Apr 21, 2018

ABCDE bukan XYZ

Oleh: dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesthi Sp.OG (Specialist Registrar in Obstetrics and Gynaecology at The Hillingdon Hospitals NHS Foundation Trust)

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung... Di mana udara dihirup, di situ hasil dan sisa metabolisme boleh dikeluarkan... Tapi di mana pun Sang Pencipta tempatkan manusia di bumiNya, maka cara hidup teladan sesuai contoh Sang Utusan tetaplah yang utama...

Mungkin demikianlah motto hidup pasien yang kutemui Senin pagi itu. Senin setelah whole week adventurous holiday adalah bukan hari ideal untuk memulai kerja di labour ward yang penuh dan selalu sibuk :P

"Now, that lady in room 6 has a bit sad story..." ujar kolega tim malamku saat hand over kepada timku. Perempuan itu berusia 39 tahun, sudah memiliki 3 orang anak dan kesemuanya dilahirkan dengan persalinan normal. Dia low risk, dan booked dengan home birth team, bahkan dua anak sebelumnya pun juga home birth. Tak ada yang istimewa dengan kehamilan dan persalinan sebelumnya, dan kehamilan yang ini pun juga berjalan lancar, sampai semalam, ketika ketubannya pecah di usia kehamilan 35 minggu lebih 6 hari.

"She came last night, after dropping her husband to airport. His mother passed away in Jordan, and he flew to Jordan to arrange all the funeral and everything there... Her water actually broke earlier last evening, but she didn't tell her husband and decided to drive him to the airport first before drove herself to hospital..." jelas kolegaku panjang lebar.

Sayangnya, saat pasien itu tiba di rumah sakit, bidan di Triage tak dapat menemukan denyut jantung si janin dengan mesin CTG. Akhirnya kolegaku ini melakukan pemeriksaan USG dan mengkonfirmasi bahwa jantung si janin sudah tak berdetak lagi, alias si janin telah meninggal. Tak jelas kapan kira-kira si janin meniggal, karena sang pasien tak begitu memperhatikan gerakan janinnya seharian kemarin. Dia terlalu sibuk membantu dan mensupport suaminya untuk terbang ke Jordan mengurus pemakaman ibunya.

"She was very keen to have the baby delivered as soon as possible as she needs to go back home to look after her other 3 children while her husband away, the youngest is only 2 year old... So we started to augment her from midninght with Syntocinon drip. She has been contracting regularly for the last 2 hours, and I just examined her, she is 3 cm dilated with thick meconeum stained liquor, no sign of infection though..." jelas kolegaku lagi.

"Dyah, she is a very strong and sweet lady... She is just in there by herself. She hasn't even told her husband that their baby is dead and she is in hospital delivering it...!! You should tell her that she needs to tell her husband now, or else he'll get mad later when he finds out...!!" midwife yang bertanggung jawab terhadap pasien itu membelalakkan matanya sambil menyerahkan notes pasien itu di depan pintu kamarnya sebelum aku masuk untuk ward round. Aku tersenyum mendengarnya dan kemudian mengalihkan perhatianku mempelajari antenatal care notes pasien itu.

"May we come in...?" tanyaku setelah mengetuk pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku menyibak tirai yang membatasi kamar dan pintu keluar, diikuti oleh timku yang terdiri dari obstetrics team dan seorang dokter anestesi. Setiap pagi, kami selalu melakukan ward round bersama untuk mereview semua pasien di labour ward.

"Salaamu'alaykum sister..." sapa si pasien yang terbaring di delivery bed sambil menggenggam handheld mouthpiece Entonox. "Wa'alaykumsalam..." jawabku sambil tersenyum berempati, thanks to my hijaab, everyone would know that I'm a muslim and would offer their salam to me :)

Setelah memperkenalkan diri, dan memperkenalkan the rest of the team, aku memeriksa semua dokumentasi midwife yang telah merawatnya sejak pagi tadi. Semua parameter tampak normal dan stabil, dan si pasien sudah berkontraksi kuat dan reguler. Setiap kontraksi datang, dia menghirup Entonox kuat-kuat sambil meringis, tak mengeluarkan suara atau keluhan apa pun.

"I'm so sorry for what happenned to your baby..." ujarku, offering my condolescence. "It's Allaah's will, Sister..." jawabnya sambil tersenyum sayu. Aku mengangguk menyetujui. "How are you coping with the labour ? Do you want stronger pain relief ? We could get you epidural if you want..." tanyaku sambil melirik kolega anestesiku. Untukku, harus cope dengan nyeri persalinan demi melahirkan bayi yang sudah meninggal is a bit too much...

"I'm fine, labour is meant to be painful anyway..." ujarnya terengah-engah di antara kontraksi dan hirupan Entonox. "Well, it does NOT have to be painful..." sambung kolega anestesiku. "That's okay, I'm fine...." ujarnya lagi meyakinkan kami.

"Have you told your husband that you're here...?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Setelah menunggu kontraksinya lewat, dia menjawab dengan gelengan lemah. "I don't think it's the right time... It's going to be too much for him to deal with 2 losses right now... He needs to concentrate with his mother's funeral now, I'll let him know later..." jelasnya.

"Dyah, there won't be any 'right time' to tell him...!! She is mad, she needs to call him and let him know !!!" bidan bule berambut pirang bermata biru berusia 25 tahun di hadapanku ini membelalakkan matanya saat kami sudah keluar dari ruangan pasien itu. "Well darling, we can't force her, it's her decision..." jawabku singkat.

"But this doesn't make any sense... She goes through all this pain and difficult time by herself...!! Unless there is problem with their relationship, all this just doesn't make any sense...!!" ujarnya sambil memeriksa semua brown notes pasien itu untuk mencari apakah ada catatan mengenai domestic violence atau social services involvement di keluarga mereka. Hasilnya tentu nihil, mereka keluarga baik-baik dan tak ada masalah antara kedua suami istri tersebut. Tentulah, kultur lokal tentu menganggap keputusan pasien itu tak masuk akal, mungkin juga kultur tempat lain.

Namun aku langsung teringat kisah seorang shahabiyah yang namanya harum dalam sejarah, yang dipuji oleh Rosulullaah, dan doa beliau untuknya juga dikabulkan oleh Allaah : Ummu Sulaim. Bagaimana beliau menghandle kematian anaknya, melayani suaminya terlebih dahulu untuk menyenangkan beliau, dan baru kemudian mengabarkan kematian anak mereka. Bagaimana ketika sang suami marah dan mengadukan Ummu Sulaim kepada Rasulullaah, beliau justru memuji dan mendoakan kebaikan untuknya. Pada wajahnya yang tenang, aku seperti melihat cerminan Ummu Sulaim.

Tak lebih dari 2 jam kemudian, midwife yang merawatnya memberi tahuku bahwa bayi pasien itu lahir, tampak ukurannya sangat kecil untuk usia 35 minggu. Placentanya juga tampak sangat kecil. "I'm sure it's an IUGR baby, Dyah... She was keen to have PM as well, I've given her the PM leaflet. Could please come and discuss it with her when you're ready..." ujarnya.

IUGR : intra uterine growth restriction, alias pertumbuhan janin terhambat ditemukan pada setidaknya 50 persen janin yang mati dalam rahim. Penyebabnya bisa beraneka ragam, namun kelainan plasenta biasanya adalah yang paling sering. Kami selalu menawarkan PM (post mortem examination) kepada semua pasien untuk mencoba mencari tahu apa penyebab kematian si janin, on top of routine tens of blood test, swabs, placental histology, karyotyping etc. Meskipun tak semua investigasi IUD (intra uterine death) memberikan hasil positif, namun bila diketahui ada penyebab tertentu maka strategi layanan antenatal care bisa direncanakan di kehamilan berikutnya untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.

Tak semua orang tua menerima PM, sebagian menolak karena alasan agama dan kepercayaan, sebagian menolak karena mereka merasa bahwa pemeriksaan ini menyakiti si bayi. Pada PM lengkap, maka otopsi lengkap dikerjakan. Ada pilihan bagi orang tua untuk menolak bagian-bagian tertentu diperiksa karena mereka tak ingin ada insisi dan jahitan pada bagian tertentu. Bila orang tua menolak PM, maka alternatif seperti karyotyping dan genetic testing dari sample kulit, atau MRI, atau X-ray. NHS meng cover semua pemeriksaan ini.

Ketika aku memasuki kamarnya untuk mendiskusikan tentang PM, pasien itu sedang memeluk jenazah bayi itu di dadanya. "Do you think it's the right time for me to talk about it ? Or shall I come back later when you're ready ?" tanyaku tak ingin mengganggu momen penting untuknya ini.

"No, that's okay, Doctor. I have to go home this afternoon anyway, my friend can't look after my three children for the whole day...." ujarnya. Aku menghela nafas, dia memang perempuan kuat, baru melahirkan, bayi meninggal, sendirian, dan sekarang sudah berpikir mengenai segera pulang dan mengurus ketiga anaknya yang lain.

Setelah panjang lebar kujelaskan tentang PM, pasien itu kemudian berkata, "I think it's a very difficult decision for me... Is it okay if I wait for my husband to come back first ?".
"Absolutely, there is no rush... Have you told him yet ?" tanyaku lagi. "No, I'll wait until he's back. He is flying back tomorrow morning. I don't want him to be worry all the time on the journey back..." ujarnya.

I was wondering what her husband would say to her when he finds out.... Anyway, as the Prophet has made dua for Ummu Sulaim, I made dua for her that her husband wouldn't be upset to her and that Allaah will replace their baby, just like He did for Ummu Sulaim...

Miss Re-LAP

Oleh: dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesthi Sp.OG (Specialist Registrar in Obstetrics and Gynaecology at The Hillingdon Hospitals NHS Foundation Trust)

Jangan pernah remehkan keluhan dan kondisi pasien...!!! Itu adalah motoku, apalagi sejak digelari pembawa pasien aneh bin ajaib oleh sejawat teman-teman seperjuangan pendidikan spesialis obstetri dan ginekologiku. Belajar dari pengalaman, aku selalu percaya bahwa ada yang mengatur seorang pasien untuk bisa sampai datang ke rumah sakit ini dan bertemu dengan tim kami, dan pasti ada alasannya. Kalau pasien hamil low risk straight forward, sudah "diselesaikan secara adat" oleh front liner lainnya. Jadilah ketika menghadapi pasien, dengan keluhan remeh sekalipun, aku tak akan puas kalau belum selesai membuat daftar diagnosis banding dari yang paling nggak penting sampai yang life threatening. Prinsipku, anything can go wrong...!! Yeah yeah I know what you think, I'm a real freak..!!

Stase di IGD kamar bersalin sebagai mandor (tahap 2B, tahun kedua program pendidikan kami) adalah peran jaga yang paling menantang menurutku. Sebagai mandor, mesti memastikan semua pasien tertangani, ada rencana manajemennya, tahu kapan pasien harus diases ulang, tahu dan bisa memprediksi pasien mana yang high risk, kapan persalinannya macet, dan memutuskan apa tindakan selanjutnya. Di rumah sakit rujukan tersier dengan jumlah pasien bejibun melebihi kapasitas seperti tempatku training, peran seperti ini menuntut stamina otak dan fisik prima 24 jam dalam sehari. Tentunya kami bekerja dalam tim, terdiri dari konsulen jaga, chief stase, dan beberapa orang juniornya. Sebulan stase di IGD dalam setiap semester adalah kawah candradimuka bagi kami, membuat kami sangat kompak sebagai satu tim. Terlebih lagi, chief ku kali ini adalah orang yang unik, dia memberi kesempatan luas padaku sebagai mandor untuk banyak berimprovisasi dan berlatih meningkatkan skill dan confidence :P

"Pit, pasien di akut tuh, gue kirim ke belakang ya...", ujar satu seniorku yang bertanggung jawab untuk memeriksa pasien baru di ruang akut, sambil menyerahkan lembar status yang sudah diisinya, lengkap dengan diagnosis dan rencana manajemen. Sambil membuka lembaran status itu, mataku membesar, "Ya ampuunnn, IUFD mbak, anak pertama pula...Kasihan amat. Stabil tapi kan pasiennya mbak ? Ga ketemu apa-apa di USG depan ?" berondongku. "Iya, IUFD. Udah konfirmasi ama chief, ga ada denyut jantungnya di USG. Ga ada molase juga, baru berarti tuh IUFD nya. Hamilnya sih aterm, presentasi kepala, taksiran beratnya sekitar 3800 gram, ketubannya cukup juga. Ga tau deh tuh kenapa IUFD. Ibunya stabil kok, masih nangis syok di depan ama suaminya. Buruan bawa ke belakang deh, antrian pasien yang mesti gue periksa masih banyak!" jelasnya panjang lebar. IUFD, intra uterine fetal death, alias kematian janin dalam rahim, adalah the worst nightmare buat para ibu hamil yang sudah bersusah payah berletih-letih selama 9 bulan demi bisa menimang buah hati.

Ketika aku masuk ruang akut untuk meminta bidan akut untuk segera mengirim pasien ke belakang, pasien itu masih menangis tersedu-sedu di pundak suaminya. "Bu, saya Dokter Pitha. Saya turut berduka cita...", ujarku dengan sangat berempati. Kemudian dengan didampingi suaminya, kujelaskan rencana kami untuk menginduksi persalinan agar si bayi segera lahir, karena memperpanjang kehamilan pada kasus IUFD membawa risiko untuk si ibu. "Saya boleh terus nemenin istri saya kan Dok, saat diinduksi dan saat melahirkan nanti ?" tanya si suami penuh harap. "Mmmm... sebenarnya sih boleh Pak. Tapi saat ini kamar bersalin sedang penuh, dan di dalamnya kan ada ibu-ibu lain yang sedang melahirkan juga. Jadi para suami nggak bisa masuk. Maaf ya Pak... Nanti kalau ibu perlu sesuatu, kami sampaikan ke Bapak. Atau kalau Bapak mau menyampaikan sesuatu ke Ibu, bisa lewat kami. Bapak boleh tunggu di ruang tunggu depan situ," ujarku mengerti betul akan kekecewaan dan kekhawatiran si suami. Iyalah, suami mana sih yang tidak ingin berada di samping istrinya saat persalinan, apalagi ini adalah masa-masa sulit bagi istrinya, mesti melahirkan bayi yang sudah meninggal. Idealnya sih setiap ibu bersalin disediakan kamar privat, sehingga bisa didampingi suaminya selama persalinan seperti di rumah sakit swasta. Moga-moga rumah sakit pemerintah pun kelak memikirkan hal-hal seperti ini dan menyediakan dana untuk membuat fasilitas pelayanan seperti itu. Untuk sementara ini, ibu-ibu yang bersalin di rumah sakit pemerintah harus puas dengan ditemani ibu-ibu yang senasib denganya.

"Ibu ini hamilnya udah berapa bulan persisnya ? Pernah di USG nggak waktu awal kehamilan untuk menentukan usia kehamilan, kapan tanggal taksiran persalinannya?" tanyaku menggali informasi lebih dalam, mencoba mencari tahu penyebab si bayi IUFD. "Haid saya sebelum hamil nggak teratur Dok, pokoknya pas udah 3 bulan lebih nggak dapet haid dan rasanya suka mual, saya tes kencing di bu bidan. Terus dibilangin udah positif hamil. USG nya sekali pernah Dok, sekitar hamil 6 ato 7 bulanan gitu, itu juga suami saya ngumpulin uang mati-matian buat USG, biar tahu jenis kelamin bayi dan nyiapin nama jauh-jauh hari..." jawabnya.

Tipikal banget buat ibu hamil dengan pengetahuan dan dana terbatas. Padahal pemeriksaan USG di awal kehamilan sangat penting untuk menentukan usia kehamilan. Risiko IUFD dan still birth meningkat drastis pada kehamilan lebih dari 42 minggu, alias kehamilan post term. Baiklaaahhh, USG untuk melihat jenis kelamin bukannya haram, tapi yang justru penting dari pemeriksaan USG kok ya malah dilewatkan.

"Terus ibu emang enggak ngerasa kalau bayi ibu berubah gitu gerakannya di dalem perut kemaren-kemaren ?" tanyaku mencoba mengidentifikasi kapan kira-kira si bayi meninggal. "Sebenernya saya ngerasa bayi saya berkurang gerakannya sejak seminggu lalu Dok, biasanya tuh kan aktif banget. Nah sejak minggu lalu kok kayaknya jadi agak diem dianya. Saya belain deh kontrol ke bu bidan, didengerin bunyi jantungnya, katanya normal. Kata suami saya, saya tegang dan stress aja kali, soalnya uang buat lahiran belum ngumpul juga Dok... Nah pas kemaren itu saya seharian ga ngerasain si bayi gerak, trus kontrol ke bu bidan, katanya udah ga kedengeran detak jantungnya, dirujuk kemari. Tapi pas abis itu, saya sekali ngerasain dia bergerak. Jadi saya nggak jadi kemari, lagian nunggu suami saya shift malam di pabrik dulu. Baru tadi pagi ke bu bidan lagi dianter suami, kata bu bidan bayinya udah nggak ada, jadi dirujuk kemari..." katanya sambil mulai berurai air mata kembali.

Kalau tidak ingat bahwa pasien di hadapanku ini serius betul-betul tidak mengerti apa yang terjadi dengan bayinya, aku pasti sudah menepok jidatku sambil berseru 'di situ selalu saya merasa sedih!!!'. Janin adalah makhluk pintar. Sang Pencipta sudah memperhitungkan, janin yang tumbuh dalam rahim pasti susah untuk memonitornya, beda dengan bayi yang sudah lahir bisa dilihat bernapas dan beraktivitas. Gerakan janin berkurang adalah sinyal yang dikirim karena janin sedang menghemat energinya, suplai oksigen dan nutrisi mungkin berkurang sehingga energi hanya dipakai untuk metabolisme organ-organ penting seperti otak dan jantung. Pada kondisi ini berarti plasenta sudah tak mampu menyokong kehidupan, dan rahim sudah bukan tempat terbaik bagi pertumbuhannya, alias si bayi mesti dilahirkan. Aku selalu menganggap serius persepsi ibu tentang gerakan janinnya. 24 jam dalam sehari bersama janinnya, ibu adalah orang yang paling tahu kebiasaan si janin. Bila berkurang gerakannya, apalagi ada faktor risiko, it is worth to be investigated, mendengarkan denyut jantung janinnya saja tidak cukup. Kalau sudah cukup bulan, it is an indication to deliver the baby, sudah terbukti menurunkan angka stillbirth.

"Berapa kali periksa sama bu bidan Bu ? Pernah periksa darah nggak ? Ada masalah nggak selama kehamilan ?" tanyaku lagi mencoba menyaring faktor risiko. "Tiga kali Dok, pertama kan waktu periksa kencing dan hamil, terus kemaren karena bayi enggak gerak, dan tadi pagi sama bu bidan dirujuk kemari..." jelasnya polos. Sambil meringis dalam hati aku melanjutkan "Memang ibu bidan nggak nyuruh ibu kontrol tiap bulan ?". "Nyuruh sih Dok... Tapi kan periksa bu bidan bukannya gratis. Kalau ke Puskesmas sih bisa gratis kalau pake surat-surat. Masalahnya saya dan suami KTP nya KTP Jawa, nikah juga di sana. Belum urus kartu keluarga juga. Jadi nggak bisa ngurus surat-surat di sini. Itu tadi aja buat daftar dan periksa darah di depan, dapet kasbon di pabrik dari gaji bulan depan..." sahutnya sayu. Hmmm, I'm going nowhere here...

Setelah menerangkan proses induksi dan tetek bengeknya, mulailah dosis pertama misoprostol kuberikan per vaginam. Sebagai mandor, kuputuskan penanggung jawab pasien itu adalah salah satu juniorku tahap 2A. Ternyata si pasien bereaksi sangat responsif terhadap induksi. Berselang 4 jam, pembukaannya lengkap dan langsung mengedan. Aku menemani juniorku tahap F, untuk membantu persalinan si ibu. Proses keluarnya kepala si bayi agak susah, dan ketika keluar terlihat kulitnya sudah bermaserasi, menunjukkan bahwa si bayi sudah meninggal mungkin lebih dari 24 jam. Karena bayi sudah meninggal, tidak ada tonus otot, sudah pula bermaserasi, lahirnya kepala tidak diikuti spontan dengan lahirnya bahu. Kepala si bayi pun tampak lebih besar dari rata-rata.

"Distosia bahuuuu...!!" seruku sambil menginstruksikan bidan untuk membantu dan menyuruh juniorku memanggil anggota tim lain untuk membantu. Distosia bahu adalah salah satu kegawatan obstetrik, kalau bayi hidup maka it's a nightmare for an obstetrician, true shoulder dystocia causes large morbidity to mother and baby, even perinatal mortality. Karena bayi ini sudah meninggal, jadi kami tak terburu waktu untuk segera melahirkan si bayi. Namun tetap sulit melahirkan si bayi, perlu berbagai manuver penanganan distosia bahu sampai akhirnya bayi seberat 4300 gram itu keluar. Jangan-jangan si ibu ini menderita diabetes gestasional, bayinya makrosomia dan IUFD begini, pikirku dalam hati.

"Ibu mau lihat bayi nya nggak ?" tanyaku hati-hati setelah si bayi lahir dan juniorku melahirkan plasentanya. Dia tak menjawab, hanya menggeleng lemah sambil membuang muka menyembunyikan air matanya. "Gimana perdarahan dan kontraksi nya ? Ruptur perineum grade berapa ?" tanyaku pada juniorku sambil meminta bidan membawa jenazah bayi itu keluar untuk ditunjukkan pada suaminya. "Banyak clot nih mbak..!! Kontraksi jelek. Ruptur perineum grade 3C nih...!!" kata juniorku panik. Aku segera melompat mendekat, tepat ke samping pasien yang sekarang tampak pucat dan menggigil. Aku segera meraih lengannya dan nyaris tak bisa meraba denyut arteri radialisnya.

"Ha Pe Peeeeee....!!!" teriakku menggelegar dari kamar bersalin ke seluruh penjuru IGD obgyn. Serentak semua anggota timku datang. Infus dan cairan segera dipasang, sambil darah diambil untuk dikirim ke lab dengan urgent dan permintaan sedia darah. Semua uterotonik segera diberikan, dan seniorku tahap 2C mengambil alih merepair ruptur perineum nya agar hemostasis segera tercapai. Si pasien tampak semakin pucat dan bahkan setelah resusitasi dia tetap hipotensi dan takikardi, nyaris tak teraba nadinya. "Bu..!! Buka matanya Bu...!!", seruku sambil sibuk memeras kolf cairan agar cairan infus mengalir lebih cepat, berbalapan dengan perdarahan dari jalan lahirnya yang tak ubahnya keran air dibuka. Kontraksi rahim tak juga membaik bahkan setelah kompresi manual dan segala uterotonik. Dan si pasien tak merespon instruksiku sama sekali.

"Mas, gue buka OK ya... Pasien HPP ga stabil, syok hipovolemik dan penurunan kesadaran... Gue lapor konsulen sekarang...!!" seruku pada chief. "Oke, kirim OK buruan, gue siap-siap di sana ya...". Aku segera membagi tugas juniorku untuk memberi tahu staf kamar operasi bahwa kami akan mengirim pasien HPP, juga mengirim juniorku untuk menggeret salah satu residen anestesi sekarang juga kemari. Sisa timku melanjutkan resusitasi pada pasien itu, dan aku menelpon konsulen jaga, meng up date informasi dan memintanya segera datang. "Buruan dorong ke OK...!!" teriakku memobilisasi semua anggota tim.

Setelah pasien masuk kamar operasi dan resusitasi diambil alih oleh tim anestesi, chief mengirimku keluar kamar operasi untuk meminta consent dari suaminya. Suami yang malang itu tak tahu sama sekali apa yang terjadi dengan istrinya, dia baru saja melihat jenazah bayinya, dan aku harus menambah berita buruk tentang kondisi istrinya. Karena tak banyak waktu, segera kujelaskan kondisinya, dan dengan berat aku berkata, "Kami mungkin harus mengangkat rahim istri bapak untuk menghentikan perdarahan dan menyelamatkan nyawanya...". Seperti berada di dunia lain dan tak mendengarkan kalimat-kalimatku, tatapan kosongnya menembus mataku. "Pak..!!", cetusku setelah beberapa menit memberinya kesempatan mencerna semuanya, "Kami butuh ijin bapak untuk mengoperasi ibu, mungkin harus mengangkat rahimnya demi menyelamatkan nyawanya..!!".

Tangisnya pecah, sambil berurai air mata dan sesenggukan dia menjawab "Apa aja asal istri saya selamat Dok...!!". "Kami usahakan Pak, doakan yang terbaik. Sekarang tolong Bapak urus minta darah di Bank Darah ya, istri Bapak butuh darah banyak.." ujarku sambil memberi isyarat agar juniorku menyerahkan formulir permintaan darah dan sample darah istrinya.

"Bank darah lagi ga ada stock, Mbak. Tadi saya sudah telpon..." jelas juniorku itu. "Kalau begitu Bapak mesti ke PMI pusat, mungkin Bapak mesti cari donor sendiri.." lanjutku mengubah instruksi. "Di mana itu Dok ? Terus saya mesti cari donor darah di mana ? Saya ga punya saudara di Jakarta. Berapa bayarnya kalau minta darah di PMI ?" tanyanya panik. Hadeeeuuuhhhh... Akhirnya supaya memastikan darah kami dapat, aku mengirim salah satu juniorku untuk mengurus darah. "Pokoknya mesti dapet..!! Gue nggak mau tau. Lu sms berantai semua residen, yang golongan darahnya sama, suruh donor sekarang..!!". Mengandalkan sistem penyediaan darah yang ada saat ini sih sama saja dengan membiarkan pasien-pasien kami mati di depan mata...!!

Pasien itu masih juga tak stabil di atas meja operasi. Begitu perutnya dibuka, rahimnya keplek, atonia sama sekali. Konsulen jaga yang mengoperasi memintaku menelpon seorang konsulen lain, seorang konsultan ginekologi onkologi, untuk datang membantu. Akhirnya karena kondisi pasien tak stabil, rahimnya atonia, semua sepakat tak ada tempatnya untuk menkonservasi rahimnya. Meskipun dia belum memiliki anak hidup, tapi nyawanya jauh lebih penting. Rahim pasien itu pun diangkat, histerektomi obstetri, demi mengontrol perdarahan. Perdarahan tampak teratasi, walaupun sedikit oozing di sana-sini, pastinya karena jumlah darah yang hilang bersama faktor pembekuan darah menyebabkan koagulopati. Drain dipasang di rongga perutnya untuk memonitor kalau-kalau terjadi perdarahan lagi setelah dinding perutnya ditutup kembali. Setelah kulit terjahit, barulah darah untuk transfusi datang.

Karena tekanan darah dan nadinya yang masih labil, akhirnya pasien itu dikirim ke ICU untuk observasi, di sana peralatan observasi lengkap tersedia. Transfusi darah pun akhirnya dilanjutkan di sana. Meski jam jaga kami berakhir sejak pukul 15 lalu, sampai pukul 21 malam aku masih tinggal di IGD, memastikan pasien itu stabil di ICU dan menyelesaikan laporan jaga untuk konferensi besok pagi. Saat aku mengemas laptopku bersiap untuk pulang, tiba-tiba chief jaga tim malam berlari tergopoh-gopoh ke arah ICU di gedung seberang. "Kenapa Mas ?" tanyaku, merasa bahwa jangan-jangan gara-gara pasien itu. "Pasien lu tuh Pit, produksi drainnya masak 600 cc dalam sejam terakhir. Pasti ada on going bleeding lagi...", serunya sambil bergegas ke ICU.

Akhirnya aku melempar ranselku dan ikut berlari bersama chief ke ICU, batal pulang. Ternyata hemodinamik si pasien kembali tak stabil, kantong drain sudah terisi cairan merah segar sebanyak 600 cc. "Gue lapor konsulen, lu kasih tau orang OK ya, kita mesti bawa balik pasien ke OK, ada perdarahan..!!" instruksinya. Lupa bahwa aku sangat lelah dan perutku belum diisi sejak siang tadi, aku berlari ke OK di IGD obgin meminta staf OK untuk menyiapkan kamar operasi untuk re-laparotomi pasien itu. Dua konsulen operator histerektomi sore tadi datang seketika dan siap melakukan re-laparotomi. Saat perut si pasien dibuka kembali, penuh darah. Rupanya ada pedikel kecil dari ovarium (indung telur) kanannya tidak terhemostasis dengan baik. Karena pasien awalnya syok hipovolemik, kehabisan darah, maka tidak ada darah yang mengalir. Tapi begitu transfusi darah dilakukan dan volume darahnya meningkat, tekanan darahnya membaik, maka otomatis pembuluh darah kecil yang tidak terhemostasis itu mengalirkan darah kembali. Untunglah drain dipasang tadi, sehingga kondisi ini bisa diketahui segera.

Karena sulit menghentikan perdarahan di tempat itu, akhirnya diputuskan untuk mengangkat juga ovarium kanannya agar seluruh pembuluh darahnya bisa diikat sekaligus dan meminimalisir risiko perdarahan ulang. Re-laparotomi sudah cukup, kami tidak mau mi-laparotomi (berasa kayak lagi nyanyi : do re mi). Alhamdulillaah di sisa malam itu, pasien stabil sampe keesokan paginya dan ditransfer kembali keesokan harinya ke kamar bersalin untuk observasi.

Seperti bisa ditebak, konferensi pagi keesokan paginya (buatku yang jadi jaga 36 non stop, I lost the plot of day and date) sangat seru membahas kasus ini. Belum kemudian aku harus maju audit morbiditas maternal. Sebulan staseku di IGD sebagai mandor membukukan rekor 3 re-laparotomi, yang entah mengapa semuanya terjadi di jam jagaku. Kolega mandor-mandor di tahapku sampai menggelariku Miss Re-Lap (arotomi) karena sebagai pelapor di konferensi pagi, aku paling rajin melaporkan kasus re-laparotomi. I don't really care, yang penting pelayanan terbaik sudah kami berikan. Re-laparotomy for any reason is a known risk for surgery, what matter is how you minimise the risk and deal with it if that happens, and at the end how you reflect and learn the lesson from it...

PS : 
- ini setting layanan kesehatan Indonesia tahun 2009, moga-moga sekarang sudah jauh lebih baik
- HPP : haemorrhagic post partum, perdarahan pasca persalinan
- OK : istilah untuk kamar operasi, entah mengapa kami selalu menyebutnya OK hehe...

Kita dicipta...

Kita dicipta dengan lemah, keluh dan mudah retak. Setiap jiwa pasti merasa lelah dan lemah ketika penuh aktivitas. Setiap jiwa pasti merasa sakit ketika didzalimi. Jiwa merasa kecewa saat tak tercapai apa yg dicita. Terus begitu, saat segala tak sesuai yg diharapkan oleh jiwa.

Sungguh tak mengapa. Tak mungkin hilang dari jiwa manusia. Sebagaimana sahabat Rasulullah dahulu merasa. Merasa kecewa, tertekan, sakit, bahkan putus asa. Seperti Khabbab yg meminta pada Rasul agar segera diturunkan pertolongan, tanpa perjuangan. Seperti pengaduan ketidakberdayaan, kelemahan Rasul pada Sang Pencipta...

Tingkat kelemahan dan kelelahan, kesakitan, kekecewaan, keresahan, ketakutan itu tiada beda. Hanya iman yang membedakan. Iman yang membentuk pagar dan menara sikap pada kesulitan dan ujian-ujian.

"Setiap amal pasti ada waktu semangat dan waktu lemahnya.." tutur Baginda..

Tidak boleh berlangsung lama. Biasanya hal yg muncul dalam jiwa adalah, anggapan bahwa "apakah aku mampu melalui ini semua? Seperti kesulitan2 sebelumnya?"

Muncul perasaan lemah, tidak mampu memikul beban, seakan di luar kemampuan.

Ya, inilah Tawadhu' Kadzib. Kita ditipu oleh rasa lemah dan ketakutan. Mereka menguasai hingga kita terlihat jiwa yang tiada harapan. Kita terlihat seperti insan tak berbingkai iman. Kita terlihat seperti hamba tak bertuhan..

Jiwa kita perlu tantangan dan benturan. Sebab kata Sayyid Quthb, "Hakikat iman tidak akan terbukti kesempurnaannya dalam hati seseorang sampai ia menghadapi benturan. Lepas benturan demi benturan, ada mujahadah yg diperjuangkan, yg menggoda dan melemahkan iman." .

Jiwa kita tak pernah sendiri. Dalam fithrah kita sebagai insan, selalu ada jeritan pada Rabb, dalam sedih atau senang. Bergeraklah! Sebab tujuan ruh kita berjalan menuju kekekalan. Menuju nikmat keabadian. Ruh kita bersama segala kebaikan dan cinta Rabb. Kau tak sendirian!

[Oleh Nabilah Hayatina]

[sudah ada bagiannya masing-masing]

ada yang hari ini sedih.
ada pula yang berseri-seri wajahnya tak bisa disembunyikan.

ada yang jaga berkali kali tapi tak lelah karena pasiennya tak banyak.

ada juga yang baru jaga kedua sudah sangat lelah karena tiap jaga pasiennya sama sama banyak.

ada yang harus dimarahi karena kesalahannya.
ada pula yang dimarahi bukan karena kesalahannya.

ada yang diajari dengan senyum mengembang.
ada juga yang harus diajari dengan hardikan keras.

ada yang diuji dengan kematian anaknya, sekaligus diuji pula dengan kehidupan baru seorang bayi di bed sebelahnya.

semua sudah ada bagiannya masing-masing.
takkan pernah Allah berikan suatu ujian di luar kemampuan hambaNya.

yakin, semua bagian, ujian, ada pelajaran yang Allah ingin kita ambil. ada banyak hikmah terserak.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Surah Al Mulk ayat 2)

semoga kt senantiasa dijadikan hamba yang bersyukur, atas segala ujian, atas segala nikmatNya. aamiin

Mar 24, 2018

Dzikrul Maut


Pagi ini keluarga besar kami dikejutkan dengan kabar meninggalnya salah seorang dokter angkatan 2010.

Seorang, sahabat, teman, kakak kelas, anak, seorang hamba Allah; almarhum mas ekkim al kindi.

Dan kabar itu membuatku tertampar.

Demi karena melihat perjuangannya membersamai karsinoma nasofaring.

Melihat senyum sumringahnya di foto sumpah dokter.

Sungguh tak tampak raut kekecewaan, tak ada bekas wajah orang sakit. Yang ada hanya wajah bahagia. Dan tentunya setelah tau sakit yg selama ini dimiliki, sungguhlah itu adalah wajah keikhlasan.

Kepulanganmu hari ini menjadi pengingat bagi kami. Khusus nya bagiku yg kini jua Allah uji dengan sakit...

Sakit ini, pasti tak seberapa dengan sakitmu.

Sakit ini, juga tak ada apa apanya dibanding ratusan pasien lain.

Dokterpun bukan hanya satu dua yang sakit.

Rasanya hari ini ada sound yang berulang ulang terputar:
" Kamu hanya harus lebih banyak bersabar dan ikhlas. Ikhlas membersamai ini.. Menerima.. dengan lapang dada. Sampai Allah yang mengakhiri sakitnya."


Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. Telah Allah angkat sakitmu, dan semoga Allah ampuni juga segala dosamu. Allah terima semua kebaikanmu sebagaimana manusia dengan sedia bersaksi atas kebaikan yg ada pada dirimu.

Terima kasih karena telah menjadi teladan, bahkan hingga akhir hayatmu.

Ya Allah..
Karuniakan pada kami kehidupan yang barokah. Usia yang berkah. Di jalan kebaikan. Jalan yang Engkau ridhoi. Hingga jalan itu bisa mengantarkan kami pada sebuah Husnul khatimah

Aamiin

12.32 am
6/3/18
Post ngereng rspa boyol

Pin Abu-Abu



Mungkin butuh berjuta tahun untuk melenyapkan plastik ini.

Tapi aku tahu, rasaku padanya, mimpiku terhadapnya, tak boleh terus kupendam dan kupupuk sampai berjuta tahun juga.

6 tahun sudah aku belajar melepaskanmu.

6 tahun sudah aku belajar membelokkan layar perahuku.

Dan aku harus banyak bersyukur tentang itu.

Walau rasanya perahuku telah compang camping bahkan untuk memulainya. Memulai berlayar di lautan yang sepertinya bukan lautanku.

Butuh waktu nyaris 3 tahun untuk menaruhmu, setelah nyaris selalu menggunakanmu di sisi kiri jilbabku.

Alasanku waktu itu: aku tak punya pin yang senada lagi.

Kini setelah semua ini, setelah tahun demi tahun kulewati, setelah layar perahuku yang compang camping ternyata bisa berlayar sejauh ini, aku tahu, aku harus banyak bersyukur. Krn Allah yang Maha Penyayang telah menguatkanku, mengizinkanku, melewati semuanya.

Ya Allah.. walau berat, tp aku selalu memohon agar Kau memberikan banyak rasa ikhlas dan rasa ridho pada jalanku kini.

Terima kasih, karena telah melajukan perahuku, walau layar keikhlasannya compang camping

Aug 29, 2017

Jalan Menuju Sekundipara

Suatu siang di sebuah rumah sakit daerah di Boyolali, ada tiga ibu muda berjejer di bed kamar bersalin. Ketiganya adalah para sekundigravida (hamil kedua). Umur mereka sama. anak pertama mereka umurnya berdekatan. Dan mereka saling mengenal satu sama lain sebagai tetangga, sehingga suasana kamar bersalin siang itu penuh dengan obrolan mereka.

Ketiga pasien itu adalah pasien hamil postdate. Artinya, hamilnya sudah melewati HPL (hari perkiraan lahir). Atas indikasi itu, ketiganya dimintai persetujuan untuk dilakukan induksi persalinan. Namun sang ibu 2 menolak induksi sementara ibu 1 3 diinduksi.

Qodarullah, pasien kedua ini; malah melahirkan duluan. Diizinkan Allah untuk lega duluan dan bisa makan malam dengan tenang sementara teman di kanan-kirinya masih ketar ketir menunggu persalinan.

Tengah malam, pasien ketiga pembukaannya lengkap. Dan akhirnya menyusul rekannya untuk dipindah ke bangsal perawatan.

Tersisa ibu pertama,yang walaupun sudah diinduksi, tapi tak ada kemajuan persalinan yang berarti. Hingga akhirnya, dokter memutuskan untuk melahirkan bayi si ibu dengan seksio caesarea.

Ternyata, untuk segala awal yang (tadinya) dibuat sama; jalannya tetap bisa berakhir berbeda.

Ternyata, untuk segala sesuatu yang akhirnya kelihatannya sama (sama-sama baru punya bayi kedua), ada proses berbeda yang tentu tak semua orang perlu diberi tahu.

Ada banyak perbedaan di dunia ini, berjuta warna dan cerita, yang diatur sedemikian rupa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb Semesta Alam yang Maha Sempurna, Maha Berdiri Sendiri.

Ada banyak hikmah yang Allah titip; yakni betapa tak semua penantian harus berakhir sebagaimana yang kita harapkan. Juga bagaimana agar menjadi hamba yang tetap bersyukur, dengan akhir cerita apapun yang Allah berikan pada kita.

Semoga kita selalu menjadi hamba yang penuh syukur, yang bisa memetik banyak hikmah.


Selesai ditulis di ponek 1 RSDM pada 6.00 PM / 17 Agustus 2017
Asma Azizah

Jul 20, 2017

Hikmah dari IUFD

Takkan pernah Allah memberi cobaan, di luar kesanggupan hambaNya. Begitu kata Allah di ayat terakhir surat kedua. Sejatinya, ujian diberikan sudah sepaket dengan kekuatan. Yang tentunya harus dijemput dengan kesabaran dan keikhlasan dalam ikhtiar.

Seperti yang kualami pagi itu di kamar bersalin. Aku baru saja datang menggantikan shift malam rekan-rekan jaga. Di satu bilik terlihat ada ibu yang kemarin diketahui janinnya mati dalam kandungan (IUFD-intra uterine fetal death). Ketika didekati ternyata si ibu mengeluh dadanya ampeg dan meminta tetesan infusnya diperlambat. Karena prediksinya, tetes infus itulah yang terlalu cepat itulah dirinya sesak. Ketika kulaporkan, residen obsgyn mencoba menenangkan dan kemudian  kami memasangkan oksigen agar sesaknya bisa berkurang.

Belum berapa lama ditinggal, sang ibu mengerang hebat. Setelah dicek ternyata pembukaannya sudah lengkap. Aku agak terkejut. Karena kemarin siang, ketika aku meninggalkan kamar bersalin, ibu itu sudah akan dilakukan tindakan untuk evakuasi janinnya. Kisahnya sangat mengharukan, karenanya kemarin siang setelah jam jaga usai, aku buru-buru meninggalkan kamar bersalin. Tak ingin melihat evakuasi janinnya. Tak ingin melihat kesedihan di wajah ibunya. Qodarullah, kemarin siang tak jadi dievakuasi. Pengeluaran janin diputuskan dilakukan secara pervaginam dengan induksi. Sehingga jadilah pagi itu aku menemui ibu yang ternyata masih ada janin di  perutnya dan pembukaannya lengkap. Artinya, akulah yang harus ikut membantu persalinannya.

Ini adalah pertama kalinya aku menjadi asisten utama residen. Prosesnya bisa dibilang cukup cepat. Walaupun aku masih dengan tangan gemetar memegang gunting dan sering tidak tanggap ketika harusnya membersihkan perdarahan yang keluar. Alhamdulillah janinnya berhasil keluar. Plasenta keluar lengkap. Perdarahan ibu terkontrol baik dan tensi pasca persalinan juga baik.

Setelah persalinan itu, aku kemudian memperhatikan sang ibu dan suaminya. Yang masya Allah, luar biasa sabarnya. Aku tak melihat tangis bombai ibu atau derai putus asa sang suami. Kupikir, suaminya akan bermuka masam atau menyalahkan keadaan. Tapi ternyata, suaminya bersikap sangat lembut saat menghadapi istrinya. Pun ketika bertanya denganku yang sebenarnya bukan siapa-siapa ini, ia masih bertanya dengan senyum, dok kapan ya jenazah bayinya bisa kami bawa pulang?. Kujelaskan dengan pelan prosedurnya. Dan kemudian dibalas anggukan dan senyum oleh mereka.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Aku yang sesungguhnya kemarin ingin menghindar dari persalinan IUFD ini, ternyata malah diberikan kesempatan menolong langsung. Walau selama persalinan, aku ingin menangis karena membayangkan betapa sakitnya si ibu akan bertambah mengingat janinnya sudah IUFD. Tapi ternyata Allah beri ketegaran menghadapi dan bertahan disana. Allah beri bonus, seorang residen baik hati yang memaklumi pemulanya aku, tidak memarahi bahkan beliau hanya bilang: gapapa, namanya juga belajar. Dan dari semua kejadian pagi itu, ketegaran suami istri yang diuji IUFD itulah yang membuatku ingat dengan ayat terakhir di surah kedua Qur’an; bahwa Allah tidak akan menguji di luar kesanggupan hambaNya. Allah yang Maha Mengetahui. Pasti ada hikmah dibalik ujian IUFD itu. Pasti ada yang Allah ingin ajarkan, untuk mereka yang ditinggal janinnya. Atau untuk kami yang sedang mengemban amanah menuntut ilmu di rumah sakit ini.


Solo, 20 Juli 2017

Jul 14, 2017

Another Inspiring Story

(dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp.OG)

Aku baru saja menyelesaikan satu buku tentang pendidikan anak yang direkomendasikan suamiku. Judulnya, battle hymne of the tiger mother, yang ditulis oleh seorang profesor bidang hukum di Yale university berdarah Cina. Berkisah tentang perjuangannya membesarkan 2 orang putrinya di Amerika, dan pertentangan prinsip 'Chinese' dan 'Western' parenting. Ditulis secara naratif dan deskriptif, membuatku mengenang kembali masa kecilku dan membayangkan masa depan anak-anakku, yang dalam hal ini kurang lebih sama posisinya dengan anak-anak si penulis.

Sampai berjam-jam kemudian, isi kepalaku masih dipenuhi dengan berbagai ide dan gambaran metode mendidik anak-anakku yang diinspirasi dari buku itu. Namun entah kenapa, sesaat sebelum tidur malam itu, tiba-tiba aku merasa bukan menjadi 'the tiger mother'. Bahkan, aku merasa seperti menjadi bagian dari peran kedua anak gadis yang dikisahkan di buku itu, diasuh oleh 'tiger mother'. Ibuku memang menerapkan prinsip pendidikan yang hampir sama dengan 'Chinese' parenting itu padaku, tapi itu tentu sudah berakhir lebih dari satu dekade lalu.

Sambil mengelus-elus gadis kecil di sampingku agar segera tidur, pikiranku masih terus melayang mengapa bukan peran 'tiger mother' yang kurefleksikan, tapi justru kedua putrinya. Kalau aku merasa seperti kedua gadis dalam buku itu, tentu ada seseorang yang berperan sebagai 'the tiger mother' untukku saat ini. Tepat saat itu suamiku masuk kamar melongok apakah si kecil sudah tidur dan mengingatkanku untuk memberinya anti piretik agar dia tidur nyenyak (si kecil memang sedang terserang ISPA dan sering rewel di malam hari karena hidungnya mampet). 

Seperti balita yang baru berhasil memecahkan puzzle 4 bagian, otakku berseru 'that's it...!!'.  Aku tidak hidup bersama seorang 'tiger mother' lagi saat ini, tapi aku memiliki seorang 'ram husband' yang mengarahkan jalan hidupku. Entah mengapa aku memilih sebutan 'ram' yang artinya domba jantan. Mungkin diinspirasi dari zodiaknya yang Aries, dan 'ram' adalah simbolnya. Tapi aku tak percaya zodiak, apalagi sebagian ulama menyatakan hal itu dekat dengan kemusyrikan. Aku juga tak tahu apakah sifat 'ram' itu sama seperti suamiku, toh aku dididik sebagai dokter manusia, bukan dokter hewan.

Namun aku kenal persis sifat suamiku (walau mungkin dia akan menyangkal pernyataan ini). Hampir sepuluh tahun melewati hidup bersamanya, dia selalu bisa membaca pikiranku sama seperti aku bisa membaca hatinya (mungkin yang ini juga debatable). Walau kami sama sekali tak saling mengenal waktu pertama kali berjumpa, kurasa sifat percaya diri dan visionernyalah yang membawa kami sampai ke kursi pelaminan, dibanding sifatku yang lebih banyak 'let's just go with the flow...'. Kami sama-sama anak pertama, sama-sama keras kepala dan suka berdebat, dan yang lebih penting sama-sama tidak mau mengalah.

Aku masih harus menyelesaikan pendidikan dokter umumku saat aku menikah. Rotasi di berbagai bagian seperti bedah, obgin, dan seterusnya akan tetap menghabiskan waktuku sama ketika aku masih gadis dulu. Aku tidak mau studiku terganggu karena menikah, dan aku sudah memberikan janjiku pada ibuku akan tetap lulus tepat waktu dengan nilai baik walau menikah saat kuliah. Karena janji itu, ide suamiku untuk segera memiliki anak setelah menikah tentu kutolak mentah-mentah. Terbayang bagaimana susahnya berlari-lari sepanjang lorong IGD saat jaga dengan perut buncit karena hamil. Belum lagi aku akan harus cuti melahirkan, tentu membuat targetku lulus tepat waktu meleset.

Singkat cerita (lebih karena aku tak ingat lagi apa yang terjadi atau apa yang suamiku lakukan untuk membujukku), aku melahirkan anak pertamaku saat aku masih ko-ass. Aku cuti melahirkan. Aku terlambat lulus 5 minggu dari teman-teman seangkatanku. Aku wisuda satu semester setelah teman-teman sparingbelajarku diwisuda, walaupun tetap bisa dilantik sebagai dokter bersama-sama di gelombang pertama. Tapi bedanya, teman-temanku waktu itu kebanyakan hanya didampingi kedua orang tuanya saat wisuda dan pelantikan. Diriku ? Didampingi kedua orang tuaku, mertua, suami, dan tentu saja bayi kecil yang telah banyak mengubah hidupku.

Mendapat ijasah lebih lambat dari seharusnya juga merentang tantangan di depanku. Impianku untuk segera mendaftar program pendidikan spesialis obstetri dan ginekologi terpaksa ditunda. Selain itu, aku juga tak bisa membayangkan dari mana uang puluhan, bahkan ratusan juta yang harus kusediakan untuk membiayai pendidikan spesialis. Orang tuaku pensiunan pegawai swasta (tanpa tunjangan pensiun tentunya) dan masih harus membiayai sekolah 2 adikku. Penghasilan suamiku saat itu hanya cukup membiayai kebutuhan keluarga kecil kami.

Akhirnya aku memendam (setidaknya menunda) mimpiku untuk segera melanjutkan pendidikan spesialis. Sebagai gantinya, aku rajin membaca koran dan internet, mencari kesempatan beasiswa belajar di luar negeri. Ini adalah impianku yang lain sejak sekolah menengah dulu, kuliah di luar negeri. Aku sadar suamiku tak sepenuhnya menyetujui ide ini. Dia memiliki pekerjaan yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja untuk menemaniku sekolah di luar negeri. Anak kami pun umurnya belum genap setahun, tak terbayang bagaimana mengakali itu semua.

Lagipula aku sadar diri, sebagai dokter fresh graduate, nilai lebih apa yang kupunya untuk bersaing dengan ribuan pemburu beasiswa lain dengan segudang pengalaman dan referensi. Akhirnya aku menjadikan'hunting' beasiswa itu sebagai hiburan sampingan, daripada tidak ada target yang kukejar sambil menunggu ijasahku keluar. Tapi toh suamiku mendukungku habis-habisan. Dia yang rajin mencarikanku berbagai info lewat internet (koneksi internet jaman dulu tentu tak sebagus sekarang). Saat aku (tak disangka-sangka) berhasil melewati seleksi berkas Australian Development Scholarship (ADS) untuk program master, suamikulah yang memaksaku mempersiapkan diri dengan les IELTS agar saat tes di tahap selanjutnya nanti nilaiku baik. Suamiku juga yang menjadi sparing latihan wawancara, memberi masukan ini itu untuk jawabanku yang 'belepotan'.

Sebulan sebelum pengumuman penerimaan beasiswa ADS, suamiku mendapat pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih baik. Walau perusahaan tempat bekerjanya waktu itu adalah 'the dream company' untuknya sejak masih kuliah dulu, dia rela melepaskan tempat tersebut dan pindah ke perusahaan baru itu. Ketika mendiskusikan keputusannya untuk pindah perusahaan, dengan nada ceria dan antusias dia berkicau "Alhamdulillaah...Mudah-mudahan kalau bisa dapet gaji segini, kita bisa bayar SPP buat obgin. Tinggal cari cara buat bayar admission fee aja kalo memang diterima nanti. Begitu ijasah resmi keluar, langsung urus semua surat buat daftar obgin yaa...", begitu 'instruksi'nya.

Ternyata rencana Sang Pencipta sudah tertulis sedikit berbeda untukku. Beberapa minggu setelah suamiku mulai bekerja di tempat baru, aku mendapat telpon darinya. "Pitha, dapet tuh beasiswa ADS nya...Katanya langsung masuk untuk 'june intake'...". Suamiku yang rajin membukakan email untukku di kantornya karena waktu itu kami belum punya akses internet di rumah. Bulan Juni itu tinggal 4 bulan lagi, sedangkan anakku belum genap 1 tahun umurnya, suamiku baru mulai bekerja di tempat barunya, tidak mungkin minta cuti menemani istri sekolah. Walau sangat senang karena impianku untuk mencicipi kuliah di luar negeri bisa terwujud, tapi aku bimbang karena realitas keluargaku rasanya tak memungkinkan itu terjadi.

Aku tahu suamiku pun merasa bimbang. Setelah diskusi panjang, akhirnya dia memutuskan memberiku ijin pergi ke Sydney, Australia, untuk mewujudkan satu impianku. Tapi dengan catatan, aku harus mengurus dulu semua persyaratan administrasi untuk pendaftaran obgin dan pulang saat ujian penerimaan obgin. Harga lain yang harus dibayar adalah aku tidak bisa membawa anakku pergi bersamaku dan suamiku hanya bisa berkunjung sesekali waktu karena tidak mungkin meminta cuti bekerja setahun penuh.

Tapi memang itulah skenario Sang Pencipta. Dari uang beasiswa ADS itu aku bisa menyisihkan sebagian uang dan menabungnya untuk membayar admission fee pendidikan spesialisku nantinya. Suamiku rela membayar tiket pesawat Jakarta-Sydney supaya aku bisa pulang beberapa kali, suami dan anakku bisa berkunjung ke Sydney, supaya kami semua tetap sering berkumpul dan bertemu. Selama aku kuliah, setiap hari saat menelpon pertanyaan yang sama selalu dilontarkannya padaku "udah sampe mana belajar untuk ujian obgin..?". Aku kuliah tentang health services management dengan setumpuk assignment, mana sempat melahap buku-buku obgin yang tidak ada hubungannya dengan assignment ku...

Kurasa, memang jalan hidupku untuk kemudian lulus seleksi residen obgin dan memulai pendidikan di sana. Suamiku memberikan semua yang dimilikinya untuk mendukungku sekolah, terutama di masa-masa awal pendidikanku. Materi, waktu, dan ekstra kesabaran untukku. Tak jarang aku menghabiskan waktu berhari-hari di rumah sakit tanpa pulang ke rumah. Sekalinya pulang ke rumah, membawa badan lelah, muka kuyu, dan segudang 'curhat' dari mulutku. Aku tahu sebenarnya batas sabarnya sudah sering terlewati karena selalu pasien-pasienku di rumah sakit terpaksa kuprioritaskan daripada keluarga kami. Aku sadar bahwa 'toleransi' untukku sebagai istri dan ibu sering melanggar kemampuan toleransi manusia secara umum. Toh ketika aku memiliki ide untuk berhenti saja dari pendidikan obgin, suamiku adalah orang pertama yang paling menentang.

Bahkan ketika aku cuti pendidikan untuk menemaninya bekerja di Inggris, dia tetap membuatku kembali bersekolah. Setelah cuti setahun dari pendidikan, aku merasa mungkin sebaiknya aku belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik dulu. Belajar mengurus suami dan kedua anakku dengan baik. Setelah adu argumen panjang, suamiku berhasil memenangkan pendapatnya bahwa aku harus kembali ke Jakarta, menyelesaikan pendidikan spesialis obginku dulu. Itu artinya selama minimal 3 tahun ke depan, aku dan kedua anakku harus tinggal di Jakarta, sedangkan suamiku sendiri di Inggris. Aku tak tahu bagaimana waktu selama 3 tahun itu bisa berlalu, dengan suamiku harus menempuh perjalanan udara selama 2x24 jam setiap 2-3 bulan sekali untuk mengunjungi kami di Jakarta, sampai akhirnya masa itu lewat sudah.

Aku selalu heran mengapa dia begitu 'ngotot' memaksaku menyelesaikan sekolah obginku. Salah satu alasannya yang dia ceritakan di kemudian hari adalah dia merasa memiliki hutang kewajiban, menjadikanku SpOG. Rupanya, sebelum kami menikah dulu, aku memperkenalkan diriku sebagai mahasiswa kedokteran yang hampir seluruh waktunya habis untuk kuliah dan aktivitas kemahasiswaan. Maksudku adalah memberi gambaran bahwa setelah menikah, waktuku tetap akan banyak tersita untuk kuliah, sehingga kuharap dia mengerti dan tidak terkejut kemudian dengan keadaanku. Aku juga menceritakan cita-citaku untuk langsung melanjutkan pendidikan spesialis obgin begitu aku selesai dokter umum, dengan harapan dia tidak menentang hal tersebut nantinya. Namun ternyata suamiku memiliki interpretasi berbeda. Dia menganggap ketika dia menyetujui menikah denganku dengan kondisiku saat itu, artinya dia berjanji akan mendukungku habis-habisan untuk menjadi SpOG. Padahal, aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai janji pra-nikah.Anyway, ke'ngotot'an suamiku itulah mungkin salah satu 'bahan bakar'ku untuk menyelesaikan pendidikan spesialis.

Sifat suamiku yang 'ngotot' dan selalu 'mengulang' apa yang menjadi keinginanannya itu juga telah membuatku melakukan hal-hal yang tadinya tak pernah terbayang untukku. Selama di Inggris, dia memiliki ide agar aku mencoba mengikuti ujian registrasi dokter lulusan internasional agar dapat berpraktek di Inggris. Awalnya aku menolak karena artinya aku harus meng 'unlearned' pendidikan spesialisku dan belajar menjadi dokter umum kembali. Belum lagi aturan registrasi di Inggris sangat rumit, ujian PLAB (professional and linguistic assessment board) yang harus dilewati bila ingin melakukan registrasi, dan persaingan dengan berbagai lulusan dokter internasional lainnya.

Tapi bukan suamiku namanya kalau menyerah begitu saja. Dia meluangkan waktunya mempelajari website General Medical Council UK, mencari cara bagaimana melakukan registrasi. Bahkan aku yang dokter saja berpendapat website itu tidak 'user-friendly' untuk mudah dimengerti. Setelah dia mengerti aturannya, dia membuatkan account untukku supaya bisa melakukan registrasi dan mengikuti ujian PLAB.

Aku kembali beralasan bahwa sulit untukku belajar kembali jadi dokter umum, banyak sekali materi yang harus kukuasai. Selama ini aku sudah telanjur belajar sangat spesifik sebagai residen obgin. Aku tidak kenal seorang pun dokter lulusan Indonesia yang pernah mencoba ujian atau lulus PLAB. Bagaimana aku tahu seperti apa ujiannya dan bahan apa saja yang harus kupelajari. (Padahal alasanku sebenarnya adalah aku sama sekali tidak 'pe de' untuk mencoba ujian itu dan tidak berani bermimpi untuk bisa bekerja sebagai dokter di Inggris).

Alasan itu tidak diterimanya. Dia kemudian mendata kolega di kantornya yang memiliki pasangan atau teman dokter untuk dimintai informasi. Tidak cukup itu saja, suamiku bergabung dengan forum-forum online dokter lulusan internasional yang mencoba ujian PLAB. Membaca berbagai review tentang buku-buku yang disarankan sebagai materi belajar ujian PLAB. Sebagai hasilnya, berbagai buku, salah satunya setebal lebih dari 12 cm datang diantar oleh tukang pos setelah suamiku memesannya secara online.

Ujian PLAB terdiri dari 2 tahap, yaitu ujian tulis dan ujian praktek (OSCE = objective structured clinical examination). Untuk bisa melakukan registrasi dan ijin berpraktek di Inggris, semua dokter lulusan internasional harus melewati kedua ujian tersebut. Karena berbagai alasan yang kusampaikan tentang betapa sulitnya untukku untuk mempelajari semua materi pengetahuan dokter umum untuk ujian PLAB 1, akhirnya suamiku mencari info tentang kursus persiapan PLAB 1. Dia meyakinkanku untuk mengikuti sebuah kursus singkat di Manchester, 4-5 jam perjalanan darat dari rumah kami. Meski sangat membenci perjalanan jauh dengan mobil, dia rela mengantarku pergi ke Manchester demi kursus itu. Belum puas dengan itu, dia masih memintaku mengikuti kursus online dari sebuah website yang direkomendasikan temannya.

Aku yang waktu itu sedang hamil anak kedua kami, belajar dengan setengah hati. Bayangan ingin bersantai saat hamil dan cuti sekolah rasanya dirusak oleh semangat suamiku agar aku lulus PLAB. Setiap pulang kantor, saat menelpon dari kantor, selalu pertanyaan yang sama dilontarkannya, "udah belajar PLAB sampe mana..?". Sebelum berangkat kantor atau sebelum dia tidur di malam hari, pesannya adalah "jangan lupa belajar PLAB yaa...". Sering aku kesal mendengarnya dan menjawab dengan ketus, "Mas, Pitha bukan anak kecil...ga usah disuruh-suruh belajar...!! Ibu aja nyuruh belajar cuma pas Pitha SD. Abis itu ga pernah ada orang yang nyuruh Pitha belajar..!!". Biasanya dia cuma tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksiku dan berkata, "baiklaaahhhh...boleh libur belajar sekarang...besok lanjut lagii...". Kadang aku sangat kesal sampai menangis merasa diperlakukan seperti anak kecil, disuruh-suruh belajar. Tapi sekarang kurenungi, kalau bukan karena 'kebawelan' suamiku menyuruhku belajar, mungkin aku tak akan pernah belajar dan lulus PLAB 1.

Butuh waktu 3 tahun untukku setelah lulus PLAB 1 untuk berkesempatan lagi mengikuti PLAB 2. Karena aku harus melanjutkan pendidikan spesialisku di Jakarta, aku terpaksa menunda ujian PLAB 2 ku sampai saat terakhir. Ada batasan waktu maksimal 3 tahun setelah lulus PLAB 1, untuk lulus PLAB 2. Bila dalam 3 tahun aku tidak berhasil lulus PLAB 2, aku harus memulai segala sesuatunya dari awal lagi. Itu artinya, aku harus lulus ujian PLAB 2 saat itu. Tidak ada kesempatan waktu lagi untukku bila gagal di ujian ini.

Kurasa suamiku lebih tegang daripada aku dalam menghadapi ujian ini. Berbagai buku dan DVD panduan belajar ujian PLAB 2 sudah disediakannya saat aku tiba kembali di Inggris. Tidak cukup itu saja, suamiku kembali aktif mengikuti berbagai forum online para dokter yang berniat ikut ujian PLAB 2. Dari forum itu, suamiku mendapat informasi suatu tempat kursus persiapan PLAB 2 di daerah East London. Kursus itu berlangsung selama 14 hari non-stop, dari pukul 9 pagi sampai 7 malam. Harganya cukup mahal untuk kantong kami, tapi suamiku berhasil membujukku untuk mengikuti kursus itu.

Tempat kursus itu jaraknya cukup jauh dari tempat kami. Bila menggunakan transportasi publik, memakan waktu sekitar 2 sampai 2,5 jam sekali jalan. Berarti pulang pergi aku harus menghabiskan waktu 4-5 jam sehari. Akhirnya suamiku memutuskan untuk mengantar jemput diriku ke tempat kursus itu dengan mobil, karena perjalanan bisa disingkat sekitar 40-50 menit sekali jalan. Pertimbangannya adalah agar aku bisa memanfaatkan sisa waktu lainnya untuk belajar. Karena suamiku jg harus masuk kantor pk 8.30 pagi setiap hari, kami harus berangkat sebelum matahari terbit agar suamiku tidak terlambat masuk setiap harinya. 

Jadilah selama 2 minggu itu agenda suamiku adalah menyupir sejauh 120 mil (sekitar 200 km) setiap harinya untuk mengantar dan menjemputku kursus, bekerja, memasak, menjadi sparing belajarku sampai tengah malam, termasuk menjadi 'pasien' latihanku melakukan berbagai pemeriksaan klinis yang harus kukuasai, sekaligus 'editor' bahasa inggrisku yang 'betawish'. Dia terpaksa harus ikut belajar apa yang kupelajari agar bisa jadi sparing belajarku. Kurasa, berlatih beberapa lama lagi dia juga akan 'eligible' untuk ikut ujian PLAB 2. 

Perjalanan ribuan mil itu diakhiri dengan menyupir pulang pergi hampir 300 mil (sekitar 450 km)  ke Manchester untuk mengikuti ujian PLAB 2 itu. Suamiku tidak mau aku pergi sendiri dengan kereta, dia memilih mengambil cuti dan mengantarku sendiri ke tempat ujian itu. Kalau kemudian aku lulus PLAB 2, kurasa suamikulah yang paling berhak mendapatkan 'reward' nya karena dia bekerja 2x lebih keras dibanding usahaku untuk belajar.

Untuk urusan 'self confidence', suamiku juga adalah orang yang selalu membesarkan hatiku. Saat mengetahui bahwa di tahun terakhir pendidikan obstetri dan ginekologi terdapat rotasi 'elective posting', suamiku mengusulkan agar aku melakukan elective posting itu di salah satu rumah sakit di London. Awalnya aku tidak 'pe de', tidak untuk mengirimkan lamaran, menulis CV, atau mengontak para konsultan di Inggris. Terbayang olehku pertanyaan mereka saat membaca aplikasi atau CV ku, "a resident from Indonesia? Where about in the world Indonesia is?.." seperti pertanyaan kebanyakan orang Inggris yang pernah kutemui. Belum lagi bila harus bekerja bersama mereka. Tapi suamiku meyakinkanku dengan candaannya, "jangan khawatir, orang Indonesia ga kalah pinter kok sama mereka-mereka itu...mereka menang ngomong doang...!!!". Jadilah akhirnya berbekal nekat dan tips sedikit rasis dari suamiku aku bisa mendapatkan tempat elective posting di beberapa rumah sakit di London.

Kadang-kadang aku berpikir, kenapa suamiku lebih memilih bersikap "ngotot, menuntut, bawel" kepadaku daripada bersikap romantis dan memanjakanku. Rasanya ingin juga sekali-sekali diberi buket bunga, atau diajak candle light dinner dengan sedikit puisi romantis, seperti tontonan sinetron atau telenovela. Tapi kemudian pikiran itu segera kubuang jauh-jauh bila membayangkan puisi lebay berisi rayuan gombal keluar dari mulutnya. Aku bisa pingsan tertawa mendengarnya, apalagi bila suamiku yang membacakannya. It's just not him, and I hate 'lebay' man...

Nevertheless, kurasa, memang sifat suami seperti dialah yang kubutuhkan untuk memimpin keluarga. Aku butuh seseorang yang menetapkan target-target dalam setiap tahap kehidupannya, juga kehidupanku dan keluarga kami. Aku butuh orang "bawel" yang selalu mengingatkan segala sesuatunya untukku. Dan yang paling penting, aku selalu butuh sparing belajar di dunia ini untuk menjadi orang yang lebih baik.

MENITI BATAS (bag 2)

(Oleh: dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp.OG)


Memutuskan untuk mengakhiri kehamilan ketika nyawa seorang perempuan terancam akibat kehamilannya bukanlah urusan mudah. Meskipun sepanjang pendidikanku sebagai dokter kami selalu dilatih untuk berempati kepada pasien, bukan bersimpati, namun bagiku bersikap profesional tanpa melibatkan perasaanku sediri adalah hal yang sangat sulit. Aku juga perempuan, pernah hamil dan melahirkan, mengerti betul perasaan para perempuan yang berada di posisi mereka (mungkin aku termasuk golongan dokter mellow dan cengeng, yet I can’t help it).

Sore itu kami memulai jaga malam di IGD (instalasi gawat darurat) dengan loading pasien “full capacity” dan hampir semuanya adalah pasien-pasien berisiko tinggi. Waktu itu aku baru tahap 2A, di semester kedua pendidikan spesialis obstetri dan ginekologiku. Sebelum ronde, kami harus “operan pasien” dengan sejawat yang bekerja pagi sampai siang sebelumnya. Biasanya tahap 2A bertanggung jawab terhadap pasien-pasien penghuni kamar eklamsi, suatu ruangan khusus di IGD Obgin yang didedikasikan untuk merawat pasien-pasien yang menderita pre/eklamsia (dulu dikenal juga sebagai toxaemia gravidarum, keracunan kehamilan, suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah ibu hamil, bocornya protein dari ginjal ibu hamil, dan bengkak organ atau bagian tubuh ibu hamil).

Eklamsia adalah suatu kondisi yang sampai saat ini masih merupakan misteri mengapa bisa terjadi pada kehamilan, berbagai teori diajukan untuk menjelaskan kondisi ini. Sebagian ahli berpendapat kondisi ini adalah bukti cinta ibu kepada janinnya, saat pasokan darah yang membawa nutrisi dan oksigen tidak sampai secara optimal kepada janin yang sedang tumbuh dalam kandungan ibunya, maka secara otomatis tubuh ibu mengatur agar tekanan darah ditingkatkan supaya aliran darah ibu dipastikan sampai ke janin. Ternyata komplikasi akibat kondisi ini sangat fatal, bahkan pre-eklamsia dan eklamsia menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian ibu karena komplikasi kehamilan dan persalinan di Indonesia. Terapi definitif kondisi ini ternyata sangat sederhana, yaitu melahirkan bayinya. Tapi pada praktiknya, tentu jauh dari sesederhana itu.

“Titip pasien-pasienku yaa... Ga bagus semua kondisinya..” ujar kolegaku yang bertugas sejak subuh tadi di kamar eklamsi. “Huhu...kerja rodi dong ya malam ini...” jawabku setengah bercanda. “Apa aja pasiennya?” tanyaku sambil sibuk membuka-buka rekam medis mereka di meja depan kamar eklamsi. “Yang bed ujung hamil 28 minggu, riwayat seksio 2x dengan diabetes mellitus gula darahnya belum terkontrol, dan pre eklamsia berat (PEB) tekanan darahnya masih fluktuatif. Dua anak yang lahir lewat seksio sebelumnya IUFD (intra uterine fetal death) semua, jadi anak yang ini bener-bener dinanti lho, awas jangan sampe tiba-tiba DJJ (denyut jantung janin) ilang yaa... Yang sebelahnya PEB mau terminasi kehamilan, udah 35 minggu, tensi udah terkontrol tapi nunggu hasil-hasil lab nya, jangan lupa dikejar yaa... Yang pojok pasien kiriman dari ICU, post seksio atas indikasi eklamsi gravidarum, kesadaran masih somnolen dan fungsi ginjalnya jelek... Yang bed sisi kanan PEB tapi masih mau dikonservatif, soalnya masih 33 minggu. Pastikan tensi stabil ya supaya besok pagi bisa dikirim rawat di ruangan... Yang di tengah juga mau konservatif, tapi tadi CTG bayinya ga gitu bagus, kalo emang ga bagus mungkin harus seksio malam ini...Nah yang ini, baru datang dari ruangan. PEB hamil 24 minggu, tensinya fluktuatif terus dan mulai ada perburukan laboratorium. Sedang cek lab lagi, belum ada hasil, ntar kalo udah ada dan ternyata emang perburukan tambah berat, direncanakan mau terminasi...” jelas kolegaku itu panjang lebar yang semakin membuat nasibku jelas malam ini, kerja rodiii....

Enam bed di kamar eklamsi yang penuh sudah jelas menjadi tanggung jawabku. Observasi pasien-pasien di kamar-kamar lain juga menjadi tanggung jawabku, namun kudelegasikan kepada 2 juniorku dengan supervisi dan tanggung jawab di tanganku. Begitulah pembagian kerja dalam shift jaga kami. Semua orang memiliki tanggung jawab, dan sang chief serta jaga utama (2 residen senior yang memimpin jaga) yang bertanggung jawab semua dan melaporkannya kepada seorang konsulen jaga yang stand-by juga di kamarnya di sudut belakang IGD.

Setelah mempelajari semua rekam medis yang mesti kukuasai, maka mulailah aku menyapa pasien-pasienku di kamar eklamsi (tentu hanya mereka yang compos mentis alias baik kesadarannya yang bisa kusapa) sambil berkoordinasi dengan seorang perawat penanggung jawab ruangan eklamsi. Pasien-pasien di sini akan harus dilakukan pengukuran tensi setidaknya 1 jam sekali, malah pasien yang tensinya tidak terkontrol dan harus dilakukan titrasi dosis obat antihipertensinya harus ditensi setiap 15 menit untuk mengevaluasi dosis obatnya. Yang lebih parah lagi, jaman itu rumah sakit kami tidak punya monitor observasi tanda-tanda vital yang secara otomatis melaporkan tensi, nadi, nafas, saturasi, dan hal-hal penting lainnya pada pasien berisiko tinggi seperti pasien-pasienku ini. Jadilah kami harus secara manual memeriksa semua itu setiap 15 menit jika perlu, dan aku punya 6 pasien. Artinya aku tak akan punya kesempatan duduk malam ini. Belum lagi harus juga memeriksa denyut jantung janin pasien yang masih hamil dengan manual menggunakan Doppler (alat cardiotocography, CTG, yang merekam denyut jantung janin dan kontraksi ibu, di rumah sakit kami hanya ada 2 untuk sekian puluh pasien). Idealnya, monitoring janin pasien-pasien risiko tinggi seperti itu harus dilakukan secara terus-menerus (continuous monitoring) karena kondisi janin bisa sewaktu-waktu memburuk. Karena jumlah alat terbatas, kamilah yang harus menggantikan alat-alat tersebut dengan melakukan pemeriksaan manual. Aku juga harus memperhatikan produksi urin/kencing setiap pasien, memastikan bahwa ginjal mereka baik-baik saja, tidak mendapat komplikasi kondisi pre-eklamsia atau eklamsianya. What a labour-intensive job, wasn’t it? In fact, it was only me who should do all those works.

Semua residen sudah tahu bahwa pekerjaan seperti kami memang berat, dan bila memang tetap ingin memilih profesi ini, you just have to live with it... Bahkan pekerjaan yang terkesan remeh sekalipun seperti mengukur produksi kencing dan menghitung berapa cairan yang masuk diminum pasien dan keluar melalui urinnya, bisa menyelamatkan nyawa ibu dan janin. Bila tidak dikerjakan dengan serius, maka nyawa ibu dan janin adalah taruhannya. Para seniorku selalu mencontohkan kasus (entah terjadi betulan atau tidak) bahwa suatu ketika ada seorang pasien yang mengalami edema paru akut (paru-parunya terendam cairan karena pada kondisi eklamsi cairan mudah sekali keluar dari pembuluh darah yang bocor) gara-gara residen yang bertanggung jawab lalai melakukan perhitungan cairan. Edema paru adalah kondisi fatal yang bisa mengakibatkan kematian ibu, tentu juga janinnya.

“Udah kayak setrikaan ya Dok, mondar-mandir melulu dari tadi”, canda seorang pasien yang sedang kuukur tekanan darahnya. “Abis ga licin-licin sih...”, jawabku sekenanya sambil tersenyum dan memelototi alat tensiku. Ini adalah pasien terakhir yang diceritakan kolegaku tadi, seorang nyonya berusia 37 tahun, sedang hamil yang ketiga. Dua kehamilan sebelumnya juga berkomplikasi pre-eklamsia berat, semua harus dilahirkan prematur dan kedua bayinya meninggal karena komplikasi prematuritas. Hamil ketiganya ini, juga berkomplikasi pre-eklamsia berat pada usia kehamilannya yang baru 24 minggu, sehingga digolongkan sebagai suatu early-onset pre-eclampsia, dan biasanya prognsosisnya tidak begitu baik. Tensinya tidak juga terkontrol walaupun obat-obat antihipertensi telah diberikan.

“Masih belum sesuai target nih Bu, tensinya... Ibu mesti makan obat ini lagi ya, nanti 15 menit lagi saya ukur ulang tekanan darahnya,” kataku sambil menyodorkan sebutir pil. Mengatur penurunan tekanan darah pada penderita pre-eklamsia seperti pasien ini tak ubahnya seperti makan buah simalakama. Bila langsung diberikan obat dengan dosis besar supaya target tekanan darah segera tercapai, maka fatal akibatnya bagi janin, karena tekanan darah yang tiba-tiba turun akan menyebabkan aliran darah ke janin berkurang tiba-tiba, yang berarti pasokan nutrisi dan oksigen juga berkurang tiba-tiba. Namun bila target penurunan tekanan darah tidak segera tercapai, maka organ-organ penting si ibu yang menjadi taruhannya. Komplikasi seperti perdarahan otak, gagal ginjal, gagal hati, dan organ lain bisa terjadi akibat tekanan darah yang terlalu tinggi.

“Hasil lab saya belum datang ya, Dok?”, tanyanya setelah menelan pil yang kusodorkan. “Sebentar lagi saya ambilkan ke lab ya Bu, saya selesaikan menulis rekam medis dulu sebentar...”, jawabku sambil sibuk menulis. “Mudah-mudahan bagus ya Dok hasilnya, saya ga mau kehamilan saya diakhiri lagi sekarang gara-gara hasil lab saya nanti jelek”, gumamnya sambil memandang ke jendela. Aku mengangkat muka memandangnya, “Iya Bu, mudah-mudahan hasilnya bagus”, kataku sambil tersenyum memberi harapan.

“Dokter sudah punya anak?”, tanyanya lagi. “Waahh...Ibu ini mau memuji atau nyindir saya sih? Masak potongan kayak saya masih cocok jadi gadis dan belum pernah melahirkan? Saya sudah punya 2 anak Bu,” jawabku sambil bercanda berusaha menghangatkan suasana. “Senang ya Dok, bisa punya anak, apalagi kalo sehat-sehat. Hamil dan melahirkannya lancar, bayi tumbuh dan berkembang dengan baik...”jawabnya masih dengan nada sedih. Aku hanya bisa mengangguk dan kemudian menyahut, “Saya ambil dulu hasil lab Ibu di bawah ya...”, sebelum ikut larut dalam suasana.

Dengan hati ikut sedih aku melaporkan hasil lab pasien itu ke seniorku; mandor, jagut, serta chief jaga. Semua hasil pemeriksaan laboratorium pasien itu menunjukkan perburukan. Kadar hemoglobin dan trombositnya menurun dibanding pemeriksaan sehari sebelumnya, sedangkan enzim-enzim yang menunjukkan fungsi hati (SGOT dan SGPT) meningkat sampai 3x lipat menunjukkan fungsi organ sudah terganggu. Demikian juga pemeriksaan fungsi ginjal berupa kadar ureum dan kreatinin darah mulai meningkat, menandakan ginjal juga terancam bahaya. Kondisi ini merupakan komplikasi pre-eklamsia dalam kehamilan yang dikenal sebagai HELLP syndrome (haemolysis, elevated liver enzyme, low platelet), kondisi perburukan yang mengharuskan pengakhiran kehamilan segera sebelum kondisi ibu menjadi lebih buruk karena kegagalan berbagai organ pentingnya.

Setelah melaporkan pada Konsulen Jaga saat itu, berdiskusi panjang lebar mengenai alternatif pilihan yang kami punya, maka akhirnya kami sepakat untuk menyarankan pengakhiran kehamilan pasien tersebut. Saat ini usia kehamilannya baru 24 minggu, setidaknya butuh 4 minggu lagi sampai fasilitas perinatologi kami sanggup merawat bayinya dengan survival rate yang baik. Jangankan menunggu 4 minggu, perburukan dan komplikasi lain sudah membayang untuk terjadi sewaktu-waktu dengan nyawa ibu sebagai taruhannya.

Setelah kupanggil suami pasien itu untuk masuk ke ruang rawat dan duduk di sebelah bed istrinya, Konsulen Jaga kami didampingi chief dan jaga utama kemudian menyampaikan kabar yang paling tak ingin didengar oleh pasangan malang itu. Breaking bad news seperti ini, lagi-lagi adalah bagian dari pekerjaan yang paling kubenci. Namun reaksi si pasien itu sungguh di luar dugaanku. Kupikir tadinya tentu dia akan menangis tersedu-sedu karena kesempatannya untuk menimang bayi harus hilang justru karena keselamatan jiwanya terancam bila kehamilannya dilanjutkan.

“Mungkin Yang Kuasa belum ngasih kepercayaan ya Dokter..? Saya ikhlas, bila memang itu yang terbaik... Tapi saya mau, biarpun harapannya kecil, bayi saya kalo dilahirkan nanti tetap ditolong maksimal ya Dokter. Sekarang juga saya mau tunggu obat pematangan parunya selesai sebelum dia dilahirkan. Biar nanti kalo saya dimintai pertanggungjawaban, saya bisa jawab bahwa saya udah usaha maksimal Dokter... Boleh kan begitu..??” jawabnya sambil menatapku lekat-lekat.

Hmmm...yang terbaikkah yang memang kami sarankan untuknya? Berat sekali mempertanggungjawabkan keputusan ini, apalagi pasien itu mempercayakan sepenuhnya keputusan dan nasib bayinya pada kami, pasrah bongkok'an orang Jawa bilang. Dia saja berjuang maksimal untuk keselamatan bayinya, meski nyawanya sendiri sudah di tepi jurang, sewaktu-waktu bisa tergelincir. Apakah kami juga sudah berjuang maksimal agar bisa mempertanggungjawabkan keputusan ini?

Dulu, ketika aku memutuskan untuk memilih obstetri dan ginekologi sebagai bidang yang ingin kudalami, aku selalu beranggapan bahwa profesi ini paling keren dibandingkan bidang lainnya. Betapa tidak, sekali kerja, 2 nyawa dapat tertolong sekaligus, nyawa ibu dan bayi. Tak pernah terpikir bahwa kadang harus membuat pilihan sulit ketika harus memilih mengorbankan salah satu demi menyelamatkan yang lain, atau justru malah 2 nyawa yang melayang.

Di bagian kami, dalam sebulan, setiap residen obgyn wajib melakukan 2 kali jaga di akhir pekan (belum termasuk 4 kali jaga di hari kerja). Jaga di akhir pekan adalah jaga panjang, dimulai dari pukul 8 pagi (pada praktiknya residen harus datang setidaknya pukul 6) dan diakhiri pukul 8 pagi keesokan harinya (umumnya molor sampai siang bila banyak pekerjaan yang belum terselesaikan). Sabtu itu adalah jadwalku untuk jaga di IGD sebagai chief. Aku datang lebih pagi hari itu karena Jumat sorenya ketika aku mampir ke IGD sebelum pulang, semua bed IGD terisi penuh dengan pasien-pasien risiko tinggi. Ditambah lagi, entah kenapa di hari jaga itu, mulai Konsulen Jaga, chief, sampai jaga utama ditempati oleh orang-orang yang dicap dan dikenal sebagai “pembawa pasien” dengan kasus-kasus aneh (memang klenik sih, tapi kebetulan di Sabtu itu kasus-kasus menantang menanti kami).

Begitu tiba, aku langsung mendata pasien-pasien risiko tinggi (kata-kata ini tentu bisa sangat relatif bagi tiap orang, definisi untukku adalah kondisi ibu yang bisa menyebabkan kematian). Setidaknya 3 pasien yang membuat produksi adrenalinku bertambah pagi itu, seorang perempuan yang hamil 16 minggu dalam kondisi keto-asidosis diabetikum, dirawat bersama sejawat Penyakit Dalam di ruang resusitasi IGD lantai 1. Kemudian satu pasien pre-eklamsi berat dengan edema paru akut, kondisinya belum begitu stabil setelah dilakukan seksio sesarea untuk melahirkan bayinya. Dan satu lagi seorang pasien baru yang tiba semalam, hamil 28 minggu dengan kondisi sesak dan sianotik (kebiruan), dicurigai akibat penyakit jantung yang belum diketahui detilnya.

Ketika operan dengan kolegaku, chief jaga semalam, dia menjelaskan sedikit riwayat pasien yang terakhir kusebutkan di atas. Pasien itu dirujuk oleh sebuah RSUD kota satelit ibu kota, yang juga mendapat rujukan dari seorang bidan desa. Pasien itu, berusia 21 tahun, hamil 28 minggu berdasarkan pemeriksaan sejawatku, dengan taksiran berat bayi kurang lebih 1000 gram saat ini. Dia tidak pernah kontrol kehamilan sebelumnya. Dia hanya pergi ke bidan 2 hari yang lalu karena merasa sangat sesak sampai tidak bisa bernapas. Pasien tersebut mengaku tidak pernah menderita penyakit jantung (mungkin lebih tepatnya tidak tahu karena memang tidak pernah periksa ke dokter). Namun dia mengaku bahwa bila beraktivitas sedikit berat seperti berjalan jauh, maka selalu merasa sesak dan biasanya orang-orang di sekitarnya mengatakan bibir dan mukanya tampak kebiruan. Kondisi tersebut sudah dideritanya sejak kecil, namun karena alasan biaya, kedua orang tuanya tidak pernah membawanya ke dokter atau rumah sakit. Clubbing finger di kedua tangannya cukup menjelaskan bahwa memang suatu kondisi penyakit jantung bawaan tipe sianotik mungkin menjadi latar belakang kondisinya sekarang.

Penyakit jantung yang sifatnya kelainan anatomis, kadang dapat dikompensasi oleh seseorang. Bila tidak melakukan aktivitas yang memaksa fungsi jantung maksimal, penderita kelainan jantung mungkin bisa hidup tanpa keluhan berarti (walaupun pada pasien ini ternyata keluhan sebenarnya sudah ada sejak kecil). Kondisinya akan sangat berbeda bila orang tersebut hamil. Dalam kehamilan, maka proses fisiologis seperti peningkatan jumlah cairan dalam tubuh, metabolisme dengan kebutuhan oksigen tinggi, dan lain sebagainya akan menuntut jantung bekerja ekstra. Beban jantung umumnya menjadi tidak bisa dikompensasi lagi dan muncullah berbagai keluhan seperti sesak. Tidak jarang, kondisi kelainan jantung baru diketahui saat hamil karena sebelum itu jantung dapat berkompensasi dan ketika hamil barulah jantung menyerah.

Ketika ronde pagi, kami bahkan tidak bisa mendekati bed pasien itu beramai-ramai. Pasien itu tampak gelisah dan ketakutan ketika kami kerumuni, dan karena monitor menunjukkan frekuensi jantungnya langsung meningkat drastis bila kami mendekat, maka kami menghindari hal tersebut agar jantungnya tidak semakin terbebani. Sungguh miris memandang pasien itu, tubuhnya kurus kering, tampak pucat kebiruan, sesak tersengal-sengal berusaha menghirup oksigen dari sungkup, namun saturasi oksigen yang terekam di monitor tak pernah lewat dari 78%. Yang menarik, saat itu kondisi bayi yang dikandungnya cukup baik. Pertumbuhannya sesuai dengan usia kehamilannya, dan rekaman jantung bayi baik menunjukkan oksigenasi baik meskipun jantung si ibu kesulitan mencukupi pasokan untuk dirinya sendiri.

“Jangan lupa kejar trainee dari PJT untuk segera datang dan melakukan echocardiography yaa..!!” instruksiku pada seorang junior yang sebelumnya kutugasi untuk menghubungi PJT (Pelayanan Jantung Terpadu, suatu unit tersendiri di rumah sakit kami yang menangani pasien-pasien dengan penyakit jantung). “Sudah saya telpon mbak, tapi kata orang administrasinya, pasien mesti bayar 600 ribu di muka, soalnya kan echo-nya mau dikerjakan di sini. Suami pasien belum datang, yang nunggu di depan itu cuma ibunya, ga punya uang sepeser pun...” jelas juniorku panjang lebar. Sambil tersenyum manis dan bernada merayu, kualihkan pandanganku pada seorang perawat senior IGD kami, “Kak, bantu urusin dong surat-surat pasien itu biar cepet beres. Mesti echo sekarang juga nih. Kalo enggak, kita ga bisa tau kondisi jantungnya dan mau diapain pasiennya nanti.” Umumnya, pasien tidak mampu bisa mendapat keringanan biaya pelayanan medis di rumah sakit kami asal surat-suratnya lengkap.

“Yaelah Dok, suaminya aja belum dateng... Boro-boro surat, KTP aja kagak punya tu pasien. Gimana mau bikin surat jaminan biar dapet keringanan?” jelas perawat itu sambil mengangkat bahu. Nah, biarpun ada mekanisme keringanan, tapi berbagai dokumen yang diminta umumnya sulit dipenuhi oleh pasien, termasuk KTP dan kartu keluarga. “Dia ga punya KTP Jakarta Dok, apalagi KK Jakarta. Dia aslinya dari kampung di Jawa. Pindah ke Bekasi karena ikut suaminya yang kerja jadi buruh pabrik di situ” sambungnya. “Jadi gimana dong, masak ga kita apa-apain pasiennya kalo ga punya surat-surat?”, tanyaku. Sambil mengangkat bahu, sejawat perawatku itu menjawab, “Ya mesti ngurus dululah KTP Jakartanya”. Halaaaahhhh, sampai lebaran kodok juga urusan birokrasi dan administrasi ini tidak akan beres. “Hubungi MOD aja kalo enggak Dok, tapi kayaknya dia belom datang sih jam segini kalo hari libur”, sambungnya untuk menelpon manager on duty rumah sakit kami yang biasanya tetap menyarankan jalur biasa untuk pengurusan surat-surat keringanan yang bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, or as long as needed.


“Na, udah kita urunan aja deh buat echo pasien itu ya. Tarikin semua anggota tim jaga iuran buat bayar ke PJT sekarang. Kalo udah terkumpul uangnya, jemput sekalian ke PJT alat echo dan trainee cardio-nya. Kita nggak punya banyak waktu ngurusin administrasi kayak gini. Waktu kita mending buat ngurusin pasien...” instruksiku pada juniorku yang tadi. Di antara residen di rumah sakit ini, residen obgin terkenal paling tak sabaran dan tak toleran dalam hal menunggu. Dan setiap 15 menit kemudian, aku selalu berkicau mengingatkan juniorku itu untuk tetap menelpon PJT karena dokter dan alat yang kami nantikan belum juga tiba. Bila kami tidak bisa menetapkan masalah apa yang diderita jantungnya, tidak banyak yang bisa kami lakukan bukan?

“Mbak, trainee cardio-nya udah datang tadi. Dia periksa, tapi dia bilang harus konsul dulu sebelum dia bisa jawab surat konsul kita...” lapor juniorku saat aku keluar dari kamar operasi setelah melakukan satu seksio. “Telpon lagi deh ke sana, bilang kita minta keputusan pasiennya harus diapakan? Harus diterminasi sekarang nggak kehamilannya? Terus mau diapain pasiennya?” seruku gemas. Untunglah sebelum kesabaranku habis, datang trainee senior cardio yang kemudian memeriksa ulang pasien itu dengan seksama.

“Prognosisnya buruk nih, Mbak...”, begitu kalimat pembukanya ketika aku dengan muka bertanya menanti trainee senior itu mengisi surat konsul yang kami kirimkan sejak pagi tadi. “Saya rasa ini ASD, tapi sudah sampe terjadi hipertensi pulmonal dan Eissenmenger syndrome. Susah ditentukan hanya dengan echo biasa, mesti TEE...”, jelasnya. ASD (atrial septal defect, ada celah pada sekat yang memisahkan kedua serambi jantung kiri dan kanan) adalah suatu kelainan bawaan, menyebabkan bercampurnya darah “bersih” dan darah “kotor” jantung, dan berkomplikasi tingginya tekanan darah di paru-paru yang menyebabkan jantung semakin sulit memompa darah ke paru-paru untuk mengambil oksigen yang masuk. Itulah sebabnya pasien itu tampak kebiruan, darah yang beredar di tubuhnya kurang mengandung oksigen, justru lebih kaya karbon dioksida. Rasanya tak mungkin juga melakukan TEE (trans esophageal echocardiography) pada pasien ini, kondisinya buruk dan tidak mungkin dimobilisasi.

“Jadi, mesti diapain nih kehamilannya Dok?”, tanyaku. “Hmmm, kalau sudah begini sih, kemungkinan survive nya saya rasa tak lebih dari 10%. Tidak hamil saja saya rasa segitu, kalau hamil ya Mbak tau sendirilah...”, jawabnya menggantung. “Ini baru 28 minggu Dok, beban cairan masih akan terus bertambah dan mencapai maksimal di 32 minggu kehamilan. Kalau misalnya dilahirkan, nanti back flow nya gimana?” jelasku, juga mengingatkan bahwa bila seorang ibu hamil melahirkan, maka sejumlah besar cairan yang mengalir dari rahimnya yang mengecil karena isinya sudah keluar semua akan mengalir balik ke jantung dan menjadi beban luar biasa secara tiba-tiba bagi jantung, dikenal sebagai back flow.

“Ya justru itulah mengapa saya bilang prognosisnya buruk. Mau ditunda atau dilahirkan sekarang, tidak ada pengaruhnya Mbak...” ujarnya kembali menggaris bawahi kalimat pembukanya tadi. “Saya rasa pasien ini harus dirawat di ICU Mbak, ga bisa di sini... Mesti diobservasi ketat”, jelasnya sambil menyerahkan jawaban surat konsul kami. “Bila perburukan sewaktu-waktu, saya rasa ada tempatnya bayinya segera dilahirkan untuk mempermudah resusitasi nantinya, walaupun mungkin komplikasi back flow akan sangat berat...” jelasnya yang membuatku semakin garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Akhirnya menjelang sore, suami pasien itu datang juga ke IGD. Rupanya, hari itu giliran shift nya sebagai sorang buruh pabrik kertas di suatu daerah industri, lumayan jauh dari rumah sakit kami. Aku memanggil suami dan ibu pasien itu untuk menerangkan kondisi istrinya itu. Aku yakin sangat sulit bagi mereka mencerna apa yang kujelaskan, namun ketika kujelaskan bahwa harapan hidupnya mungkin kecil mengingat kondisinya saat ini, dan kehamilan serta persalinan bisa membuat jantungnya berhenti bekerja sewaktu-waktu, suami dan ibu pasien itu tampak terkejut.

“Saya berani sumpah Dok, saya nggak tau istri saya punya sakit jantung... Kalo saya tau, dan tau bahwa istri saya itu sebenernya ga boleh hamil, pasti ga akan gini kejadiannya...”, jelas si suami dengan nada penuh penyesalan. “Saya percaya kok, Pak...Bukan salah Bapak, bukan salah siapa-siapa...”, jawabku berusaha menenangkan. Aku juga menenangkan si suami yang bingung ketika kumintai ijin mengirim istrinya itu untuk dirawat di ICU. “Aduh Dokter, ini aja saya cuma nitip KTP di kasir... Gimana kalo mau dirawat di ICU? Duit buat bayarnya dari mana entar?” tanyanya kebingungan dan panik. “Kami yang urus semuanya Pak..!!” jawabku meyakinkan. Aku sudah menelpon Koordinator Pelayanan Medik departemen kami dan bagian keuangan rumah sakit, meminta jaminan pelayanan untuk pasien itu. Jadi kami bisa fokus manangani masalah medis pasien dan menyerahkan urusan administrasi pada yang berwenang.

Begitu pasien itu dipindahkan ke ICU yang letaknya satu lantai di bawah IGD kami, aku langsung ikut turun ke bawah memastikan bahwa semua instruksi dari sejawat kardiologi sore tadi dijalankan semua di ICU. Ruang ICU memiliki fasilitas dan peralatan jauh lebih lengkap dibandingkan ruang rawat kami dan laboratorium juga berlokasi di lantai yang sama. Mereka memiliki mesin X-ray sendiri, sehingga pasien tidak perlu dimobilisasi ke departemen radiologi bila perlu dilakukan foto ronsen, seperti pasien tersebut. Mesin X-ray portable itu tinggal didorong ke atas bed pasien, dan pasien tinggal diposisikan untuk difoto.

Saat aku beranjak akan kembali ke lantai 3 tempat IGD obgin berada, tiba-tiba seorang perawat ICU memanggilku. Aku kembali ke bed pasien itu dan si pasien dengan nafas tersengal-sengal berkata dengan takut dan panik, “Saya ga mau dironsen, ronsen bisa bahaya buat bayi saya...!! Dokter, tolong bawa pergi alat ini, pokoknya saya ga mau dironsen...”. Susah payah aku menjelaskan padanya, “Ibu tenang aja, ronsen yang ini aman kok buat bayi ibu, kan dia udah cukup besar sekarang. Lagian dosis ronsen untuk foto dada aja aman kok. Ini demi keselamatan Ibu. Kami harus foto ronsen dada ibu supaya bisa lihat kondisi jantung dan paru-paru Ibu, dan kemudian mengobati Ibu”, bujukku. “Dokter bohong...!! Ronsen ini bahaya buat bayi saya. Pokoknya saya nggak mau dironsen. Biarin saya ga usah diobatin, biarin saya mati, asal bayi saya selamat...” lanjutnya lagi terbata-bata dan tersengal-sengal. Monitor di sebelah pasien itu mulai mengeluarkan bunyi alarm berisik karena frekuensi nadi yang terekam mulai meningkat dan saturasi oksigen pasien itu semakin menurun. Melihat gelagat buruk di monitor, akhirnya aku memberi isyarat petugas radiologi ICU memindahkan lagi alat X-ray dari bed pasien itu dan mengikuti permintaannya. “Baiklah, tidak usah ronsen sekarang Bu. Ibu istirahat saja dulu di sini ya...”kataku mengakhiri perdebatan agar jantung pasien itu tidak gagal sekarang gara-gara bekerja ekstra memompakan oksigen hanya demi berdebat menolak pemeriksaan ronsen dada (walaupun kami sangat membutuhkan pemeriksaan tersebut untuk mengevaluasi kondisi jantung dan paru-parunya).

Pasien dengan ASD berkomplikasi hipertensi pulmonal dan sindrom Eissenmenger yang bisa hamil sampai usia kehamilan cukup besar seperti pasien ini sangat jarang. Di tempat kami yang rujukan nasional saja, hanya pernah ada 3 atau 4 kasus dalam 5 tahun terakhir, dan semua berakhir dengan kematian ibu. Satu kasus ketemui sendiri 1 tahun sebelumnya. Waktu itu pasiennya datang dengan hamil cukup bulan dan sudah masuk dalam fase aktif persalinan. Seketika itu semua tim lengkap dari obgin, kardiologi, anestesi bersiap siaga mendampingi proses persalinannya secara painless labour. Kondisi masih terkontrol sampai saat bayi dilahirkan dengan ekstraksi forseps, kemudian plasenta dilahirkan secara manual. Begitu plasenta lahir dan rahim berkontraksi baik menyetop aliran darah, maka proses back flow dimulai. Dalam hitungan detik saturasi oksigen pasien itu terus menurun dan walaupun kolega anestesi dan kardiologi melakukan semua yang mereka bisa, saturasi terus menurun. Tak kurang dari 5 konsultan dan 10 residen obgin, anestesi, dan kardiologi, tak bisa berbuat banyak menaikkan saturasi oksigen dan membuat jantung pasien itu berdenyut. The nature took it course, dan pasien itu meninggal di hadapan kami semua sepuluh menit setelah melahirkan bayinya yang sehat dan menangis kuat.

Saat berdiskusi dengan kolegaku sejawat perinatologi mengenai kemungkinan survival bayi pasien itu yang saat ini berusia 28 minggu dan taksiran beratnya sekitar 1000 gram, sejawatku menyatakan chance bayi itu cukup baik untuk bisa hidup bila memang dia tak berada dalam kondisi hipoksia saat ini dalam rahim. Well, sulit untuk mengatakan demikian, sang ibu saja sudah jelas hipoksia. Tentu janin yang dikandungnya juga demikian adanya karena toh dia mengandalkan pasokan oksigen dari ibunya. Sempat terlintas untuk melahirkan saja janinnya sekarang sebelum kondisi hipoksia berkepanjangan terjadi pada janinnya, mungkin si bayi bisa ditolong, sedangkan si ibu seperti sudah dibahas sebelumnya hanya memiliki chance kecil untuk bisa survive, regardless of when and what would be done. Tapi tentu ini menyalahi diktum obstetri, di mana keselamatan ibu selalu didahulukan daripada janin yang dikandungnya. Melahirkan bayinya sekarang ibarat membuka pintu bendungan dan menginisiasi banjir bandang yang meluluh-lantakkan jantung pasien itu.

Akhirnya malam itu dilewatkan dengan status quo untuk pasien tersebut. Kondisinya tetap sama sampai keesokan harinya. Kami merencanakan suatu urgent clinical meeting bersama kardiologi, anestesi, dan perinatologi untuk membahas bersama apa yang terbaik untuk dilakukan terhadap pasien tersebut. Namun sayang, kemudian aku mendapat berita dari tim jaga selanjutnya bahwa kondisi pasien itu tiba-tiba memburuk di ICU. Dilakukan operasi seksio sesarea emergency untuk mempermudah resusitasi ibu. Ternyata bayinya juga telah mengalami hipoksia berkepanjangan dan tidak dapat ditolong lagi. Sedangkan jantung sang ibu menyerah pada back flow pasca persalinan tidak lama setelah operasi, seperti sudah kami duga sebelumnya. Kembali terlintas di benakku, kalau saja kami langsung lahirkan bayinya malam itu, mungkin si bayi masih dapat ditolong dan keinginan si ibu untuk menukar nyawanya demi si bayi dapat terpenuhi.

Aku yakin pasien itu tak pernah melafalkan sumpah “Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan” seperti kami para dokter. Tapi mungkin sumpah itu otomatis mengalir dalam pembuluh nadi setiap calon ibu, selalu terhirup dalam setiap tarikan nafas perempuan yang bercita-cita menimang bayinya.

Watford, 24 Desember 2012

*untuk Ibuku, perempuan sederhana berhati baja, pembakar tungku semangat, pengalir kasih tak mengharap pamrih...yang hari ini genap berusia 58 tahun