Showing posts with label mimpi. Show all posts
Showing posts with label mimpi. Show all posts

Aug 29, 2017

Jalan Menuju Sekundipara

Suatu siang di sebuah rumah sakit daerah di Boyolali, ada tiga ibu muda berjejer di bed kamar bersalin. Ketiganya adalah para sekundigravida (hamil kedua). Umur mereka sama. anak pertama mereka umurnya berdekatan. Dan mereka saling mengenal satu sama lain sebagai tetangga, sehingga suasana kamar bersalin siang itu penuh dengan obrolan mereka.

Ketiga pasien itu adalah pasien hamil postdate. Artinya, hamilnya sudah melewati HPL (hari perkiraan lahir). Atas indikasi itu, ketiganya dimintai persetujuan untuk dilakukan induksi persalinan. Namun sang ibu 2 menolak induksi sementara ibu 1 3 diinduksi.

Qodarullah, pasien kedua ini; malah melahirkan duluan. Diizinkan Allah untuk lega duluan dan bisa makan malam dengan tenang sementara teman di kanan-kirinya masih ketar ketir menunggu persalinan.

Tengah malam, pasien ketiga pembukaannya lengkap. Dan akhirnya menyusul rekannya untuk dipindah ke bangsal perawatan.

Tersisa ibu pertama,yang walaupun sudah diinduksi, tapi tak ada kemajuan persalinan yang berarti. Hingga akhirnya, dokter memutuskan untuk melahirkan bayi si ibu dengan seksio caesarea.

Ternyata, untuk segala awal yang (tadinya) dibuat sama; jalannya tetap bisa berakhir berbeda.

Ternyata, untuk segala sesuatu yang akhirnya kelihatannya sama (sama-sama baru punya bayi kedua), ada proses berbeda yang tentu tak semua orang perlu diberi tahu.

Ada banyak perbedaan di dunia ini, berjuta warna dan cerita, yang diatur sedemikian rupa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb Semesta Alam yang Maha Sempurna, Maha Berdiri Sendiri.

Ada banyak hikmah yang Allah titip; yakni betapa tak semua penantian harus berakhir sebagaimana yang kita harapkan. Juga bagaimana agar menjadi hamba yang tetap bersyukur, dengan akhir cerita apapun yang Allah berikan pada kita.

Semoga kita selalu menjadi hamba yang penuh syukur, yang bisa memetik banyak hikmah.


Selesai ditulis di ponek 1 RSDM pada 6.00 PM / 17 Agustus 2017
Asma Azizah

Jul 14, 2017

Another Inspiring Story

(dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp.OG)

Aku baru saja menyelesaikan satu buku tentang pendidikan anak yang direkomendasikan suamiku. Judulnya, battle hymne of the tiger mother, yang ditulis oleh seorang profesor bidang hukum di Yale university berdarah Cina. Berkisah tentang perjuangannya membesarkan 2 orang putrinya di Amerika, dan pertentangan prinsip 'Chinese' dan 'Western' parenting. Ditulis secara naratif dan deskriptif, membuatku mengenang kembali masa kecilku dan membayangkan masa depan anak-anakku, yang dalam hal ini kurang lebih sama posisinya dengan anak-anak si penulis.

Sampai berjam-jam kemudian, isi kepalaku masih dipenuhi dengan berbagai ide dan gambaran metode mendidik anak-anakku yang diinspirasi dari buku itu. Namun entah kenapa, sesaat sebelum tidur malam itu, tiba-tiba aku merasa bukan menjadi 'the tiger mother'. Bahkan, aku merasa seperti menjadi bagian dari peran kedua anak gadis yang dikisahkan di buku itu, diasuh oleh 'tiger mother'. Ibuku memang menerapkan prinsip pendidikan yang hampir sama dengan 'Chinese' parenting itu padaku, tapi itu tentu sudah berakhir lebih dari satu dekade lalu.

Sambil mengelus-elus gadis kecil di sampingku agar segera tidur, pikiranku masih terus melayang mengapa bukan peran 'tiger mother' yang kurefleksikan, tapi justru kedua putrinya. Kalau aku merasa seperti kedua gadis dalam buku itu, tentu ada seseorang yang berperan sebagai 'the tiger mother' untukku saat ini. Tepat saat itu suamiku masuk kamar melongok apakah si kecil sudah tidur dan mengingatkanku untuk memberinya anti piretik agar dia tidur nyenyak (si kecil memang sedang terserang ISPA dan sering rewel di malam hari karena hidungnya mampet). 

Seperti balita yang baru berhasil memecahkan puzzle 4 bagian, otakku berseru 'that's it...!!'.  Aku tidak hidup bersama seorang 'tiger mother' lagi saat ini, tapi aku memiliki seorang 'ram husband' yang mengarahkan jalan hidupku. Entah mengapa aku memilih sebutan 'ram' yang artinya domba jantan. Mungkin diinspirasi dari zodiaknya yang Aries, dan 'ram' adalah simbolnya. Tapi aku tak percaya zodiak, apalagi sebagian ulama menyatakan hal itu dekat dengan kemusyrikan. Aku juga tak tahu apakah sifat 'ram' itu sama seperti suamiku, toh aku dididik sebagai dokter manusia, bukan dokter hewan.

Namun aku kenal persis sifat suamiku (walau mungkin dia akan menyangkal pernyataan ini). Hampir sepuluh tahun melewati hidup bersamanya, dia selalu bisa membaca pikiranku sama seperti aku bisa membaca hatinya (mungkin yang ini juga debatable). Walau kami sama sekali tak saling mengenal waktu pertama kali berjumpa, kurasa sifat percaya diri dan visionernyalah yang membawa kami sampai ke kursi pelaminan, dibanding sifatku yang lebih banyak 'let's just go with the flow...'. Kami sama-sama anak pertama, sama-sama keras kepala dan suka berdebat, dan yang lebih penting sama-sama tidak mau mengalah.

Aku masih harus menyelesaikan pendidikan dokter umumku saat aku menikah. Rotasi di berbagai bagian seperti bedah, obgin, dan seterusnya akan tetap menghabiskan waktuku sama ketika aku masih gadis dulu. Aku tidak mau studiku terganggu karena menikah, dan aku sudah memberikan janjiku pada ibuku akan tetap lulus tepat waktu dengan nilai baik walau menikah saat kuliah. Karena janji itu, ide suamiku untuk segera memiliki anak setelah menikah tentu kutolak mentah-mentah. Terbayang bagaimana susahnya berlari-lari sepanjang lorong IGD saat jaga dengan perut buncit karena hamil. Belum lagi aku akan harus cuti melahirkan, tentu membuat targetku lulus tepat waktu meleset.

Singkat cerita (lebih karena aku tak ingat lagi apa yang terjadi atau apa yang suamiku lakukan untuk membujukku), aku melahirkan anak pertamaku saat aku masih ko-ass. Aku cuti melahirkan. Aku terlambat lulus 5 minggu dari teman-teman seangkatanku. Aku wisuda satu semester setelah teman-teman sparingbelajarku diwisuda, walaupun tetap bisa dilantik sebagai dokter bersama-sama di gelombang pertama. Tapi bedanya, teman-temanku waktu itu kebanyakan hanya didampingi kedua orang tuanya saat wisuda dan pelantikan. Diriku ? Didampingi kedua orang tuaku, mertua, suami, dan tentu saja bayi kecil yang telah banyak mengubah hidupku.

Mendapat ijasah lebih lambat dari seharusnya juga merentang tantangan di depanku. Impianku untuk segera mendaftar program pendidikan spesialis obstetri dan ginekologi terpaksa ditunda. Selain itu, aku juga tak bisa membayangkan dari mana uang puluhan, bahkan ratusan juta yang harus kusediakan untuk membiayai pendidikan spesialis. Orang tuaku pensiunan pegawai swasta (tanpa tunjangan pensiun tentunya) dan masih harus membiayai sekolah 2 adikku. Penghasilan suamiku saat itu hanya cukup membiayai kebutuhan keluarga kecil kami.

Akhirnya aku memendam (setidaknya menunda) mimpiku untuk segera melanjutkan pendidikan spesialis. Sebagai gantinya, aku rajin membaca koran dan internet, mencari kesempatan beasiswa belajar di luar negeri. Ini adalah impianku yang lain sejak sekolah menengah dulu, kuliah di luar negeri. Aku sadar suamiku tak sepenuhnya menyetujui ide ini. Dia memiliki pekerjaan yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja untuk menemaniku sekolah di luar negeri. Anak kami pun umurnya belum genap setahun, tak terbayang bagaimana mengakali itu semua.

Lagipula aku sadar diri, sebagai dokter fresh graduate, nilai lebih apa yang kupunya untuk bersaing dengan ribuan pemburu beasiswa lain dengan segudang pengalaman dan referensi. Akhirnya aku menjadikan'hunting' beasiswa itu sebagai hiburan sampingan, daripada tidak ada target yang kukejar sambil menunggu ijasahku keluar. Tapi toh suamiku mendukungku habis-habisan. Dia yang rajin mencarikanku berbagai info lewat internet (koneksi internet jaman dulu tentu tak sebagus sekarang). Saat aku (tak disangka-sangka) berhasil melewati seleksi berkas Australian Development Scholarship (ADS) untuk program master, suamikulah yang memaksaku mempersiapkan diri dengan les IELTS agar saat tes di tahap selanjutnya nanti nilaiku baik. Suamiku juga yang menjadi sparing latihan wawancara, memberi masukan ini itu untuk jawabanku yang 'belepotan'.

Sebulan sebelum pengumuman penerimaan beasiswa ADS, suamiku mendapat pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih baik. Walau perusahaan tempat bekerjanya waktu itu adalah 'the dream company' untuknya sejak masih kuliah dulu, dia rela melepaskan tempat tersebut dan pindah ke perusahaan baru itu. Ketika mendiskusikan keputusannya untuk pindah perusahaan, dengan nada ceria dan antusias dia berkicau "Alhamdulillaah...Mudah-mudahan kalau bisa dapet gaji segini, kita bisa bayar SPP buat obgin. Tinggal cari cara buat bayar admission fee aja kalo memang diterima nanti. Begitu ijasah resmi keluar, langsung urus semua surat buat daftar obgin yaa...", begitu 'instruksi'nya.

Ternyata rencana Sang Pencipta sudah tertulis sedikit berbeda untukku. Beberapa minggu setelah suamiku mulai bekerja di tempat baru, aku mendapat telpon darinya. "Pitha, dapet tuh beasiswa ADS nya...Katanya langsung masuk untuk 'june intake'...". Suamiku yang rajin membukakan email untukku di kantornya karena waktu itu kami belum punya akses internet di rumah. Bulan Juni itu tinggal 4 bulan lagi, sedangkan anakku belum genap 1 tahun umurnya, suamiku baru mulai bekerja di tempat barunya, tidak mungkin minta cuti menemani istri sekolah. Walau sangat senang karena impianku untuk mencicipi kuliah di luar negeri bisa terwujud, tapi aku bimbang karena realitas keluargaku rasanya tak memungkinkan itu terjadi.

Aku tahu suamiku pun merasa bimbang. Setelah diskusi panjang, akhirnya dia memutuskan memberiku ijin pergi ke Sydney, Australia, untuk mewujudkan satu impianku. Tapi dengan catatan, aku harus mengurus dulu semua persyaratan administrasi untuk pendaftaran obgin dan pulang saat ujian penerimaan obgin. Harga lain yang harus dibayar adalah aku tidak bisa membawa anakku pergi bersamaku dan suamiku hanya bisa berkunjung sesekali waktu karena tidak mungkin meminta cuti bekerja setahun penuh.

Tapi memang itulah skenario Sang Pencipta. Dari uang beasiswa ADS itu aku bisa menyisihkan sebagian uang dan menabungnya untuk membayar admission fee pendidikan spesialisku nantinya. Suamiku rela membayar tiket pesawat Jakarta-Sydney supaya aku bisa pulang beberapa kali, suami dan anakku bisa berkunjung ke Sydney, supaya kami semua tetap sering berkumpul dan bertemu. Selama aku kuliah, setiap hari saat menelpon pertanyaan yang sama selalu dilontarkannya padaku "udah sampe mana belajar untuk ujian obgin..?". Aku kuliah tentang health services management dengan setumpuk assignment, mana sempat melahap buku-buku obgin yang tidak ada hubungannya dengan assignment ku...

Kurasa, memang jalan hidupku untuk kemudian lulus seleksi residen obgin dan memulai pendidikan di sana. Suamiku memberikan semua yang dimilikinya untuk mendukungku sekolah, terutama di masa-masa awal pendidikanku. Materi, waktu, dan ekstra kesabaran untukku. Tak jarang aku menghabiskan waktu berhari-hari di rumah sakit tanpa pulang ke rumah. Sekalinya pulang ke rumah, membawa badan lelah, muka kuyu, dan segudang 'curhat' dari mulutku. Aku tahu sebenarnya batas sabarnya sudah sering terlewati karena selalu pasien-pasienku di rumah sakit terpaksa kuprioritaskan daripada keluarga kami. Aku sadar bahwa 'toleransi' untukku sebagai istri dan ibu sering melanggar kemampuan toleransi manusia secara umum. Toh ketika aku memiliki ide untuk berhenti saja dari pendidikan obgin, suamiku adalah orang pertama yang paling menentang.

Bahkan ketika aku cuti pendidikan untuk menemaninya bekerja di Inggris, dia tetap membuatku kembali bersekolah. Setelah cuti setahun dari pendidikan, aku merasa mungkin sebaiknya aku belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik dulu. Belajar mengurus suami dan kedua anakku dengan baik. Setelah adu argumen panjang, suamiku berhasil memenangkan pendapatnya bahwa aku harus kembali ke Jakarta, menyelesaikan pendidikan spesialis obginku dulu. Itu artinya selama minimal 3 tahun ke depan, aku dan kedua anakku harus tinggal di Jakarta, sedangkan suamiku sendiri di Inggris. Aku tak tahu bagaimana waktu selama 3 tahun itu bisa berlalu, dengan suamiku harus menempuh perjalanan udara selama 2x24 jam setiap 2-3 bulan sekali untuk mengunjungi kami di Jakarta, sampai akhirnya masa itu lewat sudah.

Aku selalu heran mengapa dia begitu 'ngotot' memaksaku menyelesaikan sekolah obginku. Salah satu alasannya yang dia ceritakan di kemudian hari adalah dia merasa memiliki hutang kewajiban, menjadikanku SpOG. Rupanya, sebelum kami menikah dulu, aku memperkenalkan diriku sebagai mahasiswa kedokteran yang hampir seluruh waktunya habis untuk kuliah dan aktivitas kemahasiswaan. Maksudku adalah memberi gambaran bahwa setelah menikah, waktuku tetap akan banyak tersita untuk kuliah, sehingga kuharap dia mengerti dan tidak terkejut kemudian dengan keadaanku. Aku juga menceritakan cita-citaku untuk langsung melanjutkan pendidikan spesialis obgin begitu aku selesai dokter umum, dengan harapan dia tidak menentang hal tersebut nantinya. Namun ternyata suamiku memiliki interpretasi berbeda. Dia menganggap ketika dia menyetujui menikah denganku dengan kondisiku saat itu, artinya dia berjanji akan mendukungku habis-habisan untuk menjadi SpOG. Padahal, aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai janji pra-nikah.Anyway, ke'ngotot'an suamiku itulah mungkin salah satu 'bahan bakar'ku untuk menyelesaikan pendidikan spesialis.

Sifat suamiku yang 'ngotot' dan selalu 'mengulang' apa yang menjadi keinginanannya itu juga telah membuatku melakukan hal-hal yang tadinya tak pernah terbayang untukku. Selama di Inggris, dia memiliki ide agar aku mencoba mengikuti ujian registrasi dokter lulusan internasional agar dapat berpraktek di Inggris. Awalnya aku menolak karena artinya aku harus meng 'unlearned' pendidikan spesialisku dan belajar menjadi dokter umum kembali. Belum lagi aturan registrasi di Inggris sangat rumit, ujian PLAB (professional and linguistic assessment board) yang harus dilewati bila ingin melakukan registrasi, dan persaingan dengan berbagai lulusan dokter internasional lainnya.

Tapi bukan suamiku namanya kalau menyerah begitu saja. Dia meluangkan waktunya mempelajari website General Medical Council UK, mencari cara bagaimana melakukan registrasi. Bahkan aku yang dokter saja berpendapat website itu tidak 'user-friendly' untuk mudah dimengerti. Setelah dia mengerti aturannya, dia membuatkan account untukku supaya bisa melakukan registrasi dan mengikuti ujian PLAB.

Aku kembali beralasan bahwa sulit untukku belajar kembali jadi dokter umum, banyak sekali materi yang harus kukuasai. Selama ini aku sudah telanjur belajar sangat spesifik sebagai residen obgin. Aku tidak kenal seorang pun dokter lulusan Indonesia yang pernah mencoba ujian atau lulus PLAB. Bagaimana aku tahu seperti apa ujiannya dan bahan apa saja yang harus kupelajari. (Padahal alasanku sebenarnya adalah aku sama sekali tidak 'pe de' untuk mencoba ujian itu dan tidak berani bermimpi untuk bisa bekerja sebagai dokter di Inggris).

Alasan itu tidak diterimanya. Dia kemudian mendata kolega di kantornya yang memiliki pasangan atau teman dokter untuk dimintai informasi. Tidak cukup itu saja, suamiku bergabung dengan forum-forum online dokter lulusan internasional yang mencoba ujian PLAB. Membaca berbagai review tentang buku-buku yang disarankan sebagai materi belajar ujian PLAB. Sebagai hasilnya, berbagai buku, salah satunya setebal lebih dari 12 cm datang diantar oleh tukang pos setelah suamiku memesannya secara online.

Ujian PLAB terdiri dari 2 tahap, yaitu ujian tulis dan ujian praktek (OSCE = objective structured clinical examination). Untuk bisa melakukan registrasi dan ijin berpraktek di Inggris, semua dokter lulusan internasional harus melewati kedua ujian tersebut. Karena berbagai alasan yang kusampaikan tentang betapa sulitnya untukku untuk mempelajari semua materi pengetahuan dokter umum untuk ujian PLAB 1, akhirnya suamiku mencari info tentang kursus persiapan PLAB 1. Dia meyakinkanku untuk mengikuti sebuah kursus singkat di Manchester, 4-5 jam perjalanan darat dari rumah kami. Meski sangat membenci perjalanan jauh dengan mobil, dia rela mengantarku pergi ke Manchester demi kursus itu. Belum puas dengan itu, dia masih memintaku mengikuti kursus online dari sebuah website yang direkomendasikan temannya.

Aku yang waktu itu sedang hamil anak kedua kami, belajar dengan setengah hati. Bayangan ingin bersantai saat hamil dan cuti sekolah rasanya dirusak oleh semangat suamiku agar aku lulus PLAB. Setiap pulang kantor, saat menelpon dari kantor, selalu pertanyaan yang sama dilontarkannya, "udah belajar PLAB sampe mana..?". Sebelum berangkat kantor atau sebelum dia tidur di malam hari, pesannya adalah "jangan lupa belajar PLAB yaa...". Sering aku kesal mendengarnya dan menjawab dengan ketus, "Mas, Pitha bukan anak kecil...ga usah disuruh-suruh belajar...!! Ibu aja nyuruh belajar cuma pas Pitha SD. Abis itu ga pernah ada orang yang nyuruh Pitha belajar..!!". Biasanya dia cuma tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksiku dan berkata, "baiklaaahhhh...boleh libur belajar sekarang...besok lanjut lagii...". Kadang aku sangat kesal sampai menangis merasa diperlakukan seperti anak kecil, disuruh-suruh belajar. Tapi sekarang kurenungi, kalau bukan karena 'kebawelan' suamiku menyuruhku belajar, mungkin aku tak akan pernah belajar dan lulus PLAB 1.

Butuh waktu 3 tahun untukku setelah lulus PLAB 1 untuk berkesempatan lagi mengikuti PLAB 2. Karena aku harus melanjutkan pendidikan spesialisku di Jakarta, aku terpaksa menunda ujian PLAB 2 ku sampai saat terakhir. Ada batasan waktu maksimal 3 tahun setelah lulus PLAB 1, untuk lulus PLAB 2. Bila dalam 3 tahun aku tidak berhasil lulus PLAB 2, aku harus memulai segala sesuatunya dari awal lagi. Itu artinya, aku harus lulus ujian PLAB 2 saat itu. Tidak ada kesempatan waktu lagi untukku bila gagal di ujian ini.

Kurasa suamiku lebih tegang daripada aku dalam menghadapi ujian ini. Berbagai buku dan DVD panduan belajar ujian PLAB 2 sudah disediakannya saat aku tiba kembali di Inggris. Tidak cukup itu saja, suamiku kembali aktif mengikuti berbagai forum online para dokter yang berniat ikut ujian PLAB 2. Dari forum itu, suamiku mendapat informasi suatu tempat kursus persiapan PLAB 2 di daerah East London. Kursus itu berlangsung selama 14 hari non-stop, dari pukul 9 pagi sampai 7 malam. Harganya cukup mahal untuk kantong kami, tapi suamiku berhasil membujukku untuk mengikuti kursus itu.

Tempat kursus itu jaraknya cukup jauh dari tempat kami. Bila menggunakan transportasi publik, memakan waktu sekitar 2 sampai 2,5 jam sekali jalan. Berarti pulang pergi aku harus menghabiskan waktu 4-5 jam sehari. Akhirnya suamiku memutuskan untuk mengantar jemput diriku ke tempat kursus itu dengan mobil, karena perjalanan bisa disingkat sekitar 40-50 menit sekali jalan. Pertimbangannya adalah agar aku bisa memanfaatkan sisa waktu lainnya untuk belajar. Karena suamiku jg harus masuk kantor pk 8.30 pagi setiap hari, kami harus berangkat sebelum matahari terbit agar suamiku tidak terlambat masuk setiap harinya. 

Jadilah selama 2 minggu itu agenda suamiku adalah menyupir sejauh 120 mil (sekitar 200 km) setiap harinya untuk mengantar dan menjemputku kursus, bekerja, memasak, menjadi sparing belajarku sampai tengah malam, termasuk menjadi 'pasien' latihanku melakukan berbagai pemeriksaan klinis yang harus kukuasai, sekaligus 'editor' bahasa inggrisku yang 'betawish'. Dia terpaksa harus ikut belajar apa yang kupelajari agar bisa jadi sparing belajarku. Kurasa, berlatih beberapa lama lagi dia juga akan 'eligible' untuk ikut ujian PLAB 2. 

Perjalanan ribuan mil itu diakhiri dengan menyupir pulang pergi hampir 300 mil (sekitar 450 km)  ke Manchester untuk mengikuti ujian PLAB 2 itu. Suamiku tidak mau aku pergi sendiri dengan kereta, dia memilih mengambil cuti dan mengantarku sendiri ke tempat ujian itu. Kalau kemudian aku lulus PLAB 2, kurasa suamikulah yang paling berhak mendapatkan 'reward' nya karena dia bekerja 2x lebih keras dibanding usahaku untuk belajar.

Untuk urusan 'self confidence', suamiku juga adalah orang yang selalu membesarkan hatiku. Saat mengetahui bahwa di tahun terakhir pendidikan obstetri dan ginekologi terdapat rotasi 'elective posting', suamiku mengusulkan agar aku melakukan elective posting itu di salah satu rumah sakit di London. Awalnya aku tidak 'pe de', tidak untuk mengirimkan lamaran, menulis CV, atau mengontak para konsultan di Inggris. Terbayang olehku pertanyaan mereka saat membaca aplikasi atau CV ku, "a resident from Indonesia? Where about in the world Indonesia is?.." seperti pertanyaan kebanyakan orang Inggris yang pernah kutemui. Belum lagi bila harus bekerja bersama mereka. Tapi suamiku meyakinkanku dengan candaannya, "jangan khawatir, orang Indonesia ga kalah pinter kok sama mereka-mereka itu...mereka menang ngomong doang...!!!". Jadilah akhirnya berbekal nekat dan tips sedikit rasis dari suamiku aku bisa mendapatkan tempat elective posting di beberapa rumah sakit di London.

Kadang-kadang aku berpikir, kenapa suamiku lebih memilih bersikap "ngotot, menuntut, bawel" kepadaku daripada bersikap romantis dan memanjakanku. Rasanya ingin juga sekali-sekali diberi buket bunga, atau diajak candle light dinner dengan sedikit puisi romantis, seperti tontonan sinetron atau telenovela. Tapi kemudian pikiran itu segera kubuang jauh-jauh bila membayangkan puisi lebay berisi rayuan gombal keluar dari mulutnya. Aku bisa pingsan tertawa mendengarnya, apalagi bila suamiku yang membacakannya. It's just not him, and I hate 'lebay' man...

Nevertheless, kurasa, memang sifat suami seperti dialah yang kubutuhkan untuk memimpin keluarga. Aku butuh seseorang yang menetapkan target-target dalam setiap tahap kehidupannya, juga kehidupanku dan keluarga kami. Aku butuh orang "bawel" yang selalu mengingatkan segala sesuatunya untukku. Dan yang paling penting, aku selalu butuh sparing belajar di dunia ini untuk menjadi orang yang lebih baik.

Apr 1, 2017

Bahagia karena Berbagi

Ada satu kebahagiaan yang kurasakan Jumat lalu. Yang alhamdulillah, sampai hari ini bila mengingat momen itu, berhasil menghadirkan rasa syukur dan gembira tiada terkira :)

Ceritanya, Jumat itu alhamdulillah dapat kesempatan untuk berbagi ilmu molecular docking (moldock) dengan mahasiswa S3 di FK UNS.

Workshop moldock memang biasa diadakan setiap tahunnya. Tahun lalu alhamdulillah aku ikut sebagai peserta.

Workshop ini sasaran utamanya adalah mahasiswa S3, alias murid-murid dr. Dono Indarto.

Tahun lalu, workshop digabung dgn S2 dan S1 (aku dan teman2 yg ngambil skripsi moldock).

Tapi tahun ini, workshop dikhususkan untuk S3. Mas yoga, febri, dan khariz, diberi tugas khusus untuk memperbarui buku panduan sekaligus jadi pemandu pas workshop itu.

Aku? Aku warga biasa hehehe.

Mulanya aku tidak tahu menahu. Sampai h-2 workshop, Febri minta tlg agar aku bisa ikut bantu teknis hari H juga.

Hari H workshop aku deg2an. Agenda padat merayap jadi belum sempet buka2 lagi moldock. H- 2 jam febri kirim buku petunjuk moldock yg sudah diedit. Pas ngeliat namanya

Penyusun:
dr. Dono
YMP, dr.
KF, S.Ked
FDN, S.Ked

Trus ada nyes nyes gitu. Dari cuma nyes minder sama dokter dono sampai nyes alay karena namanya ga dipajang (krn emang ga bantuin). Astaghfirullahal'adziim..

Ternyata masih sekecil itu keinginan belajarku. Duniawi banget :""""

Sampai akhirnya. Hatiku memarahi.

Hei kamu. Tetaplah berkarya dimanapun posisinya. Tetaplah bermanfaat tak peduli apa statusmu.

Akhirnya, bismillah berangkat juga.

Sampai di gedung S3, melihat penguji skripsiku masuk, aku tambah deg2an. Duh gimanaaaa.

Beneran, pas masuk ke ruangan. Ternyata muka peserta workshopnya sangat familiar. Ada dosen penguji skripsiku, ada dosen lab, ada dosen editor naspubku. Dan dosen penguji skripsi yg sangat kusayangi, dokter Ratna langsung memanggilku untuk duduk di samping beliau.

Syukur Alhamdulillah, kenyataannya tak semengerikan yang kubayangkan.

Dosen-dosen peserta bersikap sangat ramah sekali. Sesekali aku dipanggil. Sesekali mereka bertanya. Sampai akhirnya terlibat diskusi yang seru tentang moldock.

Dan walaupun selama workshop, ada yang kuajari dan masih gagal, eror dsb, walaupun selama workshop aku mondar mandir juga nanya ke febri dan masyoga krn khilaf suatu hal, walaupun penuh kekurangan disana sini, tapi Masya Allah para peserta alias dosen-dosen sangat mengapresiasi sekali dan ketika mereka mengucapkan terima kasih, rasanya aku pingin meluk mereka. Terima kasih krn sudah mendengarkanku yang penuh kekurangan ini. Yang pasti tidak ada apa-apanya dibanding ilmu yang pernah mereka sampaikan.

Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.

Terima kasih Allah, sudah mengizinkanku untuk belajar di forum akademisi lagi. Yang penuh dengan atmosfer ingin belajar dan saling menghargai satu sama lain.


اَللهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَااْلاَمْرَخَيْرٌلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ فَاقْدُرْهُ لِىْ وَيَسِّرْهُ لِىْ ثُمَّ بَارِكْ لِىْ فِيْهِ

Jan 21, 2017

Di Waktu yang Allah Tetapkan..

Oleh: Asma Azizah


Surakarta, 20 Januari 2017


Kita akan ujian di waktu terbaik yang Allah tetapkan untuk kita.
Kata-kata yang tidak solutif, tapi setidaknya, mengucapkan kalimat itu berulang-ulang bisa menenangkan resah diri.

Ya, aku berada di injury time dimana aku harus segera melaksanakan seminar hasil skripsi.
Beberapa waktu lalu, teman-teman sudah mulai memberi tahu tanggal ujian skripsi. Sementara aku ketar ketir di kamar menyelesaikan pembahasanku.
Rasanya aku seperti berlari kencang sekali untuk mengejar segala ketertinggalan.

Pernah tiba masanya, aku mual sekali.
Rasanya penelitianku seperti benang kusut entah dimana ujungnya.
Rasanya tungkaiku tak cukup kuat, tubuhku tak cukup tegar untuk berlari mengejar semua.
Rasanya semua terlalu jauh untuk dikejar.

Aku pernah merasa sangat putus asa,
Aku pernah merasa sangat benci melihat target-target ujian skripsi yang kubuat.
Hingga saking bencinya, kuhapus bersih-bersih semua target itu.
Pasrah.

Dan lagi-lagi mengulang kalimat,
Allah akan memberiku waktu ujian yang terbaik untukku.

Aku menghela napas panjang, untuk coba berlari lagi.

Pembahasan akhirnya kukejar dari pagi – siang. Kemudian segera kukirim ke dosen.
Tidak berapa lama, dosbing utama minta untuk segera menghadap dengan membawa berkas persyaratan ujian lengkap untuk ditanda tangan.

Tiba-tiba aku sudah dapat tanggal
Sudah dapat tanda tangan

Dan satu hari setelahnya,
Alhamdulillah semua berkas lengkap

Hanya saja, tiba-tiba pula tanggal ujianku harus berganti
Detik ini pun, tanggal itu belum kunjung fix.

Ada sejuta khawatir.
Dari mulai tanggal, naskah skripsi, publikasi, dan bayangan akan suasana ujian nantinya.

Ada takut. cemas. Dan kecewa dengan diriku sendiri.

Namun lagi-lagi aku harus menenangkan hati, dan kali ini ikut menenangkan rekan-rekan juga.
Mereka yang tiba-tiba harus berganti tanggal, yang tiba-tiba ada kendala di naskah, dan lainnyaa

Kuyakinkan mereka:
Allah akan memberi kita tanggal ujian di waktu terbaik yang Ia tetapkan.

Pena telah diangkat, tinta telah kering.
Semua tinggal bagaimana kita menjemput karuniaNya dengan semaksimal mungkin.
Semua tinggal soal menjemput bahagia dengan memaksimalkan ketaatan.


Wallahu a’lam bish showab

Kita Tak Pernah Sendiri

Oleh: Asma Azizah


Surakarta, 10 Januari 2017

Hari ini aku bangun dengan  banyak kekhawatiran. Khawatir dengan kenyataan bahwa aku harus melakukan seminar hasil skripsi sebelum tanggal 31 Januari 2017. Bila meleset, tak main-main, ancamannya bayar uang kuliah lagi yang tidak sedikit.

Apalagi mengingat penelitianku yang tiba-tiba jadi seperti benang kusut. Menjadikan mimpiku berpekan-pekan tentang isi penelitian.

Buntu rasanya.

Ditambah dengan hari ini, kawan-kawan baikku mengadakan seminar hasil. Makin khawatir.

Tapi masya Allah.. Allah menghiburku yang sedang penuh kekhawatiran ini dengan banyak cara yang tak pernah kusangka.

Pertama, selepas "menonton" seminar hasil kawan baikku, pembimbing memanggilku dan menanyakan progress. Menjembatani aku untuk bertanya dengan dokter pakar bidang skripsiku.

Alhamdulillah, pencerahan. Walau sebakdanya, aku dirudung rasa sedih, lemas, dan kecewa pada diriku sendiri. Semua teman sudah siap belajar kompre, sementara aku masih disini, tertinggal disini.

Tiba-tiba kawan baikku yang lain mengingatkanku: bersyukur asma, punya dosen pembimbing yang luar biasa care. Yang mau terjun bantu langsung penelitianmu.

Aku tersentak. Ya, bersyukur. Setidaknya, disyukuri dulu nikmat Allah yang ini. Syukurku hadir, walau ada berat disana.

Siang itu, tiba-tiba ada beberapa kawan kelompokku yang mengirim pesan line: semangat asma. Allah akan memudahkan semuanya insya Allah.
Atau, semangat asma, ngga boleh down lama2

Aku tersenyum haru. Padahal jarang sekali kirim pesan line dengan mereka.

Hari beranjak sore, aku mulai berkutat lagi dengan penelitianku. Stagnan lagi, lemas lagi. Tiba-tiba, kawan baikku yang lain datang ke kosku. Dengan senyum ceria memberikan sebungkus biskuit coklat: semangat asma.. katanya.

Malam ini, aku menginap di kos teman baikku. Dan aku terkejut, melihat namaku terpampang jelas di prakata sebagai ucapan terima kasih 😭😭😭.

Padahal selama ini, aku yang sering merepotkannya, aku yang sering bertanya ini dan itu. Aku yang penuh khilaf :".

Tapi, lagi-lagi, Allah memang yang paling tahu bagaimana menghibur hambaNya.

Lewat semangat dari teman2, lewat lembar prakata skripsi ini.

Ya, sejatinya kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada keluarga, teman-teman. Atau paling tidak, kalau tidak dibersamai secara fisik, percayalah akan selalu ada doa2 mereka yang menemani. Dan percayalah, kita tak pernah benar-benar sendiri, ada Allah, ada malaikat2Nya yang lebih dekat dari vena jugularis kita.

Fa bi ayyi aalaa i Robbikumaa tukadzdzibaan?

Ya Allah jadikan kami hamba yang senantiasa bersyukur..                        

Aug 7, 2016

5 tahun lagi

“Siapakah dirimu 10 tahun ke depan?” Hening.

Pertanyaan berlanjut.

“Siapakah dirimu lima tahun ke depan?” masih hening. Kali ini pembicara menoleh ke kumpulan pemuda berjas biru telur asin.

”wah kalau pertanyaan ini paling engga mas mbak panitianya harus ada yang bisa jawab”

Ini kesempatan emas, disaksikan puluhan mata dan ada kemungkinan diaamiinkan malaikat :’) maka sebelum hening berlanjut; akhirnya terangkat juga tangan, dan keluar sebuah suara malu2 : In syaa Allah 5 tahun ke depan jadi mahasiswa S3 di Tokyo University.

Alhamdulillah, malam ini diingatkan kembali tentang pentingnya memiliki mimpi yang detail. Agar jelas ‘kendaraan’ yang harus dipakai, agar terhindar dari ketidakfokusan dan kesia-siaan waktu.

Lebih jauh lagi, pertanyaan pembicara ternyata mengingatkan pada pertanyaan yang dilontarkan saat seleksi wawancara baktinusa: di umur 40 tahun nanti, kamu membayangkan sosokmu seperti apa?



Tulisan terinspirasi dari acara Seminar Motivasi Karangtaruna Desa Pringanom (tempat kkn), kebetulan pembicaranya adalah penerima baktinusa, jadi langsung keinget sama pertanyaan baktinusa deh :') | dan waktu pertanyaan itu dilontarkan, i couldn't describe the answer clearly. Belum begitu jelas ketika itu, di 40 tahun kelak akan seperti apa sosokku :'' | tapi sekarang, bismillah.. in syaa Allah semangat lagi membangun tangga mimpi.


Btw lagi, sebenarnya waktu kemarin bilang Tokyo Univ itu, ngasal banget. Bahkan ngga tau itu kaya gimana dan ada apa engga jurusannya. Selama ini cuma ngertinya, NagoyaU, OsakaU, TohokuU aja. Terakhir di proposal hidup baktinusa nulisnya Tottori University. Dan malam itu, mendadak semua univ terlupa. Yang keinget cuma jepang dan jepang. Dan karena ga ada Japan U, akhirnya nembak aja Tokyo University. hehehe peace.

Ohiya, foto ini juga bukan aku yang ngambil kok. Ini foto nemu di fb :D | dan entah yangn di foto sungai apa dan gedung apa :') | makasih ya anon fb :))


Jul 7, 2016

Menjadi Mata Air

Menjadi mata air.
Pesan ayah dari Bacharudin Jusuf Habibie yang tertanam kuat dalam benak Habibie kecil.

Habibie tidak lahir dari keluarga biasa.
Habibie lahir dari ayah yang sangat cerdas. Ayah yang mengajarinya banyak hal. Ayah yang membuatnya bermimpi untuk membuat pesawat. Ayah yang menanamkan padanya untuk bisa jadi mata air, jadi orang yang bermanfaat. Ayah yang taat agama, dan ketaatan itu tercermin dari cara meninggalnya dalam sholat, yang insya Allah husnul khotimah.

Habibie dibesarkan dari ibu yang sangat kuat. Ibu yang jadi garda terdepan memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.

Menonton film rudy Habibie semalam, membuat khayalku melayang jauh. Ke jerman sana. ke dokter. Mengingatkanku pada teman satu SMA yang sangat cerdas. Sinisnya sama. pintarnya luar biasa. Gerak-geriknya. Berkarya dalam diam. Tak pernah ribut dan banyak mengobrol. Tahu-tahu namanya sudah mewangi. Mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Karena film hanya menceritakan indahnya. Bagian sedihnya tentu tak lebih banyak dari indahnya.

Sosok Habibie yang sekarang ini, siapa yang tahu apa saja yang telah terjadi di masa mudanya dulu? Siapa yang mengerti air mata, peluh, dan semua usaha yang sudah dilakukan?

Saya hanya butuh tidur 4 jam. Makin cepat dapat tempat, makin cepat saya belajar.
Kecintaannya pada ilmu. Keseriusannya dalam belajar. Rasanya membuatku tertampat-tampar. Apalagi mengingat tahun-tahun kuliah kedokteranku yang belajar sangat ala kadarnya..

Menjadi mata air.
Mata air hanya lahir di tanah yang bergolak.
Mata air yang jernih akan mengendapkan keburukan di sekitar.

Orang baik akan dikelilingi orang baik.
Jadi orang bermanfaat. Jadi orang bermanfaat.

Pemimpin itu, banyak curhat ke “langit”.
Banyak doa. Banyak doa.





Kalau kamu ga taat, percuma aja semua ini asma :''

May 8, 2016

Neuroplastisitas

Neuroplastisitas. Yaitu kemampuan otak untuk berubah secara struktural dan fungsional yg dikarenakan stimulus.

Secara struktural, otak yg memiliki neuroplastisitas baik akan memiliki jumlah dendrit yang lebih banyak. Jadi meski volume sama, tapi serabutnya lebih banyak, maka bisa disimpulkan orang tersebut lebih cerdas.

Menurut penelitian, neuroplastisitas ini akan menurun, alias serabut dendritnya akan berkurang dan otak akan atrofi (mengecil) pd usia mendekati lansia, atau lansia, karena otak mulai jarang dipakai berpikir keras. Ini yg membedakan olahragawan dengan akademisi atau seorang ilmuwan, bs disebut professor dlm org awam. Nah ternyata, olahragawan lbh cpt mengalami demensia pada mereka yg jarang mngaktifkan fungsi2 otaknya. Sdgkan ilmuwan akan cenderung lebih tahan terhadap demensia.

Dr sumber yg saya dpt (dari dosen; mgkin bs dicek kbenarannya lg), neuroplastisitas akan menurun kemampuannya mulai usia 30. Jd ada 2 pilihan, stagnan or decreases.  Jadi di usia2 ini, byk manfaatkan untk tugas2 yg banyak, dg kemampuan individu msg2 tentunya. Jgn terlalu byk beban, shg byk stressor. Jgn takut bodoh karena waktu belajar berkurang gr2 dakwah.

Karena kalo kita lbh menguatkan fungsi otak kita dan kapabilitas otak kita dg disibukkan dakwah, maka jika org biasa btuh bljr 4 jam, mungkin kita cm btuh 2 jam. Ya, karena kita memanfaatkan neuroplastisitas itu. Byk mikir, byk tugas, banyak amanah, byk kepepet.

Akhirnya kemampuan otak kita bertambah, struktur otak pun akan lebih padat. Inilah tugas kita. Berat, tp byk melatih kita. Membuat lebih kuat kedepan. Jd jgn takut byk tugas dan byk kerjaan.

Oleh: Yoga Mulia Pratama, S.Ked (Korfak AAI FK 2014)

Mar 29, 2016

Tentang pelajaran hidup bernama baktinusa (3)

semoga Allah beri kabar bahagia buat mbak melalui Asma yaa :)) – mbak titis.

Dibalas begitu oleh mbak titis, malah aku yg jadi takut.. entah kenapa mbak, aku lebih suka mengenang kata-katamu yg ini:
pokoknya Asma, walaupun nantinya Asma ga keterima baktinusa, mimpimu buat bikin klinik itu harus bisa terwujud.

Yakin banget mbak tis, padahal baca esai dan konsepan kliniknya aja belum :’)

‘ala kulli haal, Alhamdulillaah atas segala karunia Allah. Yang sudah mengizinkanku untuk belajar sejauh ini. Pada akhirnya aku memahami, bahwa apapun yang terjadi, kalimat apapun yang terlontar saat seleksi 2 kemarin, sejatinya itu sudah merupakan kehendak terbaikNya.

Termasuk pengumuman nanti.. Allah yang paling tahu yang terbaik bagi kita. Sekarang waktunya menata diri lagi, menata hati, dan menjalankan apa-apa yang pernah tertulis di proposal hidup, tentu saja segalanya on mission menegakkan kalimat Allah di muka bumi. In syaa Allah

Tentang pelajaran hidup bernama baktinusa (2)

Tidak harus bersama baktinusa.
Aku tahu Allah memiliki rencanaNya yang terbaik dan terindah.
Aku tahu, mungkin akan lebih mudah bagiku bila tidak diterima di baktinusa.

Tapi Allah, entah mengapa, masih hangat di bayangku, masih terngiang di telingaku, pertanyaan salah seorang pewawancara: kalau nanti ditantang untuk nulis buku, bisa ya?

Seperti ada petir.
Insya Allah. Jawabku ragu.

Udah tau mau nulis tentang apa? tanya beliau lagi.

Belum.. eh tapi saya ingat di proposal hidup itu, saya pingin bikin tulisan tentang gimana caranya biar mahasiswa juga punya semangat untuk ngafal dan menjaga hafalan.

Nah itu. Jadi siap ya kalau ditantang untuk nulis buku? Tanya beliau dengan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.

In syaa Allah. Dengan bimbingan Allah dan pembinaan dari baktinusa. Jawabku akhirnya mencoba mantap. Jawaban yang entah mengapa menerbitkan senyum optimisku.

Padahal,  ada sekian banyak pertanyaan yang jawabannya menggantung. Ada banyak kejujuran dan alasan yang belum sempat terungkap.

Ada satu pertanyaan yg sampai saat ini juga masih terngiang: di umur 40 tahun nanti, kamu ingin dikenal sebagai apa?

Aku lupa pastinya kujawab seperti apa, yang jelas, jawabanku tidak sefasih tulisan yang tergambar di otakku.

Aku ingin dikenal sebagai ibunya ummat, ibunya anak-anak. Seperti ustadzah yoyoh yusroh yang memperjuangkan tanah palestina. Aku ingin dikenal sebagai seorang dokter jiwa yang bisa mengobati mental keluarga broken home. Aku ingin jadi ibu yang kuat seperti ummi. Aku ingin dekat dengan anak-anak jalanan, dengan ibu-ibu single parent, dan aku ingin mereka dekat dengan Qur’an karena adanya klinik recovery jiwa yang kami buat.


Entah bagaimana tim pewawancara mendengar dan menafsirkan jawabanku, yang pasti aku memang harus belajar banyak untuk menyampaikan sesuatu lewat lisan..

Mar 16, 2016

Mimpi-mimpi

Kemarin pas kuliah farmakologi, prof. Muchsin kasih 1 analogi yang keren banget. Kata beliau:
Tubuh kita ini dahsyat banget. Kalau misalkan kita pengen lari kesana, jaras saraf yang dilewati impuls untuk memacu otot kita itu udah sampe kesana. Ke tujuan kita. tapi badan kita aja yang harus kerja keras. Musculus harus bekerja keras buat memindahkan badan kesana.

Dan kemudian aku tersentak. Analogi itu kaya analogi mimpi. Kalau kita udah berani mimpi, sebenernya kita udah sampai kesana. Hanya saja waktu dan raga butuh waktu untuk benar-benar menggapainya. Exercise yang dilakukan demi menggapai tujuan itu, dan semangat baja pantang nyerah. Coba aja, kalau kita berenti di tengah jalan, apa bisa badan kita sampai disana? Engga.

Jadi, jangan pernah berhenti mengejar bermimpi. Dan parahnya, jangan pernah takut bermimpi. Kalau takut netapin tujuan, maka kita sudah membunuh impuls kita yang seharusnya sudah sampai pada mimpi itu.

Sekian.


- Kereta Krakatau menuju jatinegara. 23 september 2015. H-1 idul adha

Aug 1, 2015

Memilih Mimpi

Melihat cerita bahagia mbak ratna mengenai perjuangannya mendapatkan beasiswa monbusho, aku seperti melihat potret diriku, 2 tahun yang lalu. Ketika aku sangat bersemangat untuk meraih beasiswa di Jepang. Bedanya, mbak ratna lulus dan aku tidak.

Kemudian membaca cv beliau, ada sedikit iri terbit disana. Rasanya ingin menangis dan menyesal. Sebabnya? Dulu sudah sangat dekat sekali jalanku untuk punya publikasi, tapi aku tak kuat, dan memilih untuk berjuang di jalan lain.

Semua orang bisa bahagia, asal standar bahagianya jangan pakai standar bahagia orang lain – many people (termasuk kak syayma, kakak kece badai 1 kos).

Melihat kembali mbak ratna, dengan tumpukan publikasi dan presentasi, aku tahu ia telah bekerja sangat keras untuk itu. Karena pernah 1 meja kerja dengan beliau (walau hanya beberapa menit), pernah mengerjakan sedikit hal-hal yang beliau juga kerjakan. Pernah nonton kebahagiaan mbak ratna dan teman-teman 1 timnya yang sumringah atas keberhasilan kerja mereka. Yang pasti, aku belum kuat kalau harus berkutat dengan penelitian, sekuat mbak ratna. Dan karena itu, sungguh aku sama sekali ngga pantas untuk iri.

Akhirnya, semua kembali pada pilihan. Mau jadi seperti apa kita, mau mendapat apa, semua ditentukan oleh kita sendiri. So? Set your dream as high as you can, then work for it! Kalau tidak memilih mimpi, kapan kita bisa mulai bekerja di koridor (mimpi) yang benar? Kalau tak pernah punya mimpi, bagaimana mungkin akan ada kalimat ‘aku telah meraih impianku’ dalam hidupmu? J


btw, congratulation mbak ratna atas beasiswanya.. semoga berkah J

May 3, 2015

Manasik

Alhamdulillah..
2 hari ini (ga ada 2 hari sih, dari kemarin siang sampai ahad pagi), Allah berbaik memberiku kesempatan untuk jadi tim medis di acara manasik haji IPHI di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak. Sesuatu sama sekali tak pernah kurencanakan. Bahkan sebenarnya nyaris ngga jadi berangkat karena tumpukan laporan dan hujan deras. Tapi Alhamdulillah akhirnya berangkat juga..

Job nya ngga banyak. Kalau ditanya ngapain aja, yaa kebanyakan kegiatan kita sebenernya cuma makan :3

Jadi kita mengiringi kegiatan jama’ah. Sama pas malem kita juga gelar meja buat yang pengen di cek tekanan darahnya sama minta obat/vitamin. Tadinya sempet ada rencana untuk visit ke kamar-kamar jama’ah, tapi dokter nanik sudah terlalu lelah.. jadi yaa ngga jadi..

Yang membuatku terharu dan berkali-kali ingin menangis adalah ketika aku membersamai para jama’ah. Dalam thowafnya, wukuf di arafah, ambil batu di muzdalifah, ke mina, lempar jumroh. Ya Rabb.. rasanya aku ingin sekali melihat ummi abi mbah, kita semua sekeluarga ada disana. Berpakaian putih-putih, memenuhi panggilanMu.. :’’)

Trusnya lagi, yang bikin kegiatan 2 hari ini menyenangkan, karena kita dibersamai dokter yang sangat bersemangat, Ibu Dokter Nanik :’) Dokter Nanik memberi instruksi dan pengarahan ini itu, minta ini itu, jadi berasa lg coass :”) dan beliau juga cerita banyak seputar pengalamannya jadi dokter pendamping jamaah Haji, dan itu sesuatu banget.. beliau juga ngasih wejangan ke kita, supaya kita naik haji di saat kita masih muda.. supaya kita juga cepet-cepet daftar buat jadi dokter pendamping jamaah haji.. nggeh dok.. doakan ya dok :”)


Well, kapan kita sekeluarga mengunjungi Kakbah? Mari menggenapkan keislaman kita :”)

Sep 10, 2014

cinta (lagi)

Ada iri mengiringi senyum.
Kala melihat kebahagiaan mereka dapatkan apa yg diperjuangkan.

Yang dulunya juga kuperjuangkan.

Yang dulunya sangat ingin kudapatkan.

Tapi apa daya, hidup harus memilih.

Kata mbak iis, jadi hamba pilihan itu nggak mudah.

Pun ketika sudah mengorbankan semuanya.

Ya Allah, jadikan AlQuran penerang hatiku, penunjuk jalan hidupku.

Ya Allah jadikan kecintaanku pada alQuran menggantikan kecintaan apa2 yg pernah kucinta dan pernah kudambakan.



- 20140909
Pasca melihat senyum yg diterima -


Barakallah.. semoga kesibukan baru itu tak menyurutkan azzam untuk menghafal Quran.

Apr 30, 2014

Vial dan Ampul

Bismillah.
Bukan ingin menjelaskan apa itu vial atau ampul, hanya ingin sekedar berbagi sebuah kesyukuran :')

Setahun yang lalu, Januari 2013.
Mbah minta dibawa ke rumah sakit (lagi). Padahal kondisi tubuhnya sudah benar-benar drop pasca trakheostomi dan pihak rumah sakit sudah nyuruh bawa pulang saja. Tapi karena berkali-kali memaksa, akhirnya tengah malam itu, sekitar jam 12 malam, ambulans melaju menuju rumah sakit kanker di Jakarta. Jangan tanya bagaimana rasanya berada di dalam kendaraan yang nguing-nguing menerobos kesunyian malam. Jangan tanya bagaimana dag dig dug nya memegangi tubuh yang tak tenang..

Sampai di rumah sakit, mbah masuk ke UGD sebelum masuk ke kamar perawatan. Dan malam itu, aku harus bolak-balik UGD-kasir-apotek-UGD untuk mengantarkan resep dr UGD ke apotek, ngambil obat, terus kasih ke UGD lagi. UGD ada di lantai 1, apotek lantai 2. Betapa tidak efisiennya pelayanan. Dan akhirnya dini hari itu, saya menembus kesunyian rumah sakit, menaiki lift seorang diri. Panik. Sampai terlupa betapa bencinya dengan bau rumah sakit. Lupa dengan film-film horor berlatar rumah sakit. Padahal ketika itu ada beberapa bagian rumah sakit yang sudah digelapkan.

Aku belum paham waktu itu tentang kondisi kegawatdaruratan. Tapi entah si dokter berkali-kali memberi tambahan resep yang berarti aku juga harus bolak-balik ke kasir dan apotek. Malam itu sekitar 3-4 kali aku bolak-balik. Dan waktu kesekian kalinya aku ke apotek, nunggu agak lama, dan aku merhatiin resepnya juga (akhirnya) penuh dengan tulisan yang tak kupahami. Yang teringat jelas adalah kata-kata 'ampul' dan 'vial'. itu apa? tablet? cair? Sampai akhirnya aku iseng nulis di notes hp. Untuk kemudian dicari artinya di internet.

Sampai detik ini, belum pernah sekalipun asma nyari betul-betul arti ampul dan vial. Tapi, karena sekarang masuk field lab imunisasi, dimana berhubungan dengan vaksin yang ditempatkan di ampul dan vial, finally i know it.

Begitu mudahnya Allah menetapkan yang terbaik bagi kita. Begitu Maha Mengetahuinya Allah, memberikan apa yang benar-benar kita butuhkan. Mungkin dididik jadi dokter dan bukan dididik jadi peneliti yang bergaul dengan struktur molekular kimia adalah yang terbaik bagi asma..

Terima kasih Yaa Allah atas segala karunia terindahmu :')


Feb 13, 2014

Ada

ada kerinduan yang memanggil-manggil
tatkala melihat hafidzoh berhijab lebar itu..

ada kerinduan yang ingin dipeluk, kala menatap hujan yang turun, menerpa dedaunan dan membasahi lapang bumi..

ada kerinduan, kerinduan untuk bermimpi lagi..
mengejar yang dulu pernah dikejar

-pasca screening GEMMA, 13 februari 2014

Feb 11, 2014

Kosong

ternyata, yang hilang adalah semangat. dan target hidup.
benar, hidup jadi terasa hampa betul tanpa target dan semangat.
mau hidup mengalir bagai air? silakan. dan kau akan merasa kosong sepanjang waktu.
maknai hidupmu!
maknai sibukmu!
ambil hikmahnya!
jangan hanya bersibuk ria, habiskan pasokan oksigen tanpa bisa menimba ilmu dari universitas kehidupan.

wahai asma, masih mau merasakan kekosongan yang sama di semester depan?

Oct 12, 2013

dulu. dan sekarang

GAMAIS ITB. Keluarga mahasiswa islam ITB. | yaAllah.. Rabb.. bantu aku melepaskan mimpi-mimpi ini. Tolong aku mengikhlaskan semua impian ini. Yang sudah terpatri, bagai dipaku di kepala. yaAllah berikan pengganti mimpi itu di solo. Keluarga yang jauh lebih baik bagiku. Mungkin gamais baik, tapi mungkin ada yang lebih baik baiku. Rabb tolong.. :’( | kamu bahkan menyerah sebelum bertarung. Ah mimpi apa itu ma. | Aku tidak menyerah ): | alasan saja | Aku.. Ah bodohnya diri ini sungguh. Pembual besar. Membualkan mimpi-mimpi setinggi langit. | Ma. Harusnya ingat betapa beraninya kamu dulu mengambil keputusan ini. Jikalau senyuman umi abi yang kau harap, maka harusnya itulah yang menjadi spirit perjuangan di fk. | Mestakung? Hah rasanya untuk masuk kimia, semesta tak mendukungku.| Jika ridha Allah jadi tujuan, rasa sakit takkan dirasakan.

***

   Itu pergolakan batin yang terjadi ketika awal mencicipi dunia fk. Masih awal sekali. Masih penuh ego dan ketidak ikhlasan. Astaghfirullahal’adzim, betapa tidak bersyukurnya diri ini.
   Sekarang, setelah 2 bulan disini, setelah mengikuti training esq, ikut banyak kajian, kenal dengan banyak sosok luar biasa; Allah bagai menjawab keluh kesah di atas. Sungguh, kuliah di fkuns dan nyantri di pesmi Arroyyan adalah yang terbaik.
   Allah memberikan keluarga, pengganti gamais yang kemarin terlihat terbaik bagiku, dengan banyak keluarga baru disini. Keluarga Arroyyan, semoga kelak kami dapat jadi satu keluarga jua di Jannah ArRoyyanMu kelak YaAllah :’) Keluarga Alacritas, keluarga pendidikan dokter, keluarga di fakultas kedoteran, keluarga mahasiswa islam. Alhamdulillah YaAllah.. maka benar kata imam syafii, merantaulah, maka kau akan dapatkan pengganti keluarga yang ditinggalkan :’)
   Mengenai mestakung di atas, sepertinya harus diralat. Salah besar jika semesta tidak mendukung. Siapa bilang di jurusan ini tak bisa berdekat-dekat dengan kimia dan jadi scientist? Bisa kok insyaAllah. Dan asma merasa Allah sudah tunjukkan jalannya. Kuliah disini, bertemu lulusan jepang seperti dr Tonang, dr Afi, dr.Indah yang luar biasa. Dan bisa jadi salah satu asuhan dr. Afi di Biomedical Study Club adalah satu hal yang sangat disyukuri. Oh.. begini maksudnya Allah. Mungkin harus memantaskan diri dulu sebelum belajar di jepang, salah satunya dengan menjadi muridnya dokter2 hebat ini.
   Sungguh, aku tunduk pada Allah. Pada segala ketentuanNya. Terima kasih Rabb atas segala kemurahanMu :’)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (AlBaqoroh: 216)

Jul 11, 2013

Move On

Seharusnya, ana sudah mengganti bio semua medsos sejak 27mei. Seharusnya, foto botol-botol kimia juga sudah diganti dengan stetoskop, atau apalah yang lain. Seharusnya kalimat AHLI KIMIA diganti saja.

Huff.
Tapi menggantinya tak semudah itu.

Maka, bagaimana mau move on kalau mengganti hal-hal kecil seperti itu saja tak sanggup.
Bagaimana mau mulai cinta kedokteran jika masih setengah-setengah begini.

Tapi ketahuilah.
Bukannya aku susah move on.
Dan bukannya aku setengah-setengah masuk ke dunia yang nyaris tanpa pelajaran hitungan ini.

Aku hanya berharap.
Suatu hari nanti, yah suatu hari di tahun 2018/2019, aku bisa lulus ujian pascasarjana ke bidang kimia. Entah itu harus farmakologi. Entah apa itu. Yang pasti, jurusan yg bisa mengantarkanku jadi scientist.


Egois? Ya. Sangat.
aku tahu aku masih perlu belajar banyak. belajar keikhlasan, ketulusan. semoga ramadhan kali ini bisa jadi sarana membuka hati. dan mencairkan keegoisan ini.

Jun 6, 2013

SNMPTN. Dan mimpi-mimpi saya (3)

Karena yang harus dikejar bukan cuma mimpi sendiri. Karena sebenarnya ada yang harus lebih dikejar.
Mengejar Ridho Allah.
Karena Ridho Allah itu hadir karena keridhoan orangtua. Bukan hanya orangtua yang telah melahirkan kita, tapi orangtua lain yang telah melahirkan banyak pemahaman alam semesta.

Karena jika aku ikut sbmptn dan simak ui, maka yang tinggal hanya keegoisan belaka. Yang ada hanya kerakusan semata sok-sok bisa masuk ke fakultas kedokteran yang paling top di indonesia, katanya. Yang pada akhirnya, untuk apa semua ini? Untuk apa ikut sbmptn demi fmipa itb? Yang jelas2 harapan orangtua berakhir pada kata dokter. Untuk apa ikut simak ui? Toh sebenarnya kamu ga pengen jadi dokter kan? Kenapa pula harus mengejar fkui?
                Dan lagi-lagi sungguh, jika semua keegoisan itu diikuti maka yang tinggal hanyalah keserakahan, kerakusan, dan ke-an yang lainnya.
                Cukup berhenti disini. Di snmptn saja.


Terjawab, 3 juni, perpustakaan kaki gunung karang.