Sep 28, 2011

guilty

harusnya ana bisa ingat perasaan bersalah ana udah ngecewain ortu ana.

mestinya ana ingat perasaan bersalah karna tak bisa contohkan yang terbaik untuk ketiga adek ana.

harusnya ana ingat rasa bersalah saat ana melanggar pelaturan di awal kelas 2 dulu.

mestinya perasaan bersalah karena bicara bahasa itu terus ada

seperti perasaan bersalah karena ga hapal mars CM. seperti ini:

BADAI

tadi reshuffle terakhir dibacain loh. ana udah pasrah aja di sekbid masjid.

haha.

pendapat yang tak bisa dikeluarkan. otak yang bingung memaksa hati untuk menjaga perasaan orang. harus gimana lagi ana ngejaga perasaan orang?

harus gimana lagi ana ngalah. ikhlas?
harus gimana lagi ana diem ngedenger ente ngejelek-jelekin suatu hal. dan itu dalam kondisi ana ga bisa buka mulut karena ana tau ente lagi emosi sehingga percuma ana buka mulut.
harus gimana ana ngerti ente?
harus gimana ana paham sama sifat ente?

ana bertanya dan ana udah bisa jawab kok.
ana cuma lagi emosian aja haha.

butek. badai nih kepala serius.

dan taukah, ana lagi mikir buat berubah.
ohyeah berubah jadi ana yang lebih baik.

berubah. jadi penulis. jadi anak pintar berprestasi.
BODO. ana mau ikut lomba.
ana ga peduli orang mau ngomong apa.
ana gamau lagi peduli.

ana harus berubah. kurangin tidur. serius.

serius ana bingung. badai.
berubah. masalah.

hah ini baru badai hari ini..

Sep 24, 2011

muntahkan saja!

penuh rasanya kepala ini. pusing memikirkan semuanya. capek hati berkorban demi segalanya.

persiapan sdc yang melahirkan masalah yang gado-gado. koordinasi, pengorbanan! ah bahkan pertemanan saya jadi ikut dikorbankan.

pusing
bingung
frustasi

asistensi osis. pesimis. merasa tak pantas. ingin mengeluarkan semua tapi tak mengerti bagaimana. ingin lari dari amanah.

pemilihan osis mpk.
udy sony romi revi rahma, hanafi mr farhan bepe irma.
3 dari mereka temen sekelas saya waktu kelas 10. 3 dari mereka teman satu sekbid di sdc. 2 dari mereka teman sekelas saat ini. 2 dari mereka adalah sahabat saya, tempat saya berkeluh kesah.

ketika emosi harus dikesampingkan untuk melihat jernih siapa yang pantas memimpin. ketika ego harus dijinakkan.

dan terpilihlah mereka. dan kemudian ada perasaan aneh yang menjalar. perasaan iri yang menghasilkan aura panas dari kedua mata. perasaan iri. perasaan tak berdaya. tak mampu. perasaan dikalahkan.

aku hanya ingin bercerita tentang ego ini. tentang perfeksionis ini. aku ingin jadi ketua. pemimpin. kalau kau bisa kenapa aku tidak? kenapa aku terlalu gampang menyerah? bahkan untuk suatu hal yang tidak langsung kuinginkan. tanpa alasan yang jelas. hanya keinginan yang berlandaskan nafsu semata.

apa? kau payah ma. buat apa iri dengan mereka? buat apa minta didengar? belajar! katanya mau meraih UN tertinggi? katanya gamau remed? katamu gamau tidur di kelas? katamu kau harus kejar lomba nasional? mana? katamu kau pun bisa speech dan debate tapi mana?
YES I TRY. aku mencoba untuk melakukan semua itu tapi entah kenapa penyakit si miskin ini tak mau lari juga. belum kucoba untuk debate. belum kupraktek untuk speech.

nunggu apa? gapunya bakat? asal ente tau asma ente harus lebih maksa diri ente untuk jadi sukses. apapun caranya. bagaimanapun sakitnya.