allah Maha Mendengar.
7. MAN JADDA WAJADA. Siapa yang sungguh-sungguh, ia akan berhasil.

Kurang lebih begitulah. Dan ketika membaca novel ini, ada semacam de javu. Tapi ternyata bukan. Negeri 5 menara kurang lebih seperti TEATROLOGI LASKAR PELANGI dengan bahasa yang lebih ringan. Bagaimana pun, 2 novel itu mempunyai tempat spesial di hati saya. N5M dan LP sukses meracuni otak saya untuk belajar lebih keras. Huff. Spirit! Semangat! Hamaasun! :D

Sep 26, 2008

laskar pelangi

heioaaa ,,
kmaren kmis besama teman" ahirny terpenuhi juga hasrat ingin nonton laskar pelangi ,,
dan pelem besutan riri riza itu saya acungi jempol ,,

keren cuiy ..

iy sih ga sebagus bukunya ,,
kirain bakal kek apaaa gitu pelemnya ,,
eh ternyata ,,
berbeda dr perediksi ,,
"halah"

dan pelemnya sukses ngebuat yg nonton ngakak ,,

dan emang dasar yah ,
bios tpt ku nonton super abal ,,
jd tuh ,,
ad slh stu bag pelem yg kesendat sendat ,
bahwa pelem itu keliatan sekali telah ,,,....
"DIPOTONG" ,,,
good ,,

tetep aja ,,
nopelnya lbh bagus ,,
tp pelemya juga bagus ,,
riri riza jan tersungging yak ,
eh tersinggung ding ,,
waikss ,,
saia cpekk ,,
dahhh

Sep 13, 2008

i'm a beautiful nerd, larutan senja, cintacewekpengintai

title ny jelek banget ,
tapi biarin ahh ,
blog aku ini,,

nahh, title kubuat kayak gitu karena aku abis baca tiga buku itu,,


I'M A BEAUTIFUL NERD
well , buku ini punya dhia ,,
ku baca d skuull dengan hati" karena kalau rusak aku ga bisa ganti ,,
hehehe ,,
bukunya kata org bysa ,,
tp aku ngeliat kekerenan tokoh utama yang bisa dapet beasiswa d san fransisco ,
keren ,,
aku mau tuh dapet beasiswa keluar negeri ,,
asiik

LARUTAN SENJA
diliat dari cover , buku ini bacaan beraaaattt,,
pas dibaca juga ,,
tapi lama" aku ketagihan ,,
gila , salut buat RATIH KUMALA yg sukses mengekspresikan hasrat berkarya nya ,,
baca dehh ,, cerpen" nya bikin kalian berdecak kagum sama si penulis ,,
kalian akan dikelabui oleh urutan alur yang gak biasa dari deretan cerpen" itu,,
mirip" tulisan andrea hirata ,
tapi yang ini ga terlalu berat trus alurnya dibuat berantakan ,,
keren,,

CINTACEWEKPENGINTAI
pertma kali baca ini aku bilang ga seru!
bahasanya terlalu seperti aku! *pede*
aku jadi nyadar , betapa ga suka nya org terhadap penulis sepertiku ,
sekarang aku ngerasa baca buku yg alirannya sama kayak aliran menulis yg ku anut , ga enak!
tapi di akhir cerita aku kagum ,,
betapa si penulis yaitu RANIE berhasil bikin pembaca kesel ,
iya , aku kesel banget waktu baca novel macem ginian , hampir" aku gak mau nerusin baca!
tapi karena kesabaran membaca tiada akhir ,,
ahirnya aku menemukan ending gak biasa dr novel" yg sebelumnya pernah kubaca ,,
keren ,
thnks buat odhY yg udh rela minjemin nih buku ,,

Sep 6, 2008

andrea hirata

wuoohh ,,
skrg ku mo critta tt andrea hirata ,,

petama kli dgr laskar pelangi yg d tulis andrea hirata , ku penasaran banget sm tuh buku ,,
tpi apa daya ,, tuh buku udah mahal jarang ada yg punya lagi ,,

waktu itu asma ke rumah temen n ngeliat ntu buku ,, waaahh , asma langsung mmbaca sinopsis tanpa izin ,,
"wawawa sarah kamu punya ini"
sar: "iya , mang knapa?"
as:"wa aku bole pinjam tidak ?"
sar:"wa aku belum selese bacca tuh"
as:"iya nanti klo qm ud selese baca"
sar:"okke"

stelah lama melupakan the laskar of pelangi , sarah datang ke rumahku dan mengeluarkan nopel itu ,,
as"wa anda baik skalii, critanya seru? waa"
sar"blom selese baca"
as"hah? yaudah nih kamu selesein dulu aku mah g dpinjemin juga gapapa"
sar"gak , aku males bacanya , tebel banget sihh"

dan ahirnya asma membaca ntu nopel smbil sesekali ngebayangin ntu cerita ,
sambil sesekali bedecak kagum sama yg udh nulis ntu nopel
in fact akhirny asma tau kalo yg ngarang buku itu adalah COWOK!!

wahh , andrea hirata maap yak..

then , stelah baca ntu nopel , aku menangis terharu dan makin terpacu dan kembali semangat stelah bberpa bulan dirudung kecemasan ..

sempet nangis dan bergetar karena pernah saat aku nonton titanic aku baca nih buku ,, klop kan?! sama" kisah mengharukan..

dan kemudian aku dipinjamkan cha" buku kedua dr teatralogi laskar pelangi yaitu sang pemimpi ,,
ouh cha" baiknya dirimu ...

dan kali ini asma jadi tau kenapa tika waktu uts suka banget baca buku ini ,,
ya emang seruu
hoho ,,
gak nyangka , ada satu bab yang buat aku jijik ,,
ada yang bikin ketawa ,, wah keren bukunya ,,
kata" yg kusuka dr this book
"bermimpilah karena tuhan akan memeluk mimpi^ itu"
"kita akan kuliah ke sorbonne prancis , menjelajahi eropa sampai afrika"

setelah mengembalikin sang pemimpi kepada cha" ,,
dgn baiknya cha" menawarkan pinjaman edensor!!
buku ketiga dari teatrologi laskar pelangi!!

tapi waktu itu cha" lupa bawa edensor,, smp berapa hari gituu ,,
sempet aku kesel tapi nggk mungkin ngomong ke cha" karena aku juga tau diri lah! udah dipinjemin aja syukur ,,

dan akhirnya aku dapt memeluk buku edensor ,,

bukunya seru , ga ribet ,,,
sebenernya aku dah semept baca d gramed smpe 40 menit ,,
tapi bukunya belum abis kubaca ,,
ahirny baca buku edensor pinjeman cha"

d edensor udah ga ada istilah aneh' lagi ,,
keren ,,

lg nunggu maryamah karpov kepajang d gramed ,,
kapan ya ?
penasaran nii ,,

ohhh ANDREA HIRATA ,,

thanks buat semuanya ,,
anda itu pandai sekali yak ?
bisa membuat buku dengan mutu yang sangat tinggi ,,
jarang" loh ada yg nulis kayak anda,,
i love your book so much
karya anda telah membuat mata hati sama yg selama ini mungkin tertutup terbuka ,,
saya merasakan getaran hebat yg gak pernah saya alami selain membaca buku anda ,,
hueahh ,,