Jan 11, 2017

c i n t a

Mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus.
Alirannya adalah kerja yang terus menerus.



Salim A Fillah

Dec 21, 2016

Memakna

7 semester ini, walaupun bersinggungan dengan banyak dokter. Tapi perasaan bahwa aku harus menjadi dokter jujur, baru hadir pagi tadi.

Sejak malam aku belajar osce bersama eva dan santi. Meski malamku tetap saja tak lepas dari lelap, pagi tadi Alhamdulillah kuterbangun dan bergegas berlatih beberapa skill. Salah satunya adalah skill hecting alias menjahit. Di tengah latihanku, eva menonton video tentang Aleppo. Video yang mengundang nuraniku untuk berhenti sejenak dan ikut membersamainya melihat tayangan itu, yang ternyata begitu menyayat hati.

Darah. Luka. Air mata. Nyawa. Wajah-wajah marah. muka polos yang penuh harap.
Aku terguncang melihatnya.

Kemudian kulihat diriku sendiri.
Betapa aku telah banyak kufur atas segala nikmat yang Allah berikan. Betapa aku begitu lemah. Betapa daya juang jihad di dalam diri ini masih seujung kuku bila dibanding mereka.

Aku ditinggal.
Aku ditinggal masuk syurgaNya Allah.
Dan aku tak mau ditinggal lagi.


Hari ini, kulihat anak menangisi ibunya. Ayah menangisi anaknya.
Tapi beberapa tahun lagi, mungkin hal itu yang terjadi pada kami disini di Bumi Indonesia.

Tidak ada jalan lain selain berusaha membantu. Mengorbankan segala gala.
Dan belajar jadi dokter yang kompeten adalah salah satu jalan jihad itu.

Jadi dokter. Jadi dokter yang bermanfaat. Mengobati luka-luka ummat.

Agar kelak, ketika mereka bertanya siapa yang harus diberangkatkan ke medan jihad; aku bisa lantang berteriak dan mengajukan diri.

Menyongsong jihad. Menyongsong syurga tanpa hisab. Kemuliaan apalagi kah yang dapat menandinginya? Tak ada.

Buka mata. Buka hati. Jangan kalah dengan egomu. Selesaikan semua ini. Belajarlah. Bukan untuk ummi. Bukan karena menuruti semua orang. Tapi karena ummat membutuhkan kita.

Bangunlah.

Bangun.

Bersyukurlah.


20 desember 2016 10.48

Sep 14, 2016

tentang kesiapan

Aku membayangkan.
Bagaimana bila ini menjadi perjalanan terakhirku?
Bagaimana bila salaman tadi adalah salam terakhirku?
Bagaimana bila izroil sudah sangat dekat, sudah siapkah aku?

Detik ini bila pertanyaan terakhir itu dilontarkan padaku, aku akan menangis dan berontak.
TAK SIAP.

Tapi, bila waktunya telah tiba, bergunakah kata tak siap itu?

Tak ada toleransi. Hidup ini keras.

Sama seperti ujian yang sudah terjadwal, bila waktunya tiba, maka menghadapi adalah satu-satunya jalan untuk bisa lulus.

Sungguh, di antara banyaknya persiapan, persiapan menghadapi kematian adalah hal yang sangat sangat sedikit sekali kulakukan.

Berbeda dengan UN SMP yang disiapkan satu tahun sebelumnya oleh sekolah dengan mewajibkan muridnya mengikuti bimbel sekolah.
Tak jauh beda dengan UN SMA yang mengadakan bimbel bahkan sampai larut malam.
Apalagi persiapan masuk kuliah dulu, kepengen-kepengennya dapet beasiswa. Segala hal diterjang dan dihadapi bahkan belajar bareng sampai setengah 1 malam sudah hal biasa.

Apa jangan-jangan, persiapan menghadapi fase-fase pendidikan ini lebih serius dibanding persiapan menghadapi kematian?

Illahi Robbi.. tuntun kami.
Tunjukkan kami. beri hidayah pada kami. agar kami bisa menjadi orang paling cerdas seperti yang disabdakan Rasul: yaitu orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik mempersiapkan kematiannya.


Taksaka malam, kursi 7(7C) 12 September 2016 9:03 PM