Showing posts with label amanah. Show all posts
Showing posts with label amanah. Show all posts

Mar 15, 2017

Syifa'

Serigala lebih suka memangsa yang sendiri.


Alhamdulillah, berdekat dengan teman-teman shalihah setidaknya membuat pikiran negatif agak menjauh.

Pagi tadi ketika setor 5 halaman awal juz 3, ada rasa haru yang muncul. Membuatku rasanya berat sekali menyelesaikan halaman demi halaman. Berat karena dadaku tiba-tiba terasa sesak dan aku ingin sekali menangis. Mungkin ini yang namanya hidayah. Yang turun dengan perantara seseorang yang insya Allah shalihah. Padahal beliaunya tak berkata apa-apa. hanya mendengarkanku menyetorkan hafalan yang tak seberapa. Maha benar Allah, yang telah menjadikan Al-Qur’an sebagai syifa’.

 ***

Dan setelah dipikir-pikir, ujian, kompre, osce atau apalah itu namanya sesungguhnya adalah  sarana tarbiyah juga. Sarana buat naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Terserah hasilnya mau bagaimana, tapi yang pasti di proses ujian itu, pasti akan ada hikmah, pelajaran yang bisa kita ambil.

Dan, itulah yang kini membuatku sedikit lebih kuat dari kemarin.

Walau hingga kini, tiap belajar rasanya ingin menangis ketakutan.. tapi aku yakin, Allah adalah Robb Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Rabb Maha Besar yang sangat mungkin memudahkan kita bahkan di masalah terbesar pun.


Bismillaah..

Jan 21, 2017

Di Waktu yang Allah Tetapkan..

Oleh: Asma Azizah


Surakarta, 20 Januari 2017


Kita akan ujian di waktu terbaik yang Allah tetapkan untuk kita.
Kata-kata yang tidak solutif, tapi setidaknya, mengucapkan kalimat itu berulang-ulang bisa menenangkan resah diri.

Ya, aku berada di injury time dimana aku harus segera melaksanakan seminar hasil skripsi.
Beberapa waktu lalu, teman-teman sudah mulai memberi tahu tanggal ujian skripsi. Sementara aku ketar ketir di kamar menyelesaikan pembahasanku.
Rasanya aku seperti berlari kencang sekali untuk mengejar segala ketertinggalan.

Pernah tiba masanya, aku mual sekali.
Rasanya penelitianku seperti benang kusut entah dimana ujungnya.
Rasanya tungkaiku tak cukup kuat, tubuhku tak cukup tegar untuk berlari mengejar semua.
Rasanya semua terlalu jauh untuk dikejar.

Aku pernah merasa sangat putus asa,
Aku pernah merasa sangat benci melihat target-target ujian skripsi yang kubuat.
Hingga saking bencinya, kuhapus bersih-bersih semua target itu.
Pasrah.

Dan lagi-lagi mengulang kalimat,
Allah akan memberiku waktu ujian yang terbaik untukku.

Aku menghela napas panjang, untuk coba berlari lagi.

Pembahasan akhirnya kukejar dari pagi – siang. Kemudian segera kukirim ke dosen.
Tidak berapa lama, dosbing utama minta untuk segera menghadap dengan membawa berkas persyaratan ujian lengkap untuk ditanda tangan.

Tiba-tiba aku sudah dapat tanggal
Sudah dapat tanda tangan

Dan satu hari setelahnya,
Alhamdulillah semua berkas lengkap

Hanya saja, tiba-tiba pula tanggal ujianku harus berganti
Detik ini pun, tanggal itu belum kunjung fix.

Ada sejuta khawatir.
Dari mulai tanggal, naskah skripsi, publikasi, dan bayangan akan suasana ujian nantinya.

Ada takut. cemas. Dan kecewa dengan diriku sendiri.

Namun lagi-lagi aku harus menenangkan hati, dan kali ini ikut menenangkan rekan-rekan juga.
Mereka yang tiba-tiba harus berganti tanggal, yang tiba-tiba ada kendala di naskah, dan lainnyaa

Kuyakinkan mereka:
Allah akan memberi kita tanggal ujian di waktu terbaik yang Ia tetapkan.

Pena telah diangkat, tinta telah kering.
Semua tinggal bagaimana kita menjemput karuniaNya dengan semaksimal mungkin.
Semua tinggal soal menjemput bahagia dengan memaksimalkan ketaatan.


Wallahu a’lam bish showab

Kita Tak Pernah Sendiri

Oleh: Asma Azizah


Surakarta, 10 Januari 2017

Hari ini aku bangun dengan  banyak kekhawatiran. Khawatir dengan kenyataan bahwa aku harus melakukan seminar hasil skripsi sebelum tanggal 31 Januari 2017. Bila meleset, tak main-main, ancamannya bayar uang kuliah lagi yang tidak sedikit.

Apalagi mengingat penelitianku yang tiba-tiba jadi seperti benang kusut. Menjadikan mimpiku berpekan-pekan tentang isi penelitian.

Buntu rasanya.

Ditambah dengan hari ini, kawan-kawan baikku mengadakan seminar hasil. Makin khawatir.

Tapi masya Allah.. Allah menghiburku yang sedang penuh kekhawatiran ini dengan banyak cara yang tak pernah kusangka.

Pertama, selepas "menonton" seminar hasil kawan baikku, pembimbing memanggilku dan menanyakan progress. Menjembatani aku untuk bertanya dengan dokter pakar bidang skripsiku.

Alhamdulillah, pencerahan. Walau sebakdanya, aku dirudung rasa sedih, lemas, dan kecewa pada diriku sendiri. Semua teman sudah siap belajar kompre, sementara aku masih disini, tertinggal disini.

Tiba-tiba kawan baikku yang lain mengingatkanku: bersyukur asma, punya dosen pembimbing yang luar biasa care. Yang mau terjun bantu langsung penelitianmu.

Aku tersentak. Ya, bersyukur. Setidaknya, disyukuri dulu nikmat Allah yang ini. Syukurku hadir, walau ada berat disana.

Siang itu, tiba-tiba ada beberapa kawan kelompokku yang mengirim pesan line: semangat asma. Allah akan memudahkan semuanya insya Allah.
Atau, semangat asma, ngga boleh down lama2

Aku tersenyum haru. Padahal jarang sekali kirim pesan line dengan mereka.

Hari beranjak sore, aku mulai berkutat lagi dengan penelitianku. Stagnan lagi, lemas lagi. Tiba-tiba, kawan baikku yang lain datang ke kosku. Dengan senyum ceria memberikan sebungkus biskuit coklat: semangat asma.. katanya.

Malam ini, aku menginap di kos teman baikku. Dan aku terkejut, melihat namaku terpampang jelas di prakata sebagai ucapan terima kasih 😭😭😭.

Padahal selama ini, aku yang sering merepotkannya, aku yang sering bertanya ini dan itu. Aku yang penuh khilaf :".

Tapi, lagi-lagi, Allah memang yang paling tahu bagaimana menghibur hambaNya.

Lewat semangat dari teman2, lewat lembar prakata skripsi ini.

Ya, sejatinya kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada keluarga, teman-teman. Atau paling tidak, kalau tidak dibersamai secara fisik, percayalah akan selalu ada doa2 mereka yang menemani. Dan percayalah, kita tak pernah benar-benar sendiri, ada Allah, ada malaikat2Nya yang lebih dekat dari vena jugularis kita.

Fa bi ayyi aalaa i Robbikumaa tukadzdzibaan?

Ya Allah jadikan kami hamba yang senantiasa bersyukur..                        

Dec 21, 2016

Memakna

7 semester ini, walaupun bersinggungan dengan banyak dokter. Tapi perasaan bahwa aku harus menjadi dokter jujur, baru hadir pagi tadi.

Sejak malam aku belajar osce bersama eva dan santi. Meski malamku tetap saja tak lepas dari lelap, pagi tadi Alhamdulillah kuterbangun dan bergegas berlatih beberapa skill. Salah satunya adalah skill hecting alias menjahit. Di tengah latihanku, eva menonton video tentang Aleppo. Video yang mengundang nuraniku untuk berhenti sejenak dan ikut membersamainya melihat tayangan itu, yang ternyata begitu menyayat hati.

Darah. Luka. Air mata. Nyawa. Wajah-wajah marah. muka polos yang penuh harap.
Aku terguncang melihatnya.

Kemudian kulihat diriku sendiri.
Betapa aku telah banyak kufur atas segala nikmat yang Allah berikan. Betapa aku begitu lemah. Betapa daya juang jihad di dalam diri ini masih seujung kuku bila dibanding mereka.

Aku ditinggal.
Aku ditinggal masuk syurgaNya Allah.
Dan aku tak mau ditinggal lagi.


Hari ini, kulihat anak menangisi ibunya. Ayah menangisi anaknya.
Tapi beberapa tahun lagi, mungkin hal itu yang terjadi pada kami disini di Bumi Indonesia.

Tidak ada jalan lain selain berusaha membantu. Mengorbankan segala gala.
Dan belajar jadi dokter yang kompeten adalah salah satu jalan jihad itu.

Jadi dokter. Jadi dokter yang bermanfaat. Mengobati luka-luka ummat.

Agar kelak, ketika mereka bertanya siapa yang harus diberangkatkan ke medan jihad; aku bisa lantang berteriak dan mengajukan diri.

Menyongsong jihad. Menyongsong syurga tanpa hisab. Kemuliaan apalagi kah yang dapat menandinginya? Tak ada.

Buka mata. Buka hati. Jangan kalah dengan egomu. Selesaikan semua ini. Belajarlah. Bukan untuk ummi. Bukan karena menuruti semua orang. Tapi karena ummat membutuhkan kita.

Bangunlah.

Bangun.

Bersyukurlah.


20 desember 2016 10.48

Apr 25, 2016

Laa yukallifullaah

Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa (2: 286)
Allah tidak akan membebani makhluk di luar kesanggupannya.

Ayat ini begitu sering diulang-ulang, tapi akhirnya baru benar-benar teresapi sore itu.
Kala itu aku terlanjur membuat janji dengan akhwat adminkeu untuk ngobrol cantik, jam 16.00. Di jam yang sama, berlangsung rapat 3 sie MTQ di perpus NH. Sedari awal aku sudah berniat untuk tetap fokus pada janji yang kubuat dengan akhwat adminkeu. Qodarullah, sore itu ternyata Allah ingin aku hadir dulu di rapat 3 sie. Hanya ada 2 akhwat dari 5 yang seharusnya hadir. Akhirnya kutemani juga sebentar.

Jam 16.45, aku pamit, izin naik ke lantai 2. Menemui akhwat-akhwat adminkeu. Kemudian terjadi obrolan, hm lebih tepatnya curhatan seru. Dan akhirnya keluar juga potongan ayat di atas: Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Allah Yang Maha Mengetahui, tidak akan membebani kita di luar batas kemampuan kita. Bila ada beragam hal yang diamanahi pada kita, kita harus yakin, amanah ini datangnya dari Allah. Dan Allah memberi amanah ini, in syaa Allah sudah sepaket dengan kekuatan dariNya. Karena apa, karena Allah tidak akan membebani di luar kemampuan kita, maka pasti Allah sudah siapkan skenario untuk memampukan kita memikul amanah. Jadi.. semangat, karena amanah diberikan sepaket dengan kekuatan, karenanya, kita tak boleh bosan untuk terus memohon, berharap, menangis di hadapanNya; untuk banyak mohon ampun, untuk banyak minta petunjuk, untuk minta dikuatkan memegang amanah ini..


Allah Yang Maha Baik ternyata menjadikan ngobrol cantik sore itu selesai dengan waktu singkat dan konten cukup padat. Sehingga masih ada beberapa menit untukku turun lagi ke perpustakaan NH. Ada sebersit lelah, ingin pergi dan meninggalkan; tapi nyatanya Ia kuatkan dan mudahkan langkah kakiku. Ia lapangkan hatiku untuk menemani syuro sore itu. Alhamdulillaah binikmatih.. Segala Puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabb semesta alam..

Mar 16, 2016

Pakai hati


Biar saja hati rasanya teriris iris.
Biar saja amarah itu menghilang dengan sendirinya.
Aku memilih untuk berbaik-baik terus.
Meminta maaf sebagaimana orang yang paling bersalah..
Memohon kemaafan mereka satu persatu.
Menarik nafas dalam-dalam.
Dan..
Bismillaah..
Semua ini memang harus dihadapi pakai hati, pakai perasaan.
Ya, mendekati satu per satu, berkomunikasi, benar2 harus berlembut ria.

Ya Allah.. aku ingin belajar
Izinkan aku untuk terus memetik hikmah dari semua ini, dan jadi pembelajar hingga akhir hayatku

Pasca riweh khataman quran dan sesuatu lainnya
12 maret 2016

9:37 AM

Feb 19, 2016

PERPISAHAN

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah, dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka
Kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridhoNya
Sahabat, tibalah masanya..
Bersua.. pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan robithoh pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga
(Senandung Ukhuwah – SYGMA)

Nasyid ini pertama kali diperkenalkan maulida. Teman sebelah kamar sekaligus teman duduk di rihlah terakhir kami sebagai santri arroyyan. Berdekat dengannya, membuatku ingat tentang amanah yg pernah kami emban bersama, di arroyyan, di biro fk. Dan kini, hampir tuntas kedua amanah itu. Kita harus berpisah untuk menunaikan amanah lainnya.

Amanah, ukhuwah, perpisahan.

Ya, akan tiba saatnya kita berpisah. Bukan berpisah lembaga lagi, tapi mungkin berpisah domisili.
Namun, ada 1 perpisahan penting yang harus kita siapkan dari sekarang.
Perpisahan yang pasti akan datang, perpisahan ruh dan jasad kita.
Perpisahan yang hidup dengan yang mati.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. (Ali Imran : 185)

Tentang perpisahan yang pasti kita temui itu, sudah sejauh manakah persiapan kita?
Apakah persiapannya sudah seserius saat kita akan mengadakan satu acara besar? Apakah evaluasi kehidupan kita sudah sedetail evaluasi rapat besar?
Padahal hidup kita memiliki deadline berakhir yang pasti. Walau kepastian waktunya hanya diketahui Yang Maha Mengetahui.

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya).

Mari berlomba untuk jadi yang paling cerdas.
Bukan hanya ia yang siap menghadapi ujian karena planning belajar yg sangat matang.

Tapi juga ia yang ketika sampai waktunya berakhir, ia berani mengatakan dengan sepenuh iman: aku siap kembali padaMu Rabb..

Aug 1, 2015

Jangan ada baper di antara kita

Pekan ini lagi dapat tugas langit untuk syiar MTQ Nasional di twitter dan facebookland.  Sebuah tugas mudah bila dilakukan oleh orang yang mengikuti acara MTQ, atau paling tidak, membersamai teman-teman delegasi UNS di MTQ Nasional. Sayangnya, saya tidak masuk salam 2 kategori di atas.
Saya tidak ikut MTQ sebagai delegasi UNS, saya juga tidak membersamai teman-teman delegasi. Saya hanya seorang anggota UKM Ilmu Qur’an yang sangat biasa, yang ingin syiar MTQ ini tersebar ke seantero dunia maya.

Akhirnya, minta tolonglah saya pada beberapa orang pendamping atau bahasa kerennya official yang membersamai teman-teman delegasi UNS. Minta tolong mereka untuk bisa update segala hal terkait MTQ melalui facebook dan twitter. Tapi nyatanya tak semudah itu minta tolong pada mereka. Sebab mereka juga membantu mengurus berbagai keperluan delegasi.

“anti ane masukkan ke grup WA kafilah MTQ UNS aja ya,” titah sang ketum akhirnya.

Jeg. Dalam hati menolak. Tapi akhirnya yang tertulis di layar tab cuma 1 kata pasrah: iya.

Berita demi berita akhirnya saya terima melalui grup whatsapp tersebut, untuk kemudian diolah lagi dan diteruskan ke fanpage dan twitter.

Awalnya baper, bawa perasaan. Ada iri terbit di hati. Rasanya ingin sekali jadi delegasi juga mewakili UNS. atau paling tidak menemani teman-teman. Rasanya ingin ada disana. Dan menerima berita-berita di grup itu, seolah membangkitkan kembali kenanganku tentang macam-macam lomba yang rajin kuikuti jaman SMA dulu. Sungguh sensitif sekali kala itu. Dasar perempuan~

Tapi, kita harus profesional. Mungkin kita tak ingin ditempatkan disana. Tapi ini amanah, dan ini adalah keharusan yang ngga boleh ditolak karna gagal mengelola perasaan.


Jadi, jangan sampai ada baper di antara kita ya. iya kita, aku dan kamu. Kamu, amanah itu. Sebab bila terus terus baper, amanahnya stagnant, harus dengan apa aku bertanggung jawab kelak?