Showing posts with label wellprepared. Show all posts
Showing posts with label wellprepared. Show all posts

Jul 14, 2017

Another Inspiring Story

(dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp.OG)

Aku baru saja menyelesaikan satu buku tentang pendidikan anak yang direkomendasikan suamiku. Judulnya, battle hymne of the tiger mother, yang ditulis oleh seorang profesor bidang hukum di Yale university berdarah Cina. Berkisah tentang perjuangannya membesarkan 2 orang putrinya di Amerika, dan pertentangan prinsip 'Chinese' dan 'Western' parenting. Ditulis secara naratif dan deskriptif, membuatku mengenang kembali masa kecilku dan membayangkan masa depan anak-anakku, yang dalam hal ini kurang lebih sama posisinya dengan anak-anak si penulis.

Sampai berjam-jam kemudian, isi kepalaku masih dipenuhi dengan berbagai ide dan gambaran metode mendidik anak-anakku yang diinspirasi dari buku itu. Namun entah kenapa, sesaat sebelum tidur malam itu, tiba-tiba aku merasa bukan menjadi 'the tiger mother'. Bahkan, aku merasa seperti menjadi bagian dari peran kedua anak gadis yang dikisahkan di buku itu, diasuh oleh 'tiger mother'. Ibuku memang menerapkan prinsip pendidikan yang hampir sama dengan 'Chinese' parenting itu padaku, tapi itu tentu sudah berakhir lebih dari satu dekade lalu.

Sambil mengelus-elus gadis kecil di sampingku agar segera tidur, pikiranku masih terus melayang mengapa bukan peran 'tiger mother' yang kurefleksikan, tapi justru kedua putrinya. Kalau aku merasa seperti kedua gadis dalam buku itu, tentu ada seseorang yang berperan sebagai 'the tiger mother' untukku saat ini. Tepat saat itu suamiku masuk kamar melongok apakah si kecil sudah tidur dan mengingatkanku untuk memberinya anti piretik agar dia tidur nyenyak (si kecil memang sedang terserang ISPA dan sering rewel di malam hari karena hidungnya mampet). 

Seperti balita yang baru berhasil memecahkan puzzle 4 bagian, otakku berseru 'that's it...!!'.  Aku tidak hidup bersama seorang 'tiger mother' lagi saat ini, tapi aku memiliki seorang 'ram husband' yang mengarahkan jalan hidupku. Entah mengapa aku memilih sebutan 'ram' yang artinya domba jantan. Mungkin diinspirasi dari zodiaknya yang Aries, dan 'ram' adalah simbolnya. Tapi aku tak percaya zodiak, apalagi sebagian ulama menyatakan hal itu dekat dengan kemusyrikan. Aku juga tak tahu apakah sifat 'ram' itu sama seperti suamiku, toh aku dididik sebagai dokter manusia, bukan dokter hewan.

Namun aku kenal persis sifat suamiku (walau mungkin dia akan menyangkal pernyataan ini). Hampir sepuluh tahun melewati hidup bersamanya, dia selalu bisa membaca pikiranku sama seperti aku bisa membaca hatinya (mungkin yang ini juga debatable). Walau kami sama sekali tak saling mengenal waktu pertama kali berjumpa, kurasa sifat percaya diri dan visionernyalah yang membawa kami sampai ke kursi pelaminan, dibanding sifatku yang lebih banyak 'let's just go with the flow...'. Kami sama-sama anak pertama, sama-sama keras kepala dan suka berdebat, dan yang lebih penting sama-sama tidak mau mengalah.

Aku masih harus menyelesaikan pendidikan dokter umumku saat aku menikah. Rotasi di berbagai bagian seperti bedah, obgin, dan seterusnya akan tetap menghabiskan waktuku sama ketika aku masih gadis dulu. Aku tidak mau studiku terganggu karena menikah, dan aku sudah memberikan janjiku pada ibuku akan tetap lulus tepat waktu dengan nilai baik walau menikah saat kuliah. Karena janji itu, ide suamiku untuk segera memiliki anak setelah menikah tentu kutolak mentah-mentah. Terbayang bagaimana susahnya berlari-lari sepanjang lorong IGD saat jaga dengan perut buncit karena hamil. Belum lagi aku akan harus cuti melahirkan, tentu membuat targetku lulus tepat waktu meleset.

Singkat cerita (lebih karena aku tak ingat lagi apa yang terjadi atau apa yang suamiku lakukan untuk membujukku), aku melahirkan anak pertamaku saat aku masih ko-ass. Aku cuti melahirkan. Aku terlambat lulus 5 minggu dari teman-teman seangkatanku. Aku wisuda satu semester setelah teman-teman sparingbelajarku diwisuda, walaupun tetap bisa dilantik sebagai dokter bersama-sama di gelombang pertama. Tapi bedanya, teman-temanku waktu itu kebanyakan hanya didampingi kedua orang tuanya saat wisuda dan pelantikan. Diriku ? Didampingi kedua orang tuaku, mertua, suami, dan tentu saja bayi kecil yang telah banyak mengubah hidupku.

Mendapat ijasah lebih lambat dari seharusnya juga merentang tantangan di depanku. Impianku untuk segera mendaftar program pendidikan spesialis obstetri dan ginekologi terpaksa ditunda. Selain itu, aku juga tak bisa membayangkan dari mana uang puluhan, bahkan ratusan juta yang harus kusediakan untuk membiayai pendidikan spesialis. Orang tuaku pensiunan pegawai swasta (tanpa tunjangan pensiun tentunya) dan masih harus membiayai sekolah 2 adikku. Penghasilan suamiku saat itu hanya cukup membiayai kebutuhan keluarga kecil kami.

Akhirnya aku memendam (setidaknya menunda) mimpiku untuk segera melanjutkan pendidikan spesialis. Sebagai gantinya, aku rajin membaca koran dan internet, mencari kesempatan beasiswa belajar di luar negeri. Ini adalah impianku yang lain sejak sekolah menengah dulu, kuliah di luar negeri. Aku sadar suamiku tak sepenuhnya menyetujui ide ini. Dia memiliki pekerjaan yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja untuk menemaniku sekolah di luar negeri. Anak kami pun umurnya belum genap setahun, tak terbayang bagaimana mengakali itu semua.

Lagipula aku sadar diri, sebagai dokter fresh graduate, nilai lebih apa yang kupunya untuk bersaing dengan ribuan pemburu beasiswa lain dengan segudang pengalaman dan referensi. Akhirnya aku menjadikan'hunting' beasiswa itu sebagai hiburan sampingan, daripada tidak ada target yang kukejar sambil menunggu ijasahku keluar. Tapi toh suamiku mendukungku habis-habisan. Dia yang rajin mencarikanku berbagai info lewat internet (koneksi internet jaman dulu tentu tak sebagus sekarang). Saat aku (tak disangka-sangka) berhasil melewati seleksi berkas Australian Development Scholarship (ADS) untuk program master, suamikulah yang memaksaku mempersiapkan diri dengan les IELTS agar saat tes di tahap selanjutnya nanti nilaiku baik. Suamiku juga yang menjadi sparing latihan wawancara, memberi masukan ini itu untuk jawabanku yang 'belepotan'.

Sebulan sebelum pengumuman penerimaan beasiswa ADS, suamiku mendapat pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih baik. Walau perusahaan tempat bekerjanya waktu itu adalah 'the dream company' untuknya sejak masih kuliah dulu, dia rela melepaskan tempat tersebut dan pindah ke perusahaan baru itu. Ketika mendiskusikan keputusannya untuk pindah perusahaan, dengan nada ceria dan antusias dia berkicau "Alhamdulillaah...Mudah-mudahan kalau bisa dapet gaji segini, kita bisa bayar SPP buat obgin. Tinggal cari cara buat bayar admission fee aja kalo memang diterima nanti. Begitu ijasah resmi keluar, langsung urus semua surat buat daftar obgin yaa...", begitu 'instruksi'nya.

Ternyata rencana Sang Pencipta sudah tertulis sedikit berbeda untukku. Beberapa minggu setelah suamiku mulai bekerja di tempat baru, aku mendapat telpon darinya. "Pitha, dapet tuh beasiswa ADS nya...Katanya langsung masuk untuk 'june intake'...". Suamiku yang rajin membukakan email untukku di kantornya karena waktu itu kami belum punya akses internet di rumah. Bulan Juni itu tinggal 4 bulan lagi, sedangkan anakku belum genap 1 tahun umurnya, suamiku baru mulai bekerja di tempat barunya, tidak mungkin minta cuti menemani istri sekolah. Walau sangat senang karena impianku untuk mencicipi kuliah di luar negeri bisa terwujud, tapi aku bimbang karena realitas keluargaku rasanya tak memungkinkan itu terjadi.

Aku tahu suamiku pun merasa bimbang. Setelah diskusi panjang, akhirnya dia memutuskan memberiku ijin pergi ke Sydney, Australia, untuk mewujudkan satu impianku. Tapi dengan catatan, aku harus mengurus dulu semua persyaratan administrasi untuk pendaftaran obgin dan pulang saat ujian penerimaan obgin. Harga lain yang harus dibayar adalah aku tidak bisa membawa anakku pergi bersamaku dan suamiku hanya bisa berkunjung sesekali waktu karena tidak mungkin meminta cuti bekerja setahun penuh.

Tapi memang itulah skenario Sang Pencipta. Dari uang beasiswa ADS itu aku bisa menyisihkan sebagian uang dan menabungnya untuk membayar admission fee pendidikan spesialisku nantinya. Suamiku rela membayar tiket pesawat Jakarta-Sydney supaya aku bisa pulang beberapa kali, suami dan anakku bisa berkunjung ke Sydney, supaya kami semua tetap sering berkumpul dan bertemu. Selama aku kuliah, setiap hari saat menelpon pertanyaan yang sama selalu dilontarkannya padaku "udah sampe mana belajar untuk ujian obgin..?". Aku kuliah tentang health services management dengan setumpuk assignment, mana sempat melahap buku-buku obgin yang tidak ada hubungannya dengan assignment ku...

Kurasa, memang jalan hidupku untuk kemudian lulus seleksi residen obgin dan memulai pendidikan di sana. Suamiku memberikan semua yang dimilikinya untuk mendukungku sekolah, terutama di masa-masa awal pendidikanku. Materi, waktu, dan ekstra kesabaran untukku. Tak jarang aku menghabiskan waktu berhari-hari di rumah sakit tanpa pulang ke rumah. Sekalinya pulang ke rumah, membawa badan lelah, muka kuyu, dan segudang 'curhat' dari mulutku. Aku tahu sebenarnya batas sabarnya sudah sering terlewati karena selalu pasien-pasienku di rumah sakit terpaksa kuprioritaskan daripada keluarga kami. Aku sadar bahwa 'toleransi' untukku sebagai istri dan ibu sering melanggar kemampuan toleransi manusia secara umum. Toh ketika aku memiliki ide untuk berhenti saja dari pendidikan obgin, suamiku adalah orang pertama yang paling menentang.

Bahkan ketika aku cuti pendidikan untuk menemaninya bekerja di Inggris, dia tetap membuatku kembali bersekolah. Setelah cuti setahun dari pendidikan, aku merasa mungkin sebaiknya aku belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik dulu. Belajar mengurus suami dan kedua anakku dengan baik. Setelah adu argumen panjang, suamiku berhasil memenangkan pendapatnya bahwa aku harus kembali ke Jakarta, menyelesaikan pendidikan spesialis obginku dulu. Itu artinya selama minimal 3 tahun ke depan, aku dan kedua anakku harus tinggal di Jakarta, sedangkan suamiku sendiri di Inggris. Aku tak tahu bagaimana waktu selama 3 tahun itu bisa berlalu, dengan suamiku harus menempuh perjalanan udara selama 2x24 jam setiap 2-3 bulan sekali untuk mengunjungi kami di Jakarta, sampai akhirnya masa itu lewat sudah.

Aku selalu heran mengapa dia begitu 'ngotot' memaksaku menyelesaikan sekolah obginku. Salah satu alasannya yang dia ceritakan di kemudian hari adalah dia merasa memiliki hutang kewajiban, menjadikanku SpOG. Rupanya, sebelum kami menikah dulu, aku memperkenalkan diriku sebagai mahasiswa kedokteran yang hampir seluruh waktunya habis untuk kuliah dan aktivitas kemahasiswaan. Maksudku adalah memberi gambaran bahwa setelah menikah, waktuku tetap akan banyak tersita untuk kuliah, sehingga kuharap dia mengerti dan tidak terkejut kemudian dengan keadaanku. Aku juga menceritakan cita-citaku untuk langsung melanjutkan pendidikan spesialis obgin begitu aku selesai dokter umum, dengan harapan dia tidak menentang hal tersebut nantinya. Namun ternyata suamiku memiliki interpretasi berbeda. Dia menganggap ketika dia menyetujui menikah denganku dengan kondisiku saat itu, artinya dia berjanji akan mendukungku habis-habisan untuk menjadi SpOG. Padahal, aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai janji pra-nikah.Anyway, ke'ngotot'an suamiku itulah mungkin salah satu 'bahan bakar'ku untuk menyelesaikan pendidikan spesialis.

Sifat suamiku yang 'ngotot' dan selalu 'mengulang' apa yang menjadi keinginanannya itu juga telah membuatku melakukan hal-hal yang tadinya tak pernah terbayang untukku. Selama di Inggris, dia memiliki ide agar aku mencoba mengikuti ujian registrasi dokter lulusan internasional agar dapat berpraktek di Inggris. Awalnya aku menolak karena artinya aku harus meng 'unlearned' pendidikan spesialisku dan belajar menjadi dokter umum kembali. Belum lagi aturan registrasi di Inggris sangat rumit, ujian PLAB (professional and linguistic assessment board) yang harus dilewati bila ingin melakukan registrasi, dan persaingan dengan berbagai lulusan dokter internasional lainnya.

Tapi bukan suamiku namanya kalau menyerah begitu saja. Dia meluangkan waktunya mempelajari website General Medical Council UK, mencari cara bagaimana melakukan registrasi. Bahkan aku yang dokter saja berpendapat website itu tidak 'user-friendly' untuk mudah dimengerti. Setelah dia mengerti aturannya, dia membuatkan account untukku supaya bisa melakukan registrasi dan mengikuti ujian PLAB.

Aku kembali beralasan bahwa sulit untukku belajar kembali jadi dokter umum, banyak sekali materi yang harus kukuasai. Selama ini aku sudah telanjur belajar sangat spesifik sebagai residen obgin. Aku tidak kenal seorang pun dokter lulusan Indonesia yang pernah mencoba ujian atau lulus PLAB. Bagaimana aku tahu seperti apa ujiannya dan bahan apa saja yang harus kupelajari. (Padahal alasanku sebenarnya adalah aku sama sekali tidak 'pe de' untuk mencoba ujian itu dan tidak berani bermimpi untuk bisa bekerja sebagai dokter di Inggris).

Alasan itu tidak diterimanya. Dia kemudian mendata kolega di kantornya yang memiliki pasangan atau teman dokter untuk dimintai informasi. Tidak cukup itu saja, suamiku bergabung dengan forum-forum online dokter lulusan internasional yang mencoba ujian PLAB. Membaca berbagai review tentang buku-buku yang disarankan sebagai materi belajar ujian PLAB. Sebagai hasilnya, berbagai buku, salah satunya setebal lebih dari 12 cm datang diantar oleh tukang pos setelah suamiku memesannya secara online.

Ujian PLAB terdiri dari 2 tahap, yaitu ujian tulis dan ujian praktek (OSCE = objective structured clinical examination). Untuk bisa melakukan registrasi dan ijin berpraktek di Inggris, semua dokter lulusan internasional harus melewati kedua ujian tersebut. Karena berbagai alasan yang kusampaikan tentang betapa sulitnya untukku untuk mempelajari semua materi pengetahuan dokter umum untuk ujian PLAB 1, akhirnya suamiku mencari info tentang kursus persiapan PLAB 1. Dia meyakinkanku untuk mengikuti sebuah kursus singkat di Manchester, 4-5 jam perjalanan darat dari rumah kami. Meski sangat membenci perjalanan jauh dengan mobil, dia rela mengantarku pergi ke Manchester demi kursus itu. Belum puas dengan itu, dia masih memintaku mengikuti kursus online dari sebuah website yang direkomendasikan temannya.

Aku yang waktu itu sedang hamil anak kedua kami, belajar dengan setengah hati. Bayangan ingin bersantai saat hamil dan cuti sekolah rasanya dirusak oleh semangat suamiku agar aku lulus PLAB. Setiap pulang kantor, saat menelpon dari kantor, selalu pertanyaan yang sama dilontarkannya, "udah belajar PLAB sampe mana..?". Sebelum berangkat kantor atau sebelum dia tidur di malam hari, pesannya adalah "jangan lupa belajar PLAB yaa...". Sering aku kesal mendengarnya dan menjawab dengan ketus, "Mas, Pitha bukan anak kecil...ga usah disuruh-suruh belajar...!! Ibu aja nyuruh belajar cuma pas Pitha SD. Abis itu ga pernah ada orang yang nyuruh Pitha belajar..!!". Biasanya dia cuma tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksiku dan berkata, "baiklaaahhhh...boleh libur belajar sekarang...besok lanjut lagii...". Kadang aku sangat kesal sampai menangis merasa diperlakukan seperti anak kecil, disuruh-suruh belajar. Tapi sekarang kurenungi, kalau bukan karena 'kebawelan' suamiku menyuruhku belajar, mungkin aku tak akan pernah belajar dan lulus PLAB 1.

Butuh waktu 3 tahun untukku setelah lulus PLAB 1 untuk berkesempatan lagi mengikuti PLAB 2. Karena aku harus melanjutkan pendidikan spesialisku di Jakarta, aku terpaksa menunda ujian PLAB 2 ku sampai saat terakhir. Ada batasan waktu maksimal 3 tahun setelah lulus PLAB 1, untuk lulus PLAB 2. Bila dalam 3 tahun aku tidak berhasil lulus PLAB 2, aku harus memulai segala sesuatunya dari awal lagi. Itu artinya, aku harus lulus ujian PLAB 2 saat itu. Tidak ada kesempatan waktu lagi untukku bila gagal di ujian ini.

Kurasa suamiku lebih tegang daripada aku dalam menghadapi ujian ini. Berbagai buku dan DVD panduan belajar ujian PLAB 2 sudah disediakannya saat aku tiba kembali di Inggris. Tidak cukup itu saja, suamiku kembali aktif mengikuti berbagai forum online para dokter yang berniat ikut ujian PLAB 2. Dari forum itu, suamiku mendapat informasi suatu tempat kursus persiapan PLAB 2 di daerah East London. Kursus itu berlangsung selama 14 hari non-stop, dari pukul 9 pagi sampai 7 malam. Harganya cukup mahal untuk kantong kami, tapi suamiku berhasil membujukku untuk mengikuti kursus itu.

Tempat kursus itu jaraknya cukup jauh dari tempat kami. Bila menggunakan transportasi publik, memakan waktu sekitar 2 sampai 2,5 jam sekali jalan. Berarti pulang pergi aku harus menghabiskan waktu 4-5 jam sehari. Akhirnya suamiku memutuskan untuk mengantar jemput diriku ke tempat kursus itu dengan mobil, karena perjalanan bisa disingkat sekitar 40-50 menit sekali jalan. Pertimbangannya adalah agar aku bisa memanfaatkan sisa waktu lainnya untuk belajar. Karena suamiku jg harus masuk kantor pk 8.30 pagi setiap hari, kami harus berangkat sebelum matahari terbit agar suamiku tidak terlambat masuk setiap harinya. 

Jadilah selama 2 minggu itu agenda suamiku adalah menyupir sejauh 120 mil (sekitar 200 km) setiap harinya untuk mengantar dan menjemputku kursus, bekerja, memasak, menjadi sparing belajarku sampai tengah malam, termasuk menjadi 'pasien' latihanku melakukan berbagai pemeriksaan klinis yang harus kukuasai, sekaligus 'editor' bahasa inggrisku yang 'betawish'. Dia terpaksa harus ikut belajar apa yang kupelajari agar bisa jadi sparing belajarku. Kurasa, berlatih beberapa lama lagi dia juga akan 'eligible' untuk ikut ujian PLAB 2. 

Perjalanan ribuan mil itu diakhiri dengan menyupir pulang pergi hampir 300 mil (sekitar 450 km)  ke Manchester untuk mengikuti ujian PLAB 2 itu. Suamiku tidak mau aku pergi sendiri dengan kereta, dia memilih mengambil cuti dan mengantarku sendiri ke tempat ujian itu. Kalau kemudian aku lulus PLAB 2, kurasa suamikulah yang paling berhak mendapatkan 'reward' nya karena dia bekerja 2x lebih keras dibanding usahaku untuk belajar.

Untuk urusan 'self confidence', suamiku juga adalah orang yang selalu membesarkan hatiku. Saat mengetahui bahwa di tahun terakhir pendidikan obstetri dan ginekologi terdapat rotasi 'elective posting', suamiku mengusulkan agar aku melakukan elective posting itu di salah satu rumah sakit di London. Awalnya aku tidak 'pe de', tidak untuk mengirimkan lamaran, menulis CV, atau mengontak para konsultan di Inggris. Terbayang olehku pertanyaan mereka saat membaca aplikasi atau CV ku, "a resident from Indonesia? Where about in the world Indonesia is?.." seperti pertanyaan kebanyakan orang Inggris yang pernah kutemui. Belum lagi bila harus bekerja bersama mereka. Tapi suamiku meyakinkanku dengan candaannya, "jangan khawatir, orang Indonesia ga kalah pinter kok sama mereka-mereka itu...mereka menang ngomong doang...!!!". Jadilah akhirnya berbekal nekat dan tips sedikit rasis dari suamiku aku bisa mendapatkan tempat elective posting di beberapa rumah sakit di London.

Kadang-kadang aku berpikir, kenapa suamiku lebih memilih bersikap "ngotot, menuntut, bawel" kepadaku daripada bersikap romantis dan memanjakanku. Rasanya ingin juga sekali-sekali diberi buket bunga, atau diajak candle light dinner dengan sedikit puisi romantis, seperti tontonan sinetron atau telenovela. Tapi kemudian pikiran itu segera kubuang jauh-jauh bila membayangkan puisi lebay berisi rayuan gombal keluar dari mulutnya. Aku bisa pingsan tertawa mendengarnya, apalagi bila suamiku yang membacakannya. It's just not him, and I hate 'lebay' man...

Nevertheless, kurasa, memang sifat suami seperti dialah yang kubutuhkan untuk memimpin keluarga. Aku butuh seseorang yang menetapkan target-target dalam setiap tahap kehidupannya, juga kehidupanku dan keluarga kami. Aku butuh orang "bawel" yang selalu mengingatkan segala sesuatunya untukku. Dan yang paling penting, aku selalu butuh sparing belajar di dunia ini untuk menjadi orang yang lebih baik.

Apr 8, 2017

Mimpi kita hari ini, kata Hasan Al-Banna, adalah kenyataan hari esok. Sebagaimana mimpi hari lalu adalah kenyataan hari ini. Tentu jika dan hanya jika, hari-hari antara kedua masa itu (kemarin dan hari ini) terisi dengan ikhtiar, doa, dan tawakkal untuk mengejar lesatan sang cita.

- Ust Salim A Fillah dalam Menggali ke Puncak Hati

Cinta yang Hakiki

Betapa bahagianya, dicintai oleh yang kita juga cinta.

Maka.. harusnya.. kebahagiaan hakiki itu adalah ketika kita bisa mencintai Allah dan Rasulnya.

Sebagaimana Allah sangat mencintai hamba-nya.

Sebagaimana rasul sangat mencintai ummatnya. Yang disebut2 di akhir hayat, yang begitu dipedulikan kelak di akhirat.

Cinta Allah dan Rasul. Cinta pada kitabnya. Rasanya masih seujung kuku.

Betapa cinta, kagum, suka sama lawan jenis, karena pesona keilmuan dan akhlaknya; harusnya tak pernah melebihi cinta pada rasul. Dan harusnya tetap berlandas pada cinta Allah.

Mungkin itu yang disebut puncak keimanan.

Ketika Allah dan Rasul-Nya lebih kita cintai, daripada apapun



4.15, 06042016
Omwt solo w Jaka Tingkir

Feb 8, 2017

Kembali Pada Titik Semula Tanpa Rasa

Ada yang diam-diam mengagumimu,
Menjagamu lewat doanya,
Menaruh rasa padamu,
Berharap bersama nantinya.

Namun ia merenungi,
Sepertinya ada yang salah di hati,
Dia bertanya dalam diri,
“Dimana ilmu menjaga hati yang dulu di pelajari?”
“Dimana ilmu menjaga hati yang dulu di pelajari?”
“Dimana ilmu itu?”
“Kenapa mudah menaruh hati, padahal sudah tau itu adalah rasa tak pasti?”.

Kembali ia merenung,
Berusaha menolak rindu,
Mengubah rasa yang sempat ada,
Menjadi tawar sebab bukanlah haknya.

Sebenarnya,
Ia kadang merasa malu,
Sebab sempat pula berkeinginan jauh,
Berandai-andai,
Andai dia menjadi milikku,
Andai aku bersamanya saat ini,
Andai kelak aku bersama dengannya,
Andai. Andai..
Dan berakhir lalai..

Dengan rasa malunya,
Ia tunduk dalam doa.
Bukan meminta didekatkan pada yang di cinta.
Ia meminta agar hati yang sempat lalai,
Kembali terjaga.

Tertatih ia merindukan,
Tertatih pula mengiba pada-Nya untuk dikuatkan.
Ia berjuang,
Detik berubah menjadi menit,
Menit menjadi jam,
Jam menjadi hari,
Hari menjadi minggu.
Bulan. Dan tahun.

Hingga pada akhirnya,
Perasaan yang terjadi,
Sebab tak tunduknya pandangan mata,
Itu benar-benar kembali,
Pada titik semula.
Tanpa rasa.


***
Di atas itu bukan tulisan saya, awalnya dapat dari OA Line, tapi ndak ditulis penulisnya juga. Begitu browsing, ada beberapa versi.. Jadi galau mau nulis versi yang mana.

Ala kulli hal, tulisannya cukup menggelitik. Dan yang menjadi perenungan adalah di kalimat keempat terakhir:
"Sebab tak tunduknya pandangan mata"

Zaman serba online begini, menundukkan pandangan mata ternyata bisa berarti banyak. Menundukkan mata tak hanya bisa ditafsirkan karena tak bisa menjaga mata di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

Ada yang jatuh hati, karena melihat chatnya yang adem. Ada yang kagum karena tulisannya yang sarat manfaat dan menyenangkan mata yang membaca. Ada juga yang menaruh rasa karena melihat fisiknya, wajahnya, yang bebas terumbar di media sosialnya, atau bahkan sekedar di gambar profil medsosnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,
يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ
“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)” [HR Abu Daud]

Maka, berhenti untuk tidak melanjutkan stalking, berhenti untuk tidak melihat lebih jauh; mungkin jadi PR bersama di hari-hari ini. Sebab menjaga pandangan di dunia nyata, semua mungkin bisa. Refleks menunduk, refleks menghindar. Refleks saling mengingatkan. Tapi menjaga pandangan di depan gadget kita, dimana ini merupakan amal pribadi, dimana hanya Allah dan malaikatNya yang mengetahui, akan membutuhkan energi lebih besar, ya, energi untuk melawan hawa nafsu.

Allahummaghfirlanaa, semoga Allah mengampuni kita dan senantiasa memberi hidayah pada kita.

Feb 5, 2017

Tembok


Alhamdulillah, sudah 9 tahun ternyata. Pertama kali mencoba menghias kamar, menggunakan kertas yang ditempel di tempat yang mudah ditangkap mata. Sempat nempel di bagian atas dinding juga dengan harapan, setiap mau tidur bisa melihat nasehat atau kalimat penyemangat itu.

Ketika masuk asrama, wilayah penempelan kertas jadi makin sempit. Hanya di depan lemari, meja belajar, dan area sekitar kasur.

Tapi sejak masuk kuliah, kertas itu perlahan berganti jadi plastik bening ini. Lebih praktis. Lebih mudah diperbarui. Ya, layaknya iman yang naik dan turun, semangat beramal juga begitu, harus selalu diupgrade.

Semoga sisi tembok kecil satu ini bisa jadi pengingat para pengunjung kamar. Dan semoga ada setitik kemanfaatan. Sedikit menambah pundi kebaikan pemiliknya yang tak seberapa. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah untuk menjaga keikhlasan. Aamiin.

Btw tiba-tiba jadi kepikiran, nanti kalau sudah punya anak, asik juga kali ya kalau seluruh tembok rumah dilapisi plastik bening begini. Biar temboknya bisa tetep mulus ketika si anak asyik berkreasi dengan coretan semangatnya. Hehehe noted. And please don't misunderstanding, this ia not a code -_- kadang orang suka salah paham gitu kalau udah mulai ngomongin rumahtangga atau anak. Dikiranya udah proses atau lg baper nikah. Padahal mah, nyantai aja euy. Yg namanya nyiapin, mulai mikirin, kan bukan cuma hak mereka mereka yang udah pasti tanggal akadnya aja kan?

Aug 7, 2016

5 tahun lagi

“Siapakah dirimu 10 tahun ke depan?” Hening.

Pertanyaan berlanjut.

“Siapakah dirimu lima tahun ke depan?” masih hening. Kali ini pembicara menoleh ke kumpulan pemuda berjas biru telur asin.

”wah kalau pertanyaan ini paling engga mas mbak panitianya harus ada yang bisa jawab”

Ini kesempatan emas, disaksikan puluhan mata dan ada kemungkinan diaamiinkan malaikat :’) maka sebelum hening berlanjut; akhirnya terangkat juga tangan, dan keluar sebuah suara malu2 : In syaa Allah 5 tahun ke depan jadi mahasiswa S3 di Tokyo University.

Alhamdulillah, malam ini diingatkan kembali tentang pentingnya memiliki mimpi yang detail. Agar jelas ‘kendaraan’ yang harus dipakai, agar terhindar dari ketidakfokusan dan kesia-siaan waktu.

Lebih jauh lagi, pertanyaan pembicara ternyata mengingatkan pada pertanyaan yang dilontarkan saat seleksi wawancara baktinusa: di umur 40 tahun nanti, kamu membayangkan sosokmu seperti apa?



Tulisan terinspirasi dari acara Seminar Motivasi Karangtaruna Desa Pringanom (tempat kkn), kebetulan pembicaranya adalah penerima baktinusa, jadi langsung keinget sama pertanyaan baktinusa deh :') | dan waktu pertanyaan itu dilontarkan, i couldn't describe the answer clearly. Belum begitu jelas ketika itu, di 40 tahun kelak akan seperti apa sosokku :'' | tapi sekarang, bismillah.. in syaa Allah semangat lagi membangun tangga mimpi.


Btw lagi, sebenarnya waktu kemarin bilang Tokyo Univ itu, ngasal banget. Bahkan ngga tau itu kaya gimana dan ada apa engga jurusannya. Selama ini cuma ngertinya, NagoyaU, OsakaU, TohokuU aja. Terakhir di proposal hidup baktinusa nulisnya Tottori University. Dan malam itu, mendadak semua univ terlupa. Yang keinget cuma jepang dan jepang. Dan karena ga ada Japan U, akhirnya nembak aja Tokyo University. hehehe peace.

Ohiya, foto ini juga bukan aku yang ngambil kok. Ini foto nemu di fb :D | dan entah yangn di foto sungai apa dan gedung apa :') | makasih ya anon fb :))


Jul 7, 2016

Menjadi Mata Air

Menjadi mata air.
Pesan ayah dari Bacharudin Jusuf Habibie yang tertanam kuat dalam benak Habibie kecil.

Habibie tidak lahir dari keluarga biasa.
Habibie lahir dari ayah yang sangat cerdas. Ayah yang mengajarinya banyak hal. Ayah yang membuatnya bermimpi untuk membuat pesawat. Ayah yang menanamkan padanya untuk bisa jadi mata air, jadi orang yang bermanfaat. Ayah yang taat agama, dan ketaatan itu tercermin dari cara meninggalnya dalam sholat, yang insya Allah husnul khotimah.

Habibie dibesarkan dari ibu yang sangat kuat. Ibu yang jadi garda terdepan memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.

Menonton film rudy Habibie semalam, membuat khayalku melayang jauh. Ke jerman sana. ke dokter. Mengingatkanku pada teman satu SMA yang sangat cerdas. Sinisnya sama. pintarnya luar biasa. Gerak-geriknya. Berkarya dalam diam. Tak pernah ribut dan banyak mengobrol. Tahu-tahu namanya sudah mewangi. Mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Karena film hanya menceritakan indahnya. Bagian sedihnya tentu tak lebih banyak dari indahnya.

Sosok Habibie yang sekarang ini, siapa yang tahu apa saja yang telah terjadi di masa mudanya dulu? Siapa yang mengerti air mata, peluh, dan semua usaha yang sudah dilakukan?

Saya hanya butuh tidur 4 jam. Makin cepat dapat tempat, makin cepat saya belajar.
Kecintaannya pada ilmu. Keseriusannya dalam belajar. Rasanya membuatku tertampat-tampar. Apalagi mengingat tahun-tahun kuliah kedokteranku yang belajar sangat ala kadarnya..

Menjadi mata air.
Mata air hanya lahir di tanah yang bergolak.
Mata air yang jernih akan mengendapkan keburukan di sekitar.

Orang baik akan dikelilingi orang baik.
Jadi orang bermanfaat. Jadi orang bermanfaat.

Pemimpin itu, banyak curhat ke “langit”.
Banyak doa. Banyak doa.





Kalau kamu ga taat, percuma aja semua ini asma :''

Apr 25, 2016

PASANGAN

Ada begitu banyak kata untuk satu maksud yang sama.
Dokter dengan anamnesisnya.
Polisi dengan interogasinya.
Anamnesis dan interogasi punya makna yang sama. Sama-sama ingin menggali. Sama-sama dibutuhkan untuk perkembangan kasus kedepannya.
Hanya saja, tiap kata sudah ada yang memilikinya. Sudah berpasangan.
Kita tak bisa memasangkan anamnesis dengan polisi, begitu juga interogasi dengan dokter. Seberapa sama dan dekat maknanya, kalau memang bukan pasangannya, mau diapakan?

Begitu juga dirimu dan dirinya. Seberapa dekatpun, seberapa mengenalpun, kalau memang bukan dirinya yang Ia pasangkan untukmu, bagaimana?

Kalau kata Ustadz Salim A. Fillah di salah satu ceramahnya..
Jangan kau kira cinta akan lahir dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Tidak.
Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa.
Dan selama kecocokan jiwa itu tiada, cinta takkan pernah lahir dalam hitungan tahun bahkan milenia.
Sebab apa?
Al arwahu junudu mujannadah
Ruh-ruh itu seperti pasukan yang ada dalam kesatuan-kesatuan
Kalau mereka saling mengenal, maka mereka mudah untuk sepakat.
Kalau mereka tidak saling mengenal, maka mereka gampang untuk berselisih.
Pasukan itu mengenal satu sama lain pakai apa? pakai sandi. Pakai kode.
Kalaupun tidak bertemu, hatta terhalang bukit. Tapi kalo kodenya nyambung, maka mereka akan sepakat. Yang sama adalah, rumus jodoh itu kalau kemudian sama-sama hati mereka tunduk pada Allah, mengenal Allah subhanahu wa Ta’ala. Mengabdikan diri untuk Allah.
Agama itu cara memandang hidup. Cara memandang mati. Cara memandang hidup sesudah mati. Cara memandang pencipta hidup dan mati. Cara memandang pasangan, lingkungan, dan kesemua makhluk Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kesamaan dalam itu, kesejiwaan adalah jaminan kebaikan bagi pernikahan.



-          Sebakdanya kuliah Visum et Repertum dr. Nonod, 1:34 pm, 25 April 2016