Mar 16, 2016

Pakai hati


Biar saja hati rasanya teriris iris.
Biar saja amarah itu menghilang dengan sendirinya.
Aku memilih untuk berbaik-baik terus.
Meminta maaf sebagaimana orang yang paling bersalah..
Memohon kemaafan mereka satu persatu.
Menarik nafas dalam-dalam.
Dan..
Bismillaah..
Semua ini memang harus dihadapi pakai hati, pakai perasaan.
Ya, mendekati satu per satu, berkomunikasi, benar2 harus berlembut ria.

Ya Allah.. aku ingin belajar
Izinkan aku untuk terus memetik hikmah dari semua ini, dan jadi pembelajar hingga akhir hayatku

Pasca riweh khataman quran dan sesuatu lainnya
12 maret 2016

9:37 AM

Mimpi-mimpi

Kemarin pas kuliah farmakologi, prof. Muchsin kasih 1 analogi yang keren banget. Kata beliau:
Tubuh kita ini dahsyat banget. Kalau misalkan kita pengen lari kesana, jaras saraf yang dilewati impuls untuk memacu otot kita itu udah sampe kesana. Ke tujuan kita. tapi badan kita aja yang harus kerja keras. Musculus harus bekerja keras buat memindahkan badan kesana.

Dan kemudian aku tersentak. Analogi itu kaya analogi mimpi. Kalau kita udah berani mimpi, sebenernya kita udah sampai kesana. Hanya saja waktu dan raga butuh waktu untuk benar-benar menggapainya. Exercise yang dilakukan demi menggapai tujuan itu, dan semangat baja pantang nyerah. Coba aja, kalau kita berenti di tengah jalan, apa bisa badan kita sampai disana? Engga.

Jadi, jangan pernah berhenti mengejar bermimpi. Dan parahnya, jangan pernah takut bermimpi. Kalau takut netapin tujuan, maka kita sudah membunuh impuls kita yang seharusnya sudah sampai pada mimpi itu.

Sekian.


- Kereta Krakatau menuju jatinegara. 23 september 2015. H-1 idul adha

Feb 28, 2016

TENTANG RINDU

Ini tentang rindu seorang anak yang makin menjadi kala mendengar senandung ukhuwah:

Sahabat, tibalah masanya..
Bersua.. pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan robithoh pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga
(Senandung Ukhuwah – SYGMA)

Bahasanya sederhana, temanya klasik: tentang perpisahan, tapi pesan yang dibawa syahdu sekali: jadikan robithoh pengikat, jadikan doa ekspresi rindu. Dengan harapan di ujung nasyid: semoga kita bersua di syurga.
Begitu seringnya mendengar senandung ukhuwah ini, tapi baru sekarang benar-benar meresapinya.
Tak perlu teriak untuk bilang rindu.
Tak perlu merengek minta ditengok kawanmu nun jauh di sana.
Tak perlu ngambek karena kau tak pernah dikirim hadiah apapun oleh mereka.
Tak perlu iri melihatnya bisa main kesana kemari tapi tak bisa main ke daerahmu.

Diam saja. Biarkan robithoh dan doa yang jadi pengikat, moga dengannya Allah pertemukan kembali di satu kebahagiaan abadi, di Jannatal Firdaus. Moga dengannya, semakin kuat ikatan persahabatanmu dengannya. Doa, senjata kaum beriman kan? Maka jadikan ia sebenar senjata. Senjata yg siap diangkat ketika rindu membucah. Yang siap dikeluarkan ketika memori masa lalu dengannya kembali menyapa.


Doa. Dan dalam diam.